Karena Roda Hidup Terus Berputar

Pada suatu waktu, manusia bisa menyaksikan terjadinya dua peristiwa yang kontras dalam kehidupan.

Saat ada sekumpulan orang yang sedang merayakan sebuah peristiwa bahagia, di tempat lain ada sekumpulan orang yang sedang menangis karena peristiwa sedih yang mereka alami. Ya, hal tersebut terjadi setiap hari dalam kehidupan kita.

Dalam sepakbola Eropa, tanggal 24 April lalu pun terjadi dua peristiwa yang kontras. Di Pescara, Italia, klub kebanggaan kota tersebut, Delfino Pescara 1936, harus menerima kenyataan pahit. Mereka dipastikan berlaga di Serie B Italia musim depan setelah kalah telak 4-1 dari AS Roma di kandang mereka sendiri, Stadio Adriatico – Giovanni Cornacchia.

crapari 8retedotit
Gianluca Crapari, 8 golnya untuk Pescara sejauh ini hanya berhasil mengangkat namanya, namun tidak klubnya. (Foto: 8rete.it)

Sedangkan di kota Newcastle upon Tyne, sekitar 2.300 km arah barat laut Pescara, tepatnya di stadion St. James’ Park, skor 4-1 justru menjadi milik tuan rumah, Newcastle United, yang berhadapan dengan Preston North End. Seisi stadion pun berbahagia karena hasil tersebut membuat Newcastle resmi meraih tiket promosi ke Premier League musim depan.

perez derbytelegraph
Ayoze Perez: Akhirnya keluar juga dari Championship! (Foto: derbytelegraph.co.uk)

Pescara yang buruk sejak awal

Saat terakhir kali berlaga di Serie A, tepatnya musim 2012/13, Pescara benar-benar babak belur. Hanya dalam 4 partai gawang mereka bersih. Secara total, mereka mengumpulkan 22 poin, hasil menang 6 kali, seri 4 kali dan kalah 28 kali. Mereka pun dinobatkan sebagai juru kunci klasemen Serie A musim itu.

Bagaimana dengan kondisi Pescara musim ini? Secara kasat mata, kondisinya lebih parah dibandingkan 2012/13, setidaknya sampai mereka resmi terdegradasi dari Serie A pada 24 April lalu. Sampai pekan 33, Delfini hanya menang 2 kali!

pescara
Mereka harus rela melihat Delfini embali bermain di Serie B. (Foto: pescaracalcio.com)

Bahkan 1 kemenangan diantaranya merupakan ‘hadiah’ karena lawan mereka saat itu, Sassuolo, dihukum karena memainkan Antonino Ragusa, pemain yang dilarang tampil kala itu. Emang berapa skor aslinya? Pescara kalah 2-1. Jarak kemenangan yang pertama dan kedua pun sangat jauh, yaitu 23 pekan!

Jumlah poin mereka saat ini pun hanya 14 poin, hasil 2 kali menang dan 8 seri. Memang, mereka masih bisa memperoleh poin akhir lebih baik dengan 5 partai sisa. Namun tetap saja mereka tak akan bisa menghindari degradasi.

Poin maksimal yang bisa mereka raih di akhir musim hanyalah 29, dan tetap tak bisa mengalahkan Empoli, yang saat ini berada di peringkat 17. Memang Empoli saat ini juga mengumpulkan 29 poin, namun mereka unggul head-to head dari Pescara (unggul agregat 5-1).

Sebenarnya, jika melihat kondisi timnya, kualitas para pemain Pescara saat ini bisa dibilang tak buruk-buruk amat. Apalagi bila melihat nama-nama pemainnya, cukup banyak juga yang sudah berpengalaman bermain di Serie A, seperti Sulley Muntari, Cesare Bovo, Hugo Campagnaro, Guglielmo Stendardo, Albano Bizzari, Simone Pepe, hingga Alberto Gilardino. Bahkan, Alberto Aquilani sempat bermain di sini sampai Januari lalu. Namun harus diakui, nama-nama di atas sudah hampir tenggelam semua.

gilardino pescara calcio mercato dotcom
Gilardino, belum memberikan kontribusi signifikan. (Foto: calciomercato.com)

Begitu juga dari segi permainan. Pescara juga tidak bermain buruk, bahkan cukup menyerang dan enak dilihat. Hanya saja, mereka sering tidak efektif di depan gawang. Mereka pun jarang kalah telak, menandakan sebenarnya mereka cukup merepotkan lawan-lawannya. Namun kompetisi sepakbola adalah soal hasil akhir, dan mereka terlalu sering kalah.

Saat dilatih oleh Massimo Oddo, manajer yang membawa mereka promosi, mereka hanya bisa meraih 9 poin dalam 24 partai. Penggantinya, Zdenek Zeman, juga tak memberi banyak pengaruh. Ia hanya memberikan 5 poin bagi Pescara dalam 9 partai.

pescaracalciodotcom
Zeman pun kesulitan mengangkat performa Pescara yang kadung jeblok. (Foto: pescaracalcio.com)

Apakah mereka terlalu telat mengganti manajer, atau mungkin memang kualitas skuad yang ada tak sanggup bersaing di Serie A, semua analisis itu rasanya sudah tak begitu banyak berarti. Mereka sudah resmi terdegrdasi, dan mungkin manajemen Pescara bisa bersiap-siap dari sekarang, merencanakan langkah dan strategi mereka agar musim depan Delfini bisa kembali promosi ke Serie A.

Newcastle yang mempersiapkan diri dengan baik

Hanya butuh semusim bagi Newcastle untuk kembali membuat mereka ke Premier League. Kemenangan atas Preston membuat mereka kokoh di posisi kedua divisi Championship, mengoleksi 88 poin dari 44 partai.

Peringkat 3 saat ini, Reading, baru mengumpulkan 79 poin. Dengan tersisa 2 partai, The Magpies sudah dipastikan meraih tiket promosi langsung, karena poin mereka sudah tak akan terkejar lagi.

Keberhasilan Newcastle bisa merupakan buah dari pembenahan besar-besaran yang mereka lakukan, setelah penampilan amburadul mereka di musim lalu membuat mereka terdegradasi ke Championship.

Rafa-Benitez
Rafa Benitez, kembali bersaing dengan manajer-manajer top Premier League. (Foto: football365.com)

Salah satu keputusan yang paling penting adalah mempertahankan Rafa Benitez sebagai manajer. Keputusan Benitez untuk tetap tinggal meskipun harus turun kasta cukup membuat ia mendapatkan simpati dari fans. Bayangkan, mereka memiliki manajer selevel Benitez untuk bertarung di Championship.

Selain itu, perubahan yang tak kalah positifnya adalah runtuhnya ego sang pemilik, Mike Ashley. Ashley yang sebelumnya terkenal suka ikut campur urusan teknis, kabarnya kini benar-benar memberikan kepercayaan penuh pada Benitez untuk membangun skuad. Hal ini pun memberikan kenyamanan untuk Benitez dalam bekerja.

Benitez pun melakukan kerjanya dengan baik. Ia membiarkan pemain-pemain bintang yang tak mau berlaga di Championship pergi meninggalkan klub, lalu mendatangkan pemain-pemain baru yang sesuai kebutuhan. Singkatnya, ia melakukan ‘bersih-bersih’ dengan cermat.

dwight-gayle-newcastle_3768817
Dwight Gayle, 10 juta pounds yang tak sia-sia. (Foto: skysports)

Kepergian pemain-pemain seperti Papiss Cisse, Georginio Wijnaldum, Moussa Sissoko, Remy Cabella, Daryl Janmaat, Tim Krul, hingga Siem De Jong tak begitu diratapi. Sebaliknya, Newcastle membeli pemain-pemain yang levelnya mungkin tak sama dibandingkan nama-nama di atas, namun bersedia berjuang demi Newcastle. Selain itu, gajinya pun tak mahal, sehingga Newcastle bisa mengurangi pengeluaran, bahkan mendapatkan untung dari bursa transfer pemain.

Nama-nama baru seperti Christian Atsu, Dwight Gayle, Isaac Hayden, Ciaran Clark, hingga Matt Richie ternyata terbukti mampu berintegrasi dengan pemain-pemain lama Newcastle yang bertahan seperti Paul Dummett, Jonjo Shelvey, Ayoze Perez, hingga Yoan Gouffran. Mereka pun bisa bersaing di tengah sengitnya divisi Championship.

Sempat rontok di dua partai awal, secara perlahan The Magpies terus memperbaiki performa sampai akhirnya mereka meraih banyak kemenangan dan mantap berada di zona promosi otomatis sejak pekan 12. Pembelian Gayle pun terbukti berhasil karena ia mampu mencetak 22 gol sejauh ini, ketiga terbanyak di kompetisi. Newcastle pun menjadi tim tersubur sejauh ini dengan mencetak 80 gol, tertinggi diantara tim-tim Championsip lainnya.

newcastle-preston-promoted
‘Mimpi buruk’ Championship sudah berakhir bagi The Magpies. (Foto: si.com)

Hambatan kembali muncul saat mereka mengalami tren buruk di delapan pekan terakhir (rentang pekan 35-43 hanya dua kali menang), bahkan hingga posisi puncak klasemen diambil oleh Brighton & Hove Albion. Namun, kepastian promosi akhirnya mereka peroleh di kandang sendiri dengan menghajar Preston. Gol-gol dari Atsu, Perez (2 gol), dan Ritchie di partai tersebut memastikan mimpi kembali ke Premier League menjadi nyata.

Mulai saat ini, Newcastle harus memikirkan langkah-langkah yang diperlukan agar bisa bersaing di Premier League. Kucuran dana yang besar tentu dibutuhkan Benitez agar ia bisa memperkuat skuadnya di musim panas nanti, yang meskipun begitu perkasa di Championship, namun bisa saja tak begitu kuat bila harus disandingkan dengan Chelsea, Tottenham Hotspur, atau Southampton sekalipun.

***

Roda hidup memang terus berputar. Kadang kita mendapat kebahagiaan, kadang kita mendapat cobaan. Musim lalu, Pescara yang bersorak riang karena memastikan promosi, sedangkan Newcastle harus menerima kenyataan pahit terdegradasi. Saat ini, kondisi yang terjadi justru sebaliknya.

Terlepas dari itu semua, yang paling penting adalah kedua tim harus terus mengevaluasi diri dan terus memperbaiki diri agar menjadi lebih baik lagi di musim depan. Pescara tentu berharap kembali promosi ke Serie A dan tak lagi menjadi tim yo-yo, sedangkan Newcastle berharap bisa menjadi tim yang disegani lagi, seperti yang dilakukan Alan Shearer dan kawan-kawan di pertengahan 90-an.

 

Featured Image : mirror.co.uk

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s