Hikayat Substitusi Keempat

23 April 2017. Semifinal Piala FA 2016-17. Arsenal berhadapan Manchester City di Wembley Stadium. Di menit 105, dalam keadaan tertinggal 1-2, manajer City, Josep Guardiola memasukkan Kelechi Iheanacho untuk menggantikan Raheem Sterling.

Guardiola melakukan itu untuk mempertajam serangan, selain juga untuk menambah amunisi baru yang masih segar di lapangan. Dengan 15 menit yang tersisa, Guardiola menghabiskan jatah 4 pergantian pemain demi bisa menyamakan kedudukan.

Meski sudah melakukan pergantian pemain yang keempat dan berhasil melesakkan 6 tembakan (sayangnya tak ada yang tepat sasaran) di 15 menit terakhir, skor tak berubah dan City harus merelakan satu slot di final Piala FA musim ini untuk Arsenal.

Dari FA untuk Piala FA

Anda merasa aneh membaca tentang pergantian keempat? Ini bukan lelucon kok, tenang saja. Bila kalian menonton pertandingan tadi malam dan mungkin sudah mengetahui hal ini sebelumnya, pasti tak akan merasa aneh.

Namun bagi yang belum tahu sama sekali dan merasa heran, pasti akan bertanya-tanya. Mereka yang sangat penasaran mungkin sampai me-mention akun-akun twitter terkait sepakbola untuk segera mencari tahu jawabannya. Yap, pergantian pemain keempat ini merupakan aturan baru yang dibuat pada tahun 2016, dan baru diujicobakan oleh Football Association (FA, PSSI-nya Inggris) di Piala FA musim ini.

Iheanacho full-matchescom
Ia masuk sebagai fourth substitution. (Foto: full-matches.com)

Peraturan ini dibuat bukan tanpa pertimbangan. Chief Executive FA, Martin Glenn, menyebutkan bahwa meskipun Piala FA sudah memiliki sejarah dan tradisi yang bagus selama ini, namun segala hal yang diperlukan untuk membuat kompetisi semakin menarik tentu akan terus dipertimbangkan oleh FA.

Glenn juga menyebutkan, aturan ini dipengaruhi format baru Piala FA musim ini yang menghapus aturan tanding ulang (replay) sejak babak perempat final, bila skor tetap imbang di waktu normal. Maka agar kualitas pertandingan tetap terjaga saat memasuki perpanjangan waktu, masing-masing manajer diperbolehkan untuk melakukan 4 pergantian pemain.

Jatah empat pergantian pemain ini diharapkan FA bisa memudahkan para manajer tim dalam merancang strategi baru di lapangan, sehingga level pertandingan justru akan semakin menarik saat memasuki babak perpanjangan waktu. Ya, pergantian keempat ini hanya bisa dilakukan di babak perpanjangan waktu, sedangkan tiga lainnya bisa dilakukan kapan saja.

Sejauh ini, baru Iheanacho-lah pemain yang masuk sebagai fourth substitution di Piala FA, karena sejak perempat final baru partai Arsenal-City saja yang harus diselesaikan lewat perpanjangan waktu. Meski demikian, hanya Guardiola yang mengambil kesempatan ini pada pertandingan kemarin. Arsene Wenger, manajer Arsenal, hanya melakukan 3 pergantian pemain saja.

FBL-WCLUB-2016-KASHIMA ANTLERS-REAL MADRID
Sejarah pergantian pemain keempat dimulai di sini. (Foto: 90min.com)

Sekedar info, aturan ini sudah pernah dicoba di Piala Dunia Antarklub 2016 lalu, dan Alvaro Morata adalah pemain pertama yang masuk sebagai fourth substitution, menggantikan Cristiano Ronaldo.

Demi sepakbola Inggris

Aturan baru ini, termasuk dihapusnya replay sejak babak perempat final, memiliki tujuan utama yang tak kalah pentingnya, yaitu demi kebaikan sepakbola Inggris.

“Keselamatan pemain dan kesadaran akan (banyaknya) jumlah pertandingan yang dimainkan di level tertinggi juga menjadi dasar pertimbangan (dibuatnya aturan ini),” ujar Glenn.

martin-glenn-new-fa-ceo
Martin Glenn, ingin agar kualitas pertandingan di Piala FA tetap tinggi. (Foto: thefa.com)

Ya, aturan ini diharapkan bisa mengurangi kepadatan jadwal pertadingan yang dilakoni pemain-pemain yang bermain di klub-klub Inggris, sehingga mereka tak didera kelelahan yang luar biasa.

Memang, sepakbola Inggris terkenal dengan jadwalnya yang se-abreg, terutama untuk klub-klub besar. Belum lagi tambahan tekanan dari media dan suporter, tentunya semakin membuat fisik dan mental pemain terkuras.

Dengan berkurangnya kepadatan jadwal pertandingan, diharapkan kondisi fisik para pemain, terutama yang berasal dari Inggris, bisa tetap terjaga sampai akhir musim.

Bila sudah begitu, manajer timnas Inggris bisa mendapatkan kemudahan dalam memilih pemain-pemain yang fit untuk dibawa ke kejuaraan besar yang biasanya berlangsung di musim panas. Bila pemain-pemain yang masuk skuad berada dalam kondisi prima, diharapkan timnas Inggris bisa berprestasi pula.

Perbandingan dengan Indonesia

Kondisi yang terjadi di FA ini mengingatkan kita pada rencana PSSI yang menginginkan adanya 5 pergantian pemain di Liga 1 tahun ini. Di negara kita, ribut-ribut langsung muncul sewaktu wacana ini dikemukakan PSSI.

Namun FA dengan kalemnya bisa menerapkan aturan ini, dan tampaknya tak ada kontroversi yang muncul, setidaknya bila melihat berita-berita yang ditulis berbagai situs lokal Inggris seperti telegraph, the sun, BBC, mirror, maupun daily mail.

Jika kita teliti lebih dalam, pergantian keempat ini diberlakukan di FA Cup yang diikuti oleh semua klub di Inggris, baik profesional maupun amatir. Menilik laws of the game 2017/18, maka jumlah pergantian pemain yang diizinkan untuk kompetisi selevel Piala FA adalah maksimal 5 kali, namun FA hanya menerapkan 4 pergantian pemain.

laws of the game.JPG
Ini dia penjelasan tentang susbstitusi. (Foto: Laws of the game)

Sedangkan di Premier League, yang berstatus kompetisi top division, substitusi yang dibolehkan hanyalah 3 kali. Dengan demikian, kita bisa mengetahui mengapa di Inggris sana tidak dipermasalahkan sama sekali. Penerapan aturan yang berbeda dilakukan di level kompetisi yang berbeda juga.

Dengan status Liga 1 sebagai top division-nya Indonesia, wajar bila PSSI langsung dikritik saat mewacanakan aturan 5 pergantian pemain tersebut, meskipun bisa saja nantinya keajaiban terjadi dan FIFA mengizinkan PSSI memakai aturan itu.

***

Tujuan FA dan PSSI terkait penggunaan substitusi dengan jumlah yang tak biasa ini sebenarnya mirip, yakni demi kebaikan timnas negara masing-masing. Hanya saja, penerapannya dilakukan di level kompetisi yang berbeda.

Namun, satu hal yang bisa dipetik, baik FA maupun PSSI pun tak bisa menjamin bahwa aturan ini benar-benar akan berdampak baik untuk timnas mereka. Kedua federasi ini tentunya sadar bahwa masih ada faktor-faktor penunjang lain yang diperlukan agar timnas mereka yang saat ini kering prestasi mampu berjaya lagi.

Featured Image: goal.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s