Saat Pelatih-Pelatih Italia Menguasai Eropa

Mereka siap mengharumkan nama sepakbola Italia.

Sabtu 29 April kemarin menjadi hari bahagia lainnya yang dirasakan oleh Carlo Ancelotti. Pada hari itu, allenatore kebangsaan Italia tersebut berhasil menambah koleksi medali di lemarinya, kali ini made in Germany. Ya, di musim pertamanya melatih Bayern Munchen, ia sukses membawa Die Roten merebut gelar Bundesliga 2016/17.

Kepastian tersebut didapat di pekan 31, tepatnya setelah Bayern berhasil melibas Wolfsburg 6-0 di Volkswagen Arena. Di saat yang sama, sang runner-up klasemen, RB Leipzig, ditahan imbang tanpa gol oleh Ingolstadt. Dengan demikian poin Bayern (73 poin) tak dapat dikejar lagi oleh Leipzig (63 poin) di 3 partai sisa.

bayern
3 kali ganti pelatih dalam 5 tahun, namun gelar Bundesliga tetap di tangan. (Foto: goalnews.live)

Berkat gelar Bundesliga ini, yang merupakan yang pertama bagi Don Carletto, ia berhasil mencatat prestasi yang sangat langka, yaitu pelatih yang mampu meraih gelar di lima negara besar Eropa (Italia, Inggris, Prancis, Spanyol, dan Jerman). Sebuah catatan prestasi yang membuat curriculum vitae-nya semakin mentereng.

Prestasi Don Carletto ini pun semakin membuat bangga sepakbola Italia, yang terkenal sebagai penghasil pelatih-pelatih andal. Kebanggaan publik negeri pizza tersebut bisa semakin bertambah bila para Italiano lainnya yang sedang merantau sebagai pelatih juga berhasil meraih gelar juara.

Ya, di musim 2016-17 ini, ada 4 orang allenatore asal Italia yang berpeluang menutup musim 2016-17 sebagai juara liga bersama klubnya masing-masing. Hebatnya lagi, mereka melatih di 4 liga negara yang berbeda, dan negara-negara tersebut masuk dalam daftar 8 liga terbaik Eropa sejauh ini.

Setelah Don Carletto berhasil menuntaskan tugasnya, ada 3 orang lagi yang berpeluang menyusul jejaknya, yaitu Massimiliano Allegri (Juventus, Italia), Antonio Conte (Chelsea, Inggris), dan Massimo Carrera (Spartak Moskow, Rusia).

italian job
Apakah yang lainnya bisa menyusul Carletto? (Foto: Italian Football TV)

Setelah di akhir 2016 lalu muncul berita-berita yang membahas keberhasilan mereka berempat membawa tim asuhan masing-masing memuncaki klasemen sementara, bahkan memberikan julukan ‘Italian Job’ pada mereka, mari kita lihat peta peluang juara ketiga pelatih sisanya saat ini.

  1. Massimiliano Allegri

Sejujurnya, bila Allegri gagal membawa Juventus meraih gelar scudetto yang keenam secara beruntun, publik sepakbola Italia masih tetap bisa berbangga dengan kualitas pelatih-pelatih mereka. Mengapa bisa demikian? Karena klub-klub yang menempati posisi 7 besar Serie A musim ini semuanya dilatih orang Italia.

Bahkan jika dilihat, 4 pelatih asing yang sejauh ini melatih di Serie A bisa dibilang ‘orang lama’ di sepakbola Italia. Paulo Sousa (Fiorentina, asal Portugal) pernah membela Juventus, Parma, dan Inter Milan. Sinisa Mihajlovic (Torino, asal Serbia) menghabiskan 14 tahun karir bermainnya di Italia, bahkan karir melatihnya juga hampir selalu di Italia (kecuali saat menangani timnas Serbia).

Ivan Juric (Genoa, asal Kroasia) menghabiskan 9 tahun karir bermainnya di Italia, dan sejauh ini seluruh karir kepelatihannya dihabiskan di Italia. Bagaimana dengan Zdenek Zeman (Pescara, asal Republik Ceska)? Singkat saja, 14 dari 17 klub yang pernah dilatihnya adalah klub asal Italia. Ya, pelatih-pelatih lokal masih menjadi tuan rumah di Serie A, berbeda dengan di English Premier League.

allegri
Bisa raih treble, Max? (Foto: espnfc.com)

Kembali ke Allegri. Hingga pekan 34 Serie A, Juventus (84 poin) memimpin 9 poin atas peringkat kedua, AS Roma (75). Dengan 4 partai tersisa, poin maksimum Roma adalah 87. Artinya, Juventus hanya butuh 4 poin tambahan dari 4 partai. Lawan-lawan yang tersisa adalah Torino (kandang, 7 Mei), Roma (tandang, 14 Mei), Crotone (kandang, 21 Mei), dan Bologna (tandang, 28 Mei).

Jika melihat tim-tim yang ada, Torino dan Roma adalah lawan terberat. Namun bukan berarti Bologna dan Crotone adalah jaminan poin. Selain itu, perlu diingat juga bahwa Bianconeri akan menjalani dua partai semifinal Liga Champions melawan AS Monaco di tanggal 3 dan 9 Mei.

Artinya, jadwal Juventus cukup padat selama 2 minggu ke depan. Hal ini tentu menjadi perhatian Allegri. Ia harus menjaga pemain-pemainnya tetap fit di sisa kompetisi, apalagi Juventus juga akan bermain di final Coppa Italia melawan Lazio.

Namun dengan konsistensi yang mereka punya, diiringi catatan bagus Juventus musim ini di putaran pertama Serie A melawan 4 tim yang tersisa (semuanya berhasil dikalahkan), harusnya gelar Scudetto musim ini tak akan jatuh ke tangan Roma, kecuali Juventus melakukan kebodohan. Bahkan jika beruntung, gelar treble (Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions) bisa mereka raih semuanya musim ini.

  1. Antonio Conte

Legenda Juventus yang mampu membuat nama timnas Italia kembali dihormati lagi berkat penampilannya di Euro 2016 lalu ini sedang menjalani musim pertamanya di luar Italia. Liga yang dipilih pun bukan sembarangan, yaitu Premier League, kompetisi paling ketat di Eropa.

Saat melatih Juventus dulu, ia berhasil mengangkat Juventus kembali ke posisi elit di Serie A setelah dua musim menduduki peringkat tujuh. Di Chelsea, ia seperti mendapat tugas serupa. Apalagi saat ia datang Chelsea sedang terpuruk setelah mengakhiri musim 2015/16 di peringkat 10, posisi yang membuat mereka absen di Eropa musim ini.

conte goaldotcom
Buktikan bahwa kamu bukan jago kandang, Antonio! (Foto: goal.com)

Tantangan semakin bertambah karena Conte harus berhadapan dengan pelatih-pelatih top dari seluruh Eropa yang berkumpul di Inggris seperti Jose Mourinho, Josep Guardiola, Jurgen Klopp, Mauricio Pochettino, hingga dedengkot macam Arsene Wenger.

Sempat menjalani start yang tak begitu bagus di awal musim, akhirnya Conte berhasil membawa Chelsea menduduki peringkat pertama sejak pekan 11 hingga sekarang (pekan 34) dengan mengumpulkan 81 poin, unggul 4 poin dari Tottenham Hotspur (77 poin) yang menduduki posisi runner-up. Bahkan Conte juga berhasil membawa The Blues ke final Piala FA musim ini.

Terlepas dari opini soal keuntungan yang didapatnya karena Chelsea absen di kompetisi Eropa sehingga jadwal mereka tak sesibuk rival-rivalnya, Conte berhasil membawa perubahan mental dan taktik dalam tubuh Chelsea. Dan jika absen di Eropa adalah keuntungan, maka ia benar-benar memanfaatkannya. Ia pun berhasil menjaga kondisi para pemainnya tetap fit.

Saat ini, Chelsea memiliki keuntungan karena 4 partai liga yang tersisa, 3 akan dilangsungkan di Stamford Bridge, yaitu saat melawan Middlesbrough (8 Mei), Watford (15 Mei), dan Sunderland (21 Mei). Hanya saat melawan West Bromwich Albion-lah mereka akan bertandang (tanggal 12 Mei).

Sekilas terlihat jadwal mereka cukup mudah, terutama jika melihat catatan positif melawan 4 tim yang tersisa di putaran pertama Premier League musim ini (semuanya berhasil dikalahkan). Sedangkan Tottenham masih harus menghadapi lawan-lawan kuat seperti Manchester United (14 Mei) dan Leicester City (18 Mei), plus West Ham United (5 Mei) dan Hull City (21 Mei).

Chelsea v Everton - Premier League
Apakah senyum ini bisa dilihat di akhir musim? (Foto: 90min.com)

Namun perlu diingat, Spurs sedang dalam periode positif setelah menang 9 kali beruntun sejak pekan 26 dan berhasil memangkas jarak angka dari Chelsea yang tadinya sempat menembus dua digit.

Sedangkan warning untuk Conte pun meningkat, mengingat musim ini mereka sudah 4 kali gagal menang melawan tim-tim level medioker seperti Swansea City (2-2), West Ham (1-2, di Piala Liga), Burnley (1-1), dan Crystal Palace (1-2). Chelsea juga masih harus meraih poin 9 poin dari 12 poin yang tersisa jika ingin memantapkan posisinya sebagai juara liga.

Dengan tekanan meningkat yang ia dapatkan di akhir-akhir kompetisi, Conte tak boleh membuang-buang kesempatan menang di 4 partai sisa ini, plus partai final Piala FA melawan Arsenal (27 Mei), jika ia ingin menyamai prestasi Jose Mourinho dan Don Carletto di Chelsea, yaitu meraih dua piala mayor di musim debut mereka.

Sejauh ini, Conte sudah di trek yg tepat.

  1. Massimo Carrera

Last but not least, Carrera. Pelatih yang mengambil komando sebagai caretaker Juventus di lapangan saat Conte dan Angelo Alessio (asisten Conte) diskorsing FIGC (PSSI-nya Italia) pada tahun 2012 ini memulai debut manajerialnya di timur Eropa, tepatnya di Russian Premier League (RPL). Ia diangkat menjadi manajer tetap Spartak Moskow sejak 17 Agustus 2016, setelah menjadi caretaker sejak tanggal 5 Agustus.

Setelah selesai membantu Conte sebagai pelatih timnas Italia usai Euro 2016, Carrera tak ikut ke Chelsea bersama Conte dan Alessio, melainkan pergi ke Rusia untuk menjadi asisten manajer Dmitri Alenichev di Spartak. Namun saat Alenichev mundur karena The Red and Whites tersingkir di babak kualifikasi ketiga Europa League, Carrera pun mengisi posisinya.

massimo-carrera-spartak-moscow-head-coach_3766864
Berpisah dari Conte mungkin sebuah keputusan tepat untuknya. (Foto: skysports)

Kiprahnya pun cukup baik, bahkan tergolong luar biasa untuk pelatih yang baru memulai debut sebagai manajer utama. Sejauh ini, Spartak berhasil menduduki peringkat pertama RPL dengan mengumpulkan 60 poin dari 26 pertandingan. Yang terbaru, mereka mengalahkan rival langsung mereka musim ini, CSKA Moskow, dengan skor 2-1 pada 30 April kemarin.

Hasil itu pun membuat mereka kini unggul 10 poin dari CSKA yang berada di posisi runner-up. Dengan tersisa 4 partai, maka poin maksimum CSKA adalah 62 poin. Itu artinya, Spartak hanya butuh satu kemenangan lagi untuk mengukuhkan diri sebagai juara.

Jika mereka bisa menang melawan Tom Tomsk pada 6 Mei nanti, maka gelar yang tak pernah mereka raih sejak tahun 2001 pun bisa mereka rasakan lagi. Jika mereka gagal, masih ada kesempatan meraup poin di laga melawan Amkar Perm (13 Mei), Terek Grozny (17 Mei), dan Arsenal Tula (20 Mei).

Spartak pun saat ini sudah tersingkir di kompetisi lain, sehingga yang perlu Carrera lakukan hanyalah menjaga konsistensi penampilan Quincy Promes dan kawan-kawan di liga.

Dengan kondisi ‘hanya’ butuh 3 poin di 4 partai sisa, harusnya Carrera bisa menutup musim ini dengan manis. Manis untuk debutnya sebagai manajer, manis juga untuk Spartak yang sudah lama tak merasakan gelar juara.

***

Dari tiga pelatih yang tersisa, secara matematis kondisi Carrera dan Allegri di liga lebih mudah dibandingkan Conte. Namun bisa saja nantinya justru yang terjadi adalah sebaliknya, karena sepakbola tak bisa dilihat dari segi matematis saja.

Italy Soccer Serie A
Harapan Italia di Liga Champions. (Foto: newsok.com)

Namun bila mereka bertiga berhasil mengikuti jejak Don Carletto, maka publik sepakbola Italia, khususnya Coverciano, bisa semakin ‘menyombongkan’ diri mereka sebagai pusat penghasil pelatih-pelatih hebat di Eropa, karena menjadi juara di 4 liga top Eropa adalah sebuah kehebatan tersendiri.

Apalagi bila nantinya Juventus berhasil menjuarai Liga Champions musim ini, maka semakin tegas-lah supremasi Italia di Eropa tahun ini. Kita nantikan saja hasilnya di akhir musim.

Update:

*) Pada tanggal 6 Mei 2017, setelah menang 1-0 melawan Tom Tomsk, Carrera dan Spartak berhasil memastikan diri menjadi juara Russian Premier League.

*) Pada tanggal 12 Mei 2017, setelah menang 1-0 melawan West Bromwich Albion, Conte dan Chelsea berhasil memastikan diri menjadi juara English Premier League.

*) Pada tanggal 21 Mei 2017, setelah mengalahkan Crotone 3-0, Juventus dan Allegri memastikan diri menjadi juara Serie A Italia.

Featured Image: goal.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s