6 Cara Mengatasi Pemain ‘Banyak Bacot’

Seringkali dalam sebuah pertandingan, seorang pemain bintang mengalami gangguan dari pemain lawan. Mulai dari sekedar membuntuti kemanapun sang bintang bergerak, hingga yang paling parah, menyerang secara verbal.

Dalam autobiografinya, Andrea Pirlo, legenda hidup timnas Italia, memberikan beberapa halaman khusus untuk membahas seorang pemain Malta bernama Andre Schembri, seorang bek yang terus membuntutinya sepanjang pertandingan dalam sebuah partai kualifikasi Piala Dunia di tahun 2012. Penjagaan itu memang merusak permainan Pirlo, tapi tak sampai membuatnya marah dan menghantam Schembri.

Memang benar, sekedar dibuntuti mungkin tak akan membuat seorang pemain naik pitam. Lain halnya bila ia diserang secara verbal. Seringkali kita temui keributan di sepakbola yang diawali dengan serangan verbal seorang pemain kepada lawannya. Contoh kasus yang tak terlupakan dan fenomenal mungkin yang dilakukan Zinedine Zidane yang menanduk Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006.

zidane
Adegan yang asli tak perlu diingat, jadi cukup ditampilkan monumennya saja. (Foto: vice.com)

Zidane melakukan hal itu karena Materazzi menghina keluarganya. Jika melihat sejarah kartu merah yang diterima Zidane sepanjang karirnya (14 kali), mayoritas karena disebabkan ketidaksabaran dirinya menanggapi provokasi lawan padanya.

Beberapa pemain bintang dengan temperamen tinggi memang sering dijadikan sebagai ‘sasaran tembak’ lawan-lawan mereka. Kehebatan mereka coba direduksi lawan dengan mengatakan hal-hal yang bisa membuat mereka kehilangan konsentrasi. Masih mending jika hanya pemain lawan saja yang memprovokasi. Terkadang suporter pun tak kalah kejamnya.

Jika tak sabar dalam menghadapi hal tersebut, bisa saja pemain-pemain ini yang justru mengalami kerugian, mulai dari ‘sekedar’ kartu merah atau larangan bertanding yang cukup panjang.

Mario Ballotelli, Diego Costa, hingga Zlatan Ibrahimovic adalah sedikit contoh para pemain yang sering diprovokasi dengan serangan verbal. Masih banyak lagi contoh-contoh pemain ‘bersumbu pendek’ lainnya.

costa
Diego Costa sering diprovokasi, namun tak jarang dia yang nyolot duluan. (Foto: express.co.uk)

Sifat-sifat seperti ini pun menjadi perhatian di dunia sepakbola, khususnya pihak klub dimana pemain bertemperamen tinggi itu bermain. Saat mereka tak bisa mengatur kelakuan pemain dan suporter lawan, maka cara yang dilakukan adalah melatih pemain mereka agar mampu mengelola kemarahan mereka dengan baik dan tak mudah terprovokasi.

Bradley Busch, seorang pelatih mental dan direktur dari Innerdrive, perusahaan yang bergerak di bidang psikologi olahraga, memberikan 6 saran sederhana yang bisa dilakukan untuk mengatasi provokasi pemain lawan yang ‘banyak bacot’.

Karena jasa perusahaan tempat Busch bekerja ini banyak dipakai klub-klub ternama di Inggris Raya (Glasgow Celtic, Tottenham Hotspur, Leicester City, West Ham United, dan lain-lain), bisa dibilang cara yang dianjurkannya cukup manjur. Siapa tahu, hal ini juga bisa diterapkan oleh kamu yang sedang bertanding sepakbola di level sekolah, kampus, ataupun sedang merintis karir sepakbola profesional. Disadur dari FFT Performance, ini dia 6 saran tersebut.

  1. Tarik napas dalam-dalam

Saat sedang marah, cortisol, yang merupakan hormon stres, terpompa dalam tubuhmu, sehingga mempengaruhi fokusmu dalam pertandingan. Hal ini bisa membuatmu kehilangan fokus akan jalannya pertandingan, termasuk dalam melihat posisi dan pergerakan rekan setim ataupun lawan.

185520727
Agar dirimu setenang lautan. (Foto: healthtap)

Kondisi emosional seseorang cukup mempengaruhi kondisi fisiknya. Jadi, untuk menenangkan satu aspek (emosi), maka aspek yang lainnya (fisik) juga harus bisa dikontrol. Cara tercepat dan sederhana adalah menghirup udara segar dalam-dalam.

  1. Ingat lagi apa alasanmu bermain

Motivasi seorang pemain yang ‘banyak bacot’ adalah membuatmu kehilangan fokus terhadap permainan dan juga kehilangan kontrol emosi. Jika hal itu terjadi, maka performamu akan terkena dampaknya.

quote-Billie-Jean-King-champions-keep-playing-until-they-get-it-22500
Jangan pedulikan omongan orang, main saja yang benar. (Foto: quotes.lifehack.org)

Untuk mencegah hal itu, selalu nasehati dirimu sendiri, apa tujuanmu berada di lapangan: bermain baik dan memenangkan pertandingan atau hanya sekedar ingin adu mulut?

  1. Puji rekan setim-mu

Gunakan setiap bacotan lawan sebagai tanda ‘waktunya memuji rekan setim’, baik karena operannya yang bagus, larinya yang oke, positioning-nya yang bagus, dan lain sebagainya. Ini merupakan cara aman untuk mengalihkan potensi energi negatif menjadi energi positif demi kebaikan tim.

44104-vnpmzfrhdb-1477367321
Nice assist, bro! (Foto: thefield.scroll.in)
  1. Bicara pada rekan setim

Jika bacotan lawanmu masuk ke pikiranmu, cobalah cari rekan setim yang paham bagaimana cara mengatasi kondisi emosionalmu (mungkin teman setim yang akrab) dan mintalah ia untuk berbicara denganmu.

zlatan
Z: Banyak bacot tuh orang. Minta ditampol. M: Kalem, cuy, nanti lu yang kena kartu merah. (Foto: youtube)

Salah satu cara yang cukup membantu adalah membuat ia mengatakan sesuatu yang melegakanmu saat kamu sedang emosional, kesal, atau mulai naik pitam. Hal-hal pribadi ataupun sekedar lelucon yang membuatmu tertawa bisa menjadi obat yang ampuh.

  1. Kembali fokus

Otakmu hanya bisa memproses sedikit hal saja secara sekaligus. Oleh karena itu, jangan sampai isi otakmu terkontaminasi oleh hal-hal yang tak penting seperti provokasi dan malah melupakan hal-hal yang penting yang harus dilakukan seperti bermain bagus dan konsentrasi dalam pertandingan.

chicarito
Berdoa juga bisa membantu dirimu tenang dan fokus. (Foto: dbsfootballdotnet)
  1. Tersenyum

Pancaran sinar putih dari gigi-mu bisa membuat pemain lawan frustrasi dan kehilangan fokus jika sang lawan sadar jika taktiknya untuk memprovokasimu tak berjalan sesuai rencana.

ronaldinho-barcelona
Siapa yang bisa tahan dengan senyum cemerlangnya? (Foto: footballwhispers.com)

Itu artinya, kamu sudah memenangkan satu pertempuran kecil di lapangan, dan setelah 90 menit, semoga kamu dan tim-mu juga memenangkan pertandingan hari itu.

***

Bagaimana, mudah kan? Sederhana, namun mampu menghindarkan diri dari penyesalan setelah di-kartu merah maupun hukuman sanksi yang berat. Selamat mencoba.

Featured Image : tribunnews.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s