Lyon dan Monaco, Harapan Prancis di Eropa

Ternyata kedua klub inilah yang kini memberi harapan kejayaan sepakbola Prancis di tingkat Eropa, bukan PSG.

Sejak diakuisisi oleh Qatar Sport Investments (QSI) pada 2011 silam, Paris Saint-Germain langsung mengubah peta kekuatan sepakbola Prancis. Sejak saat itu, sederet trofi domestik sudah mereka raih dengan rakusnya, membuat klub-klub lain hanya bisa iri. Yang terbaru, pada 1 April lalu mereka berhasil meraih trofi Coupe de la Ligue 2017 dengan mengalahkan AS Monaco di final.

Kehebatan PSG ini membuat sepakbola Prancis menggantungkan harapan pada mereka untuk bisa berprestasi di kompetisi Eropa, sebuah hal yang sangat sulit untuk dilakukan oleh klub-klub Prancis.

Bayangkan, mereka hanya pernah sekali menjuarai Liga Champions (1993 oleh Marseille), sekali menjuarai Piala Winners (1996 oleh PSG, dan kompetisi ini sudah defunct sejak 1999), dan tak pernah sekalipun menjuarai Piala UEFA/Europa League.

OM199293ChampionsLeague
Mereka yang pertama dan terakhir kalinya membawa trofi Liga Champions ke tanah Prancis. Familiarkah kalian dengan beberapa wajah? (Foto: om4ever.com)

Memang, klub-klub Prancis berhasil menjuarai Piala Intertoto (kompetisi ini sudah defunct pada 2008) sebanyak 16 kali, terbanyak diantara negara Eropa lainnya. Namun, jika mereka membanggakan hal ini, sudah dipastikan mereka akan jadi bahan tertawaan seantero Eropa.

Sayangnya, sampai sekarang PSG pun belum mampu menjuarai Liga Champions, kompetisi yang rutin mereka ikuti setiap musim sejak QSI menguasai klub ini. Prestasi mereka paling mentok hanya sampai perempat final.

Yang terbaru, mereka jadi bahan lelucon di Liga Champions musim ini setelah disingkirkan Barcelona di babak 16 besar dengan agregat skor 6-5. Padahal mereka sudah unggul 4-0 di leg pertama.

psg 2
Mereka belum menjadi contoh yang baik untuk sepakbola Prancis di kompetisi Eropa. (Foto: givemesport.com)

Namun, untuk musim ini, harapan untuk berprestasi di Eropa masih ada. Saat PSG tak bisa diandalkan, justru saingan mereka, AS Monaco dan Olympique Lyonnais, muncul memberikan harapan tersebut. Saat ini Monaco sudah menapakkan kakinya di semifinal Liga Champions, sedangkan Lyon berhasil menembus semifinal Europa League.

Muda, kuat, dan (siap) menguasai Eropa

Ya, kedua skuad ini berbeda dengan PSG yang mayoritas para pemain utamanya sudah bersinar di tempat lain. Les Monégasques dan Les Gones, masing-masing julukan mereka, mengutamakan banyak pemain muda yang dikombinasikan dengan beberapa pemain senior. Hal ini bisa dilihat dari rataan usia para pemain kedua tim. Monaco mempunyai rataan usia pemain 24,6 tahun, sedangkan Lyon mempunyai rataan usia pemain 24,4 tahun.

lyon worldfootballdotnet
Muda, beda, dan berbahaya. (Foto: worldfootball.net)

Rataan usia yang tergolong muda dan didukung fisik yang masih prima membuat permainan kedua tim cenderung cepat dan ofensif. Hal ini didukung catatan gol yang mereka ciptakan sejauh ini.

Hingga 22 April 2017, Monaco sudah berhasil menceploskan 141 gol dengan rataan 2,61 gol per partai. Kombinasi trio Radamel Falcao, Kylian Mbappe, dan Valere Germain sendiri sudah mencetak 67 gol. Sedangkan Lyon sudah berhasil mencetak 98 gol dengan rataan 2,04 gol per partai di seluruh kompetisi, dengan Alexandre Lacazette mencetak 31 gol diantaranya.

Khusus di kompetisi Eropa, Monaco sudah mencetak 28 gol dari 14 partai (Monaco bermain di Liga Champions sejak babak kualifikasi), sedangkan Lyon mampu mencetak 24 gol dari 12 partai (Lyon merupakan ‘pindahan’ dari Champions League). Bayangkan kedahsyatan serangan kedua tim ini yang rata-rata mampu mencetak 2 gol per partai. Untuk tim dengan rataan usia yang muda, catatan tersebut cukup mengagumkan.

1492639141964
49 gol sudah mereka cetak ke gawang lawan. Berkelas. (Foto: smh.com.au)

Hanya saja, bila dilihat dari segi pertahanan, mereka masih belum benar-benar tangguh. Rataan kebobolan mereka mencapai 1,12 (Monaco) dan 1,22 (Lyon) per partai. Monaco memang mampu mencatatkan 18 cleansheet dalam 54 partai di seluruh kompetisi, namun hanya 2 yang terjadi di Liga Champions. Total mereka sudah kebobolan 20 gol dari 14 partai di kompetisi ini.

Sedangkan 15 cleansheet yang dibuat Lyon dalam 48 partai di seluruh kompetisi, hanya 3 yang terjadi di Liga Champions/Europa League. Mereka juga sudah kebobolan 12 gol dari 12 partai di dua kompetisi tersebut. Ini menunjukkan bahwa kedua tim cukup kesulitan menjaga cleansheet di kompetisi tingkat Eropa. Memang, kualitas lawan di kompetisi Eropa tentunya jauh di atas Ligue 1 yang hanya bersifat domestik.

Namun dengan segala kelebihan dan kekurangan mereka, Monaco dan Lyon mampu melaju sampai babak 4 besar. Ini menunjukkan bahwa, meskipun mereka sering kebobolan, mereka mampu mencetak gol lebih banyak dan menang. Hal ini tentu menjadi fokus Juventus (lawan Monaco) dan Ajax Amsterdam (lawan Lyon) di babak semifinal nanti. Tugas berat sudah menanti mereka.

Mental juara yang terus dipupuk

Harus diakui, salah satu kekurangan tim yang berisikan pemain-pemain muda adalah mental juara yang seringkali belum terbangun dengan baik. Apalagi bila klub tersebut sudah lama tak meraih gelar. Hal ini pun dirasakan oleh Monaco dan Lyon. Gelar bergengsi terakhir yang mereka raih ‘hanyalah’ Ligue 2 (Monaco, tahun 2013) dan Coupe de France (Lyon, tahun 2012).

Ini tentu bukanlah sebuah keuntungan, khususnya buat Monaco. Lawannya, Juventus, adalah raja di Italia selama setengah dekade terakhir dan sangat ambisius  mengejar gelar Liga Champions. Dalam 2 dekade terakhir, mereka sudah 2 kali disingkirkan Juventus di fase gugur Liga Champions.

Monaco+FC+v+Juventus+UEFA+Champions+League+XGM3nJJpskll
Monaco punya kenangan buruk melawan Juventus di Liga Champions. (Foto: zimbio)

Sementara Lyon, yang melawan Ajax, sedikit memiliki keringanan, apalagi bila melihat rataan usia pemain Ajax yang lebih muda (22,2 tahun). Namun, Ajax tetaplah Ajax, sebuah klub yang dibangun untuk menjadi juara, yang tak pernah kekurangan bakat-bakat jagoan. Mereka juga lebih sering mengalami persaingan merebut gelar di kancah domestik ketimbang Lyon.

Spain Soccer Champions League
Lyon belum pernah lolos dari babak semifinal sepanjang keikutsertaan mereka di kompetisi Eropa. (Foto: dailymail)

Meskipun begitu, sangat konyol bila melupakan peran para pemain senior kedua tim yang tentunya sudah kenyang pengalaman dan pernah merasakan gelar juara. Ada Radamel Falcao, Andrea Raggi, Joao Moutinho, Morgan De Sanctis, hingga Danijel Subasic yang sudah terbiasa bermain di level tertinggi, yang tentunya mampu memotivasi para pemain muda Monaco.

Begitu juga di kubu Lyon. Masih ada Maxime Gonalons, Christophe Jallet, Anthony Lopes, hingga duo Alexandre Lacazette dan Memphis Depay, yang meskipun masih muda namun sudah pernah merasakan gelar juara.

Pengalaman semua pemain yang disebutkan tadi tentu bisa menjadi faktor pembeda yang membuat kedua tim bisa termotivasi dan menjaga mimpi mereka meraih gelar di akhir musim.

getty
Jardim (kiri) dan Genesio, punya kesempatan meredam kedigdayaan Spanyol di kompetisi Eropa. (Foto: getty images)

Yang paling penting, jangan lupakan juga peran Leonardo Jardim (Monaco) dan Bruno Genesio (Lyon) sebagai manajer tim. Kejeniusan mereka-lah yang berhasil memadukan tim dan membawa Monaco dan Lyon masuk babak 4 besar di kedua kompetisi paling bergengsi di Eropa ini.

***

Kedua tim ini pasti sadar ujian berat sudah menanti mereka di babak semifinal. Monaco perlu mewaspadai kehebatan Juventus yang sejauh ini hanya kebobolan 2 gol dalam 10 partai di Liga Champions. Jangan lupakan juga bahwa Barcelona yang hebat itu pun tak bisa menjebol gawang mereka sama sekali di perempat final.

Begitu juga Lyon yang harus mewanti-wanti kehebatan Ajax, yang mampu menyingkirkan tuan rumah Schalke 04 di perempat final Europa League dengan cara yang dramatis. Mereka bahkan sudah bermain dengan 10 orang kala itu.

Namun dengan hasil positif yang sudah ditunjukkan Monaco dan Lyon selama ini, tentunya mereka optimis jika laju mereka tak akan berakhir sampai di sini. Kedua tim pasti menginginkan trofi juara Liga Champions dan Europa League untuk dibawa pulang ke kandang mereka masing-masing, sekaligus mengangkat nama sepakbola Prancis di mata publik sepakbola Eropa.

*) Sayangnya, kedua tim gagal melaju ke final. Monaco disingkirkan Juventus dengan agregat 1-4, sedangkan Lyon kalah agregat 4-5 dari Ajax. Selamat mencoba lagi musim depan.

Featured Image : lg1.fr

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s