Nasib Sial Giuseppe Rossi

Pada 3 April 2017, seorang penyerang Italia yang telah lama tak terdengar kabarnya, tiba-tiba saja jadi bahan pembicaraan kembali. Namanya Giuseppe Rossi. Mantan wonderkid Italia tersebut berhasil membuat kejutan dengan mencetak hat-trick saat Celta Vigo mengalahkan Las Palmas 3-1. Itu adalah hat-trick pertamanya di La Liga Spanyol.

Memang, kadar pemberitaannya masih kalah bila dibandingkan dengan penerusnya sebagai wonderkid Italia saat ini, Andrea Belotti. Wajar, musim ini Belotti rajin mencetak gol, diandalkan di timnas Italia, dan menjadi top skor sementara Serie A sejauh ini.

Sedangkan bagi Rossi, hat-trick yang ia bukukan itu baru menggenapkan catatan golnya menjadi 4 di musim ini. Namun, ada sedikit harapan yang muncul, bahwa di sisa musim ini, Rossi akan berusaha untuk menaikkan namanya lagi, yang tenggelam akibat cedera panjang.

Sialnya, petaka cedera masih belum mau lepas dari Rossi. 6 hari setelah mencetak hat-trick, ia malah harus meninggalkan lapangan sebelum babak pertama berakhir. Melawan Eibar di pekan 31 La Liga, Rossi yang dipasang sejak menit pertama oleh pelatih Eduardo Berizzo harus keluar di menit 35 karena menderita cedera lutut kiri. Ia pun terlihat menangis saat duduk di bangku cadangan, tak lama setelah diganti.

Rossi @Matte_Moretto
Rossi terjatuh saat melawan Eibar. (Foto: @Matte_Moretto)

Sejauh ini belum jelas berapa lama ia akan absen*, namun hal ini jelas membuat dirinya terpukul. Sudah beberapa kali perjalanan karir Rossi harus terhambat karena cedera, bahkan membuatnya tak dilirik lagi oleh klub-klub besar, yang di masa mudanya dahulu begitu antusias memburu tanda tangannya. Dan kali ini, di Celta, saat ia hendak memperbaiki karirnya, cobaan tersebut datang lagi.

(Mantan) striker subur Italia

Sedih rasanya menyebut subjudul diatas dengan tambahan kata ‘mantan’. Namun memang dahulu ia digadang-gadang seperti itu. Apalagi, hal tersebut bukan omong kosong jika melihat kemampuan dan catatan penampilannya.

Memulai karir profesionalnya bersama Manchester United dan sempat dipinjamkan ke Newcastle selama setengah musim, ia justru mulai bersinar kala dipinjamkan ke Parma, juga selama setengah musim di tahun 2007. Namun dalam kurun waktu yang singkat tersebut, ia berhasil mencetak 9 gol dalam 19  partai Serie A. Ia baru berusia 20 tahun saat itu. Catatan itu membuat Villarreal pun akhirnya kepincut unuk membelinya dari Red Devils.

4 musim pertama Rossi di Villarreal berjalan manis. Catatan golnya selalu diatas dua digit. Bahkan di musim 2010-11, Ia berhasil mencetak 32 gol dari 56 partai di seluruh kompetisi. Di periode ini pula, ia mendapat julukan Pepito karena catatan golnya yang subur di La Liga.

Selama 5 setengah musim membela The Yellow Submarine, ia berhasil mencatat 82 gol dari 192 penampilan. Tak cukup bagus bila dibandingkan dengan raihan Lionel Messi yang seumuran dengannya, namun bila mengingat ia bermain untuk Villarreal, tentu perbandingan itu menjadi tak penting. Orang tetap akan menyebutnya sebagai salah satu striker kelas atas di Eropa.

Setelah dilepas Villarreal ke Fiorentina pun Rossi tetap menunjukkan dirinya masih tajam, meski cedera panjang membuatnya lama tak bermain. Bahkan klausul pelepasan yang dibuat Fiorentina pun dipatok sebesar 35 juta Euro. Cukup tinggi untuk penyerang yang dilabeli ‘kaki kaca’.

Musim penuh pertamanya (2013-14) bersama La Viola juga tergolong cukup baik sebenarnya. Ia mencetak 16 gol dari 21 partai Serie A, termasuk mencetak hat-trick dalam 14 menit saja saat mengalahkan rival abadi Fiorentina, Juventus dengan skor 4-2 di stadion Artemio Franchi. Betapa dicintainya ia oleh suporter Fiorentina setelah itu. Sudahlah rajin mencetak gol, berhasil membantai Juventus pula.

l43-giuseppe-rossi-esulta-131020180429_big
Buffon aja ga bisa menahan hat-tricknya. (Foto: calciogazzetta.it)

Sayangnya, itulah musim terakhir para suporter bisa benar-benar melihat kehebatannya. Setelahnya, karirnya merosot tajam karena cedera. Fiorentina sempat meminjamkannya ke Levante, dan kini ke Celta. Namun, sejauh ini Rossi yang dulu menakutkan di depan gawang lawan belum lagi terlihat. Catatan golnya juga menurun jauh. Jumlah gol sebanyak dua digit tak pernah lagi digapainya.

(Mantan) striker masa depan Gli Azzurri

Kata ‘mantan’ yang berikutnya, yang makin membuat kisahnya terdengar pedih. Namun memang seperti itu juga kenyataannya.

Tahukah kalian, saat ia belum menjadi siapa-siapa di tanah Italia, ia sudah ditawari oleh pelatih Amerika Serikat, Bruce Arena, untuk mengikuti pemusatan latihan jelang Piala Dunia 2006. Padahal kala itu ia masih menjadi cadangan di United.

Ya, Rossi yang lahir di negara bagian New Jersey memang memenuhi syarat untuk membela The Yanks. Namun ia menolak tawaran itu karena di masa depan, ia ingin membela Gli Azzurri, negara kelahiran kedua orang tuanya.

Kesempatan itu datang kala ia bermain gemilang bersama Villareal. Marcello Lippi pun memanggilnya ke timnas senior Italia pada akhir tahun 2008. Sebuah cita-cita yang menjadi kenyataan. Sebelumnya, ia telah membela timnas Italia U-23 di Olimpiade Beijing. Di turnamen multicabang tersebut, ia menjadi top skor dengan torehan 4 gol, mengalahkan pemain-pemain muda bersinar lainnya saat itu, seperti Angel Di Maria, Lionel Messi, Sergio Aguero, Alexandre Pato, hingga Mousa Dembele.

Sejak dipanggil oleh Lippi, ia menjadi rutin dipanggil masuk Gli Azzurri, termasuk diikutsertakan ke Piala Konfederasi 2009. Di ajang tersebut, meski Italia tersingkir di fase grup, ia berhasil mencetak dua gol saat mengalahkan AS, negara kelahirannya, dengan skor 3-1.

Sempat ditinggalkan saat Piala Dunia 2010 (meski masuk daftar skuad sementara), ia kembali menjadi andalan pelatih Italia berikutnya, Cesare Prandelli. Ia pun sempat merasakan menjadi kapten timnas saat melawan Rumania di partai persahabatan pada 17 November 2010. Selama 4 tahun Prandelli menjabat, Rossi dianggap sebagai salah satu pemain yang diperhitungkan untuk masuk timnas. Sayang, cedera menghambatnya untuk berpartisipasi di Euro 2012 maupun Piala Dunia 2014.

Selama babak kualifikasi Euro 2012, ia sempat menjadi striker andalan tmnas Italia bersama Mario Balotelli. Ia bermain dalam 7 partai kualifikasi, dari total 10 partai. Sebelum Piala Dunia 2014, ia juga sempat masuk skuad sementara timnas yang akan dibawa ke Brazil, meski baru sembuh akibat cedera panjang. Namun akhirnya ia hanya menjadi penonton di dua kejuaraan tersebut.

Ia belum sembuh dari cedera ligamen lutut kanan saat Euro 2012 dimulai, dan ketika menjelang Piala Dunia 2014 dimulai, ia termasuk pemain yang dicoret oleh Prandelli dari skuad karena dianggap belum fit. Sejak saat itu, tak pernah ada lagi panggilan dari Gli Azzurri untuknya. Catatannya bersama timnas terhenti di angka 30 caps dan 7 gol.

‘Bersahabat’ dengan cedera

Kisah buruknya ini mulai mengganggunya saat membela Villareal di musim 2011-2012. Saat melawan Real Madrid pada 26 Oktober 2011, ia menderita cedera ligament lutut kanan yang membuatnya absen selama 6 bulan. Malang tak dapat ditolak, ia pun kembali menderita cedera yang sama kala menjalani sesi latihan pada 13 April 2012, yang membuat harus absen lama dan melupakan mimpinya bermain di Euro 2012, dimana Italia menjadi runner-up.

Rossi dilepas ke Fiorentina pada awal Januari 2013 dalam kondisi belum sepenuhnya pulih. Ia pun baru memulai debutnya bersama La Viola pada 21 Mei 2013, di pekan terakhir Serie A 2012-13 melawan Pescara. Bayangkan, ada jarak sebesar hampir 19 bulan antara melawan Madrid dan Pescara!

Meski dianggap melakukan perjudian besar saat merekrut Rossi, Fiorentina berhasil meredam keraguan banyak pihak. Pasalnya Rossi berhasil bermain baik di awal musim 2013-14. Bahkan ia sempat menjadi top skor sementara Serie A dengan 14 gol dalam 18 pertandingan. Ia juga sempat melakoni dua partai bersama timnas Italia.

Sayangnya, di partai pekan ke 18 (5 Januari 2014) itulah ia kembali mengalami cedera di lokasi yang sama, lutut kanan. Ia ditekel dari belakang oleh bek Livorno, Leandro Rinaudo. Cedera itu membuatnya absen di 17 partai Serie A. Pada 3 Mei, ia baru bermain kembali, tepatnya saat melawan Napoli di final Coppa Italia. Fiorentina kalah 3-1.

Namun di 3 partai sisa Serie A, Rossi juga diberi kesempatan bermain oleh pelatih Fiorentina saat itu, Vincenzo Montella. Ia bahkan mencetak dua gol dan menutup musim dengan catatan 16 gol di Serie A. Harapan untuknya membela timnas Italia di Piala Dunia 2014 kembali muncul. Apalagi ia juga masuk daftar skuad sementara.

Namun, pemanggilan itu sebenarnya hanya formalitas saja. Sejak awal, ia sudah hampir pasti dicoret oleh Prandelli. Hanya saja, Prandelli masih ingin melihat penampilannya selama latihan dan partai ujicoba sebelum benar-benar mencoretnya. Dan benar saja, latihan itu tak berpengaruh apa-apa bagi Prandelli. Rossi tetap dicoret.

Nasib sialnya tak berhenti disitu. Saat latihan pada bulan Agustus 2014, Rossi kembali menderita cedera, lagi-lagi di lutut kanan. Yang ini bahkan membuatnya absen sepanjang musim 2014-15.

Namun, ternyata Rossi masih memiliki peminat, yaitu Levante dan juga Celta Vigo. Ia pun akhirnya berturut-turut dipinjamkan ke sana. Apalagi Fiorentina di bawah kendali Paulo Sousa kelihatannya sudah tak memerlukannya. Di dua klub tersebut, Rossi pun masih bisa diandalkan. Terlepas dari catatan golnya yang sedikit bersama kedua tim tersebut, namun ia berhasil nyetel dengan permainan Levante dan Celta.

Sayang, partai melawan Eibar akhir pekan lalu bersama Celta harus berakhir tragis. Sang cedera, yang sudah ia hindari selama hampir dua musim, mengajak bertemu kembali. Kali ini di lutut kirinya.

Rossi 2 @Matte_Moretto
Menangis setelah diganti saat melawan Eibar. (Foto: @Matte_Moretto)

***

Entah apa penyebab Rossi selalu mengalami cedera yang parah. Apakah memang kondisi fisiknya yang bermasalah, penanganan cedera yang tak tuntas, atau mungkin porsi latihan yang tak cocok untuknya. Tercatat sudah 5 cedera lutut yang ia alami selama 6 tahun terakhir, dan membuatnya absen di banyak pertandingan.

Cederanya pun benar-benar menutup talentanya. Seandainya ia sehat terus, mungkin saja ia menjadi andalan timnas Italia sampai saat ini. Ia mungkin juga bermain di klub yang lebih besar dari Celta, dan tetap menjadi striker predator yang diawasi ketat oleh lawan di setiap pertandingan.

Namun kisah itu tak terjadi. Kini, yang ada hanyalah Rossi yang berkutat dengan cedera. Sekarang kita hanya bisa berharap, semoga cedera yang satu ini adalah yang terakhir baginya. Semoga, setelah ini ia bisa memulai karirnya lagi dan menjadi striker yang tajam, dimanapun ia bermain nantinya. Di usia yang masih berusia 30 tahun, masih ada harapan baginya untuk memperbaiki karirnya dan meraih gelar yang selama ini jauh dari jangkauannya. Kita doakan saja.

Cepat sembuh Pepito!

*Berdasarkan laporan ItalianFootballTV, Rossi akan absen selama 7 bulan karena cedera ligamen. Lagi.

Featured Image : bleacherreport.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s