Si Camar Yang Semakin Terbang Tinggi

17 April 2017 mungkin adalah salah satu hari terbaik bagi warga kota Brighton & Hove. Di hari itu, klub sepakbola kesayangan mereka, Brighton & Hove Albion berhasil mengukirkan catatan manis dalam sejarah persepakbolaan Inggris.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka berhasil menembus Premier League, kasta tertinggi sepakbola Inggris, dan akan berkompetisi di sana mulai musim 2017/18 mendatang. Kepastian itu didapat setelah The Seagulls (nama julukan mereka) berhasil mengalahkan Wigan Athletic di kandang mereka sendiri, The Amex Stadium, dengan skor 2-1  lewat gol yang dicetak Glenn Murray dan Solly March. Gol balasan Nick Powell tak mampu menahan Brighton & Hove untuk meraih kemenangan.

Albion
Merayakan promosi layaknya menonton Metallica di Stadion GBK! (Foto: seagulls.co.uk/Paul Hazlewood)

Setelah pertandingan berakhir, sebenarnya Brighton & Hove belum menyegel tiket promosi. Mereka harus menunggu hasil pertandingan antara Derby County melawan Huddersfield Town (peringkat 3 divisi Championship).

Bila Huddersfield gagal menang, barulah mereka bisa menggenggam tiket promosi secara langsung, karena dengan demikian poin mereka tak akan terkejar lagi oleh Huddersfield dan akan finished minimal di posisi kedua liga.

Dan ketika Derby berhasil menahan Huddersfield 1-1 hingga peluit panjang berbunyi, barulah teriakan kegembiraan itu benar-benar pecah. Ribuan suporter pun turun memenuhi lapangan Amex Stadium untuk merayakan kegembiraan itu bersama para pemain.

@OfficialBHAFC
Begitu banyak orang yang mengucapkan selamat pada mereka. (Foto: @OfficialBHAFC)

Sebenarnya, lolosnya mereka ke kasta tertinggi sepakbola Inggris kali ini bukanlah yang pertama kalinya. Dibawah kepemimpinan Mike Bamber sebagai chairman, mereka pernah berkiprah selama 4 musim (1979-1983) di Football League First Division. Namun sejak format Premier League dibentuk, inilah kali pertama mereka (akan) berpartisipasi. Dengan keberhasilan ini, mereka pun resmi menjadi klub ke 48 yang berhasil masuk Premier League.

Semua dimulai oleh Tony Bloom

Selama lebih dari dua dekade sejak terdegradasi ke Football League Second Division pada 1983, sepak terjang Brighton & Hove bisa dibilang biasa saja.

Rutinitas mereka hanyalah bolak-balik bermain di kasta kedua dan kasta ketiga sepakbola Inggris. Bahkan mereka sempat bertarung di Third Division (kasta keempat, sekarang namanya League Two) selama 5 musim (1996-2001) dan 2 kali hampir terdegradasi ke Conference Division (kasta kelima) pada akhir 1990-an.

Penurunan prestasi itu tak lepas dari masalah finansial yang mereka hadapi, sebuah permasalahan yang kerap dialami klub-klub di divisi bawah. Bahkan pada 1997 mereka harus menjual stadion mereka, Goldstone Ground, yang kini menjadi semacam retail park, untuk membayar hutang mereka.

Brighton onefootballcom.jpg
Girangnya Bloom sehabis timnya memastikan promosi. (Foto: onefootball.com)

Namun kondisi keuangan mereka perlahan menjadi lebih baik. Apalagi setelah Tony Bloom membeli 75% saham The Seagulls pada tahun 2009. Selama 8 tahun memimpin, ia sudah menghabiskan 250 juta Pounds, membantu pembangunan The Amex Stadium, dan juga membangun fasilitas latihan yang bagus di daerah Lancing, tak jauh dari kota Brighton & Hove. Semuanya demi kesuksesan klub asal selatan Inggris ini.

Pria berjuluk The Lizard ini memang orang yang sangat kaya. Ia adalah pebisnis properti, pemain poker terkenal, dan orang dibalik Starlizard, sebuah konsultan judi sepakbola ternama di Inggris.

Namun yang paling utama, Bloom adalah diehard fans Brighton & Hove sejak kecil. Layaknya Silvio Berlusconi yang merupakan fans fanatik AC Milan, begitu pula sikapnya pada The Seagulls. Apalagi kakeknya, Harry Bloom, merupakan mantan vice-chairman klub tersebut pada periode 1970-an. Bisa dibilang, ia lebih dari sekedar pebisnis yang mengakuisisi klub demi keuntungan semata. Ada hasrat seorang suporter untuk melihat klub tercintanya berprestasi lebih tinggi, yang muncul dalam diri Tony Bloom.

Perlahan naik kelas

Bersama Bloom, Brighton & Hove mulai menunjukkan keseriusan mereka untuk menjadi sebuah klub yang terus meningkat menjadi klub level atas, bukan lagi klub yo-yo. Klub pun dijalankan dengan baik oleh Bloom.

Saat dilatih Gustavo Poyet, The Seagulls berhasil memenangi gelar League One musim 2010-11 dan kembali ke divisi Championship. Sejak saat itu, Brighton & Hove tak pernah lagi menjejakkan kaki mereka di kasta ketiga sepakbola Inggris itu. Bahkan selama 5 musim sejak promosi dari League One, mereka sudah berhasil menembus babak play-off promosi sebanyak 3 kali (musim 2012/13, 2013/14, dan 2015/16). Sayang, mereka selalu gagal meraih tiket promosi ke Premier League.

Chris Hughton
Namamu akan tercatat abadi dalam sejarah The Seagulls, Mr. Hughton. (Foto: alchetron.com)

Namun di musim 2016/17 ini, berbekal dengan pengalaman kegagalan mereka di masa lalu, serta tangan dingin Chris Hughton yang menangani klub sejak 2014, mereka berhasil meraih tiket promosi langsung, tanpa embel-embel play-off. Apalagi mereka juga diperkuat pemain-pemain yang cukup berkualitas dan pernah bermain di Premier League, seperti David Stockdale, Steve Sidwell, Anthony Knockaert, dan sang penyerang tajam, Glenn Murray, yang sejauh ini sudah mencetak 22 gol dan 6 assist di Championship 2016/17.

Hughton pun merupakan sosok yang berpengalaman di sepakbola Inggris, utamanya Premier League, meskipun namanya tidak begitu mentereng. Ia pernah membawa Newcastle promosi ke Premier League pada tahun 2010, tergabung dalam tim pelatih Tottenham Hotspur (1993-2007, dua kali menjadi caretaker) dan menangani Norwich City di Premier League (2012-14).

Sejauh ini, Hughton memiliki kontrak sampai 2020. Ia pun akan diharapkan publik Brighton & Hove untuk menjadikan The Seagulls sebagai klub yang mampu bertahan lama di Premier League.

***

Sesudah meraih tiket promosi, Brighton & Hove Albion akan berjuang untuk mengakhiri musim sebagai juara divisi Championship. Mereka hanya butuh tambahan 3 poin lagi di tiga partai sisa (saat ini mereka mengumpulkan 92 poin). Sebuah hal yang kelihatannya tak akan sulit mereka dapatkan. Apalagi bila melihat pesaing terdekat mereka, Newcastle United sedang dalam performa negatif dalam 3 partai terakhir (poin maksimal Newcastle adalah 94 poin).

Menarik untuk melihat kiprah mereka di musim panas nanti, karena pastinya mereka akan berusaha memperkuat skuad mereka dalam mengarungi kerasnya Premier League, yang seringkali tak ramah pada klub promosi.

Namun saat ini, biarlah sang burung camar ini merasakan kembali nikmatnya terbang di langit tertinggi sepakbola Inggris.

Welcome to the Premier League, Brighton & Hove Albion. Good luck for next season.

*) Sayangnya mereka gagal menjadi juara divisi Championship karena hanya meraih 1 poin dalam tiga partai sisa. Sedangkan Newcastle mampu meraih 9 angka dalam 3 pertandingan sisa. Sehingga, pada klasemen akhir Championship, Newcastle berhasil memperoleh 94 poin, sedangkan Brighton & Hove hanya memperoleh 93 poin. Yah, setidaknya mereka sudah promosi.

Featured Image : premierleague.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s