Serba-Serbi Marquee Player

Marquee player menjadi topik yang hangat untuk dibicarakan selama sebulan terakhir, terutama sejak kedatangan Michael Essien ke Persib Bandung. Berbagai situs olahraga nasional tak mau ketinggalan memberitakan hal ini. Lingkup kajian pembahasannya pun luas. Mulai dari A sampai Z yang terkait dengan marquee player tak pernah luput dari pemberitaan, termasuk komentar-komentar dari pemain, pelatih, manajemen klub, operator Liga 1, jurnalis, dan tidak lupa, PSSI.

Namun, asal muasal terciptanya aturan marquee player ini belum pernah dijelaskan langsung oleh pihak PSSI secara runut. Pada acara Forum Diskusi Bola bertema ‘Plus Minus Regulasi Baru Kompetisi Khususnya Marquee Player’ yang diselenggarakan oleh Tabloid BOLA di Jakarta pada 11 April 2017 lalu, barulah wakil ketua PSSI, Pak Joko Driyono, menjelaskan lebih rinci.

Ia mengatakan bahwa peraturan ini memiliki latar belakang industri di sepakbola dan berawal dari penerapan salary cap yang bertujuan agar klub bisa menjaga stabilitas keuangannya dan tidak ada potensi munculnya kondisi ‘besar pasak daripada tiang’.

“(Namun) Kita (PSSI) juga ingin bahwa salary cap is not the future for football, karena competitiveness-nya menjadi semu, karena semua orang dianggap memiliki kemampuan yang sama karena dibatasi oleh rambu-rambu untuk bisa berkompetisi tadi.”

“(Oleh karena itu) dibuka ruang lagi, yang namanya marquee player, karena klub harus tumbuh, tidak hanya sekedar menang, tapi juga (mengalami) untung dan rugi. Pertimbangan keolahragaannya menang dan kalah, pertimbangan bisnisnya untung dan rugi, sustainable, growth.”

Jokdri
Pak Joko saat menjelaskan pemaparannya. (Foto: koleksi pribadi)

Marquee player secara harafiah maknanya adalah player yang punya dampak market, sehingga pertimbangan mengambil pemain tambahan harus memiliki dampak market kepada klub dan kepada liga secara keseluruhan.”

“PSSI, lagi-lagi, tetap ingin menjaga tidak hanya sekedar menchandising-nya terjual jutaan, tidak sekedar setiap saat klubnya masuk TV, tapi juga punya keinginan agar quality of the game, kualitas liga, dan kualitas sepakbola (negara) ini di-improved dengan kedatangan marquee player.”

“Maka PSSI berdiskusi berhari-hari dengan memutuskan sangat cepat, ada tambahan lain disamping dampak market yang diukur oleh klub tadi, adalah kualifikasi pemain yang bersangkutan (terkait dengan kualitas).”

Begitulah pemaparan Pak Joko terkait munculnya aturan marquee player, tanpa saya ubah sedikitpun.

Kriteria Marquee Player

Seperti yang kita tahu, berdasarkan regulasi dan manual Liga 1 2017, kualifikasi marquee player adalah pernah bermain di salah satu dari 3 Piala Dunia terakhir (2006, 2010, dan 2014) atau pernah bermain di kasta tertinggi sepakbola di 8 negara Eropa dalam kurun 8 tahun terakhir (2009-2017). 8 negara Eropa yang disebut adalah Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Prancis, Turki, Belanda, dan Portugal. Tujuan adanya syarat ini agar marquee player yang didatangkan punya kualitas yang tak sembarangan.

michael-essien-persib
Michael Essien, memenuhi segala syarat sebagai marquee player. (Foto: persib.co.id)

Pemilihan 8 negara tentu juga menimbulkan pertanyaan baru. Fokusnya tertuju pada Liga Belanda dan Turki. Berdasarkan koefisien UEFA, kedua liga ini berada di luar peringkat 8 besar Eropa (Belanda di peringkat 13, Turki di peringkat 10), tidak seperti 6 liga yang lain.

Ketika ditanya apa pertimbangannya sehingga dua liga tersebut yang dipilih dalam persyaratan, Pak Joko menjawabnya dengan sedikit bercanda. Ia mengatakan bahwa yang jelas bukan karena sejarah hubungan Belanda-Indonesia dimasa lampau, juga bukan karena Turki adalah negara dengan mayoritas penduduk muslim layaknya Indonesia.

Namun ia menjelaskan (kali ini dengan serius), pemilihan ini berdasarkan hasil diskusi panjang dan berdasarkan data-data yang berasal dari The International Federation of Football History & Statistics (IFFHS) selama beberapa tahun terakhir. Namun, sayangnya Pak Joko tidak menjelaskan secara rinci apa yang dilihat dari data-data IFFHS tersebut dan bagaimana sistem pemilihan yang akhirnya mengerucut ke 8 negara tersebut.

Marketing yang berbenturan dengan kebutuhan teknis

Seperti yang dikatakan Pak Joko, tujuan didatangkannya marquee player adalah berkaitan dengan bisnis. Namun, harus diakui, memang sulit mengukur pengaruh seorang pemain terhadap pemasaran (marketing) sebuah klub di Indonesia.

Apalagi jika kita melihat pemain-pemain asing yang datang dengan status marquee player, tidak semuanya dianggap dapat menarik minat pasar. Michael Essien (Persib) dan Peter Odemwingie (Madura United) mungkin memang mampu menarik minat pasar jika acuannya adalah pamor mereka semasa bermain di Eropa dulu, namun bagaimana dengan pemain lain, seperti Jose Coelho (Persela Lamongan), Shane Smeltz (Pusamania Borneo), atau Wiljan Pluim (PSM Makassar)?

smeltz nydailynews
Pernah golin ke gawang Italia bukan jaminan dari kualitasmu, Smeltz. (Foto: nydailynews.com)

Selain itu, persyaratan yang tergolong ringan untuk marquee player pun membuat pemain yang berasal dari liga yang kualitasnya dipertanyakan pun bisa digolongkan sebagai marquee player, yang penting memenuhi syarat yang diberikan PSSI. Sebagai contoh, Jose Coelho hanya bermain 5 kali di liga Portugal di musim 2009-10, dan sudah masuk golongan yang sama dengan Essien. Edun.

Kondisi ini membuat banyak klub berbondong-bondong merekrut marquee player, namun yang sebenarnya dibutuhkan mereka adalah tambahan pemain asing untuk kebutuhan taktikal mereka. Yang dicari pun cukup yang murah saja, karena bisa dipastikan banyak sekali pemain asing yang masuk kriteria marquee player ini. Jika sudah begini, aspek marketing bisa dipastikan akan terabaikan. Bagaimana dengan sisi kualitas? Tak ada jaminan juga sebenarnya, karena tak semua pemain asing ini berstatus pemain papan atas di Eropa maupun dunia.

Akal-akalan marquee player

Saat ditanya mengenai potensi akal-akalan klub yang membeli marquee player dengan kualitas teknik dan daya tarik pasar yang dipertanyakan demi menambah kuota pemain asing, Pak Joko mengatakan bahwa PSSI akan berusaha untuk mengawasi ketat pemain-pemain asing yang didaftarkan sebagai marquee player, apakah mereka memenuhi kualifikasi atau tidak. Namun rasanya, semua pemain asing yang memenuhi syarat administrasi awal akan diloloskan, apalagi waktunya semakin mepet dengan dimulainya Liga 1.

jose_manuel_barbosa_alvesdokpersela-696x341netralnewsdotcom
Jose Coelho memenuhi syarat sebagai marquee player, secara administratif. (Foto: en.netralnews.com)

Sementara di tempat yang sama, manajer Madura United, Pak Haruna Soemitro, mengatakan bahwa akal-akalan ini akan terus terjadi, karena syarat yang diberikan memang ringan. Namun ia mengingatkan bahwa akal-akalan ini tidak hanya berlaku pada aturan marquee player, namun juga peraturan penggunaan pemain U-23 di pertandingan serta kebijakan-kebijakan lain di masa depan yang dibuat tanpa dasar yang kuat.

“Selama dasarnya tidak kuat dan jelas, maka akal-akalan ini akan terus dilakukan,” ujar Pak Haruna.

Selain itu, Pak Haruna juga mengatakan bahwa di luar negeri, marquee player didanai oleh operator kompetisi, bukan dari klub. Hanya saja, ia tidak menyebut liga mana yang jadi acuannya, apakah A-League (Australia), Major League Soccer (Amerika Serikat), Indian Super League (India), atau mungkin cabang olahraga lain yang juga menerapkan aturan marquee player.

Jika marquee player didanai oleh operator kompetisi, standar para pemain yang didatangkan akan lebih jelas. Dengan demikian kualitas para pemain yang datang bisa dibilang setara dan tidak terjadi ketimpangan antara marquee player satu klub dengan yang lainnya. Karena marquee player saat ini didatangkan dengan biaya klub, akhirnya muncul-lah akal-akalan ini.

***

Liga 1 sebentar lagi dimulai dan bursa transfer marquee player di Indonesia akan terus bergulir sampai 30 April nanti. Sejauh ini, kabar terbaru menyebut bahwa mantan pemain Juventus dan Liverpool, Mohamed Sissoko, sudah bergabung dengan Mitra Kukar.

Terlepas dari berbagai plus minus yang muncul dari aturan ini, yang terpenting adalah peraturan ini nantinya bisa semakin meningkatkan kualitas sepakbola nasional, bukan malah membuat nama sepakbola nasional menjadi heboh sesaat saja. Itu yang menjadi harapan kita semua.

PSSI pun harus menunjukkan kinerja yang baik dalam memverifikasi para marquee player ini untuk membuktikan bahwa peraturan yang mereka buat ini memang akan berdampak positif buat sepakbola nasional, baik dari segi keolahragaan maupun bisnis. Semoga saja mereka bisa melakukannya.

Piagam
Muka Pak Joko dan Pak Haruna begitu girang saat dikasih piagam. (Foto: koleksi pribadi)

*Tulisan ini merupakan hasil pengembangan dari apa yang didapat penulis selama menghadiri acara Forum Diskusi Bola bertema ‘Plus Minus Regulasi Baru Kompetisi Khususnya Marquee Player’ yang diadakan Tabloid BOLA pada 11 April 2017 lalu di Palmerah, Jakarta. Acara tersebut mengundang Pak Joko Driyono (Wakil Ketua PSSI) dan Pak Haruna Soemitro (Manajer Madura United) sebagai narasumber.

Featured Image : koleksi pribadi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s