Secara Statistik, Atletico (Mungkin) Akan Tersingkir

Catatan statistik tidak bersahabat sekali dengan pasukan Diego Simeone ini.

Harapan bahwa Atletico Madrid mampu memutus rantai buruk pertemuan mereka dengan rival sekota, Real Madrid, di ajang Liga Champions pasti ada dalam setiap pikiran suporter Los Rojiblancos, terutama mereka yang mendukung langsung perjuangan Fernando Torres dan kawan-kawan pada leg pertama semifinal Liga Champions, 2 Mei lalu, di Estadio Santiago Bernabeu.

Bayangkan saja, selama 3 musim sebelumnya, mereka selalu bertemu di Liga Champions, tapi tak pernah sekalipun mereka tersenyum bahagia di akhir laga. Dari 4 pertemuan terakhir di Liga Champions, Atletico menelan 1 hasil seri dan 3 kekalahan. 2 kekalahan bahkan terasa menyakitkan karena terjadi di final (tahun Lisbon 2014 dan Milan 2016).

Bahkan pada pertandingan kemarin malam, suporter El Real merentangkan spanduk yang isinya menyindir kekalahan Atletico di dua final tersebut. Meski tak tertulis secara eksplisit, namun makna sindiran tersebut dapat dipahami semua orang yang melihat spanduk raksasa itu.

mirror
Suporter Madrid membuka luka lama Atletico dengan mengungkit-ungkit kekalahan di dua final. (Foto: mirror.co.uk)

Sayangnya, Atletico tak bisa membungkam mulut para suporter Madrid. Mereka kembali kalah telak 3-0, mengulang apa yang mereka alami pada 19 November 2016 lalu di La Liga. Bahkan Cristiano Ronaldo pun ikut mengulang pencapaiannya kala itu dengan kembali mencetak hat-trick kemarin malam.

Hasil ini pun memberatkan langkah Atletico, yang harus menang dengan selisih 4 gol agar bisa lolos ke final yang akan berlangsung di Millennium Stadium, Cardiff, 3 Juni mendatang. Bahkan pelatih Atletico, Diego Simeone, juga tak begitu yakin.

“Kami punya laga penting di Sabtu nanti (partai La Liga melawan Eibar) dan kemudian kami perlu mencari peluang pekan depan (melawan Madrid). Saya sih tenang. Kami akan mencoba melakukan sesuatu yang hampir mustahil. Kami adalah Atletico Madrid dan mungkin, sekadar mungkin ya, kami bisa melakukannya.” – Diego Simeone, 2 Mei 2017, seusai pertandingan melawan Madrid, dikutip dari detik.

Gila, dia aja bilangnya mungkin bisa. Pertanyaannya, beneran bisa?

diego
Kok ga yakin gitu, Senor? (Foto: getty images)

Pertama-tama, janganlah kita menilai peluang Atletico dari penampilan kemarin malam saja, meskipun terlihat cukup buruk. Mulai dari strategi serangan balik yang tak berjalan sama sekali, tembakan ke gawang pertama yang baru muncul di injury time, hingga mati kutunya Antoine Griezmann sepanjang laga sudah menjelaskan semuanya.

Mari kita lihat rekap hasil kerja Diego selama 6 musim terakhir melatih di Atletico, khususnya terkait hasil yang diperoleh timnya di fase gugur ajang cup competition yang berformat dua leg. Sekedar info, ia melatih Atletico sejak 23 Desember 2011.

Bila kita perhatikan, Diego bisa membawa Atletico juara saat mereka tak pernah kalah sama sekali di fase gugur. Itu terjadi di Europa League 2011-12 dan Copa Del Rey 2012-13. Catatan khusus, bahkan mereka selalu menang di leg pertama. Sekedar info, jika dalam sebuah fase gugur cup competition Atletico berhasil menang di leg pertama, biasanya mereka akan lolos ke fase berikutnya.

Capture
Statistik Atletico di kejuaraan berformat cup competition sejak dilatih Diego Simeone, dengan kondisi mereka gagal menang di leg pertama. Bikinnya keliatan banget pake Excelnya haha.

Bagaimana dengan musim-musim berikutnya? Tanpa menghitung hasil di Piala Super Spanyol yang sebenarnya sulit disebut cup competition, Atletico sudah 13 kali menghadapi kondisi dimana mereka gagal menang di leg pertama sejak diangani Diego, 7 diantaranya mengalami kekalahan (termasuk melawan Madrid kemarin malam).

Meski begitu, mereka mampu 6 kali lolos dari lubang jarum (hasil melawan Madrid belum final), meskipun sebagian besar terjadi saat mereka ditahan imbang di leg pertama (4 kali), dan hanya 2 kali mereka mampu membalikkan keadaan. 13 kali gagal menang di leg pertama, namun berhasil lolos 6 kali. Not bad, there’s almost 50% chance.

Selain itu, ada catatan yang menarik, yaitu 2 kali comeback tersebut terjadi di Liga Champions, tepatnya pada musim 2014-15 melawan Bayer Leverkusen dan musim lalu saat melawan Barcelona. Di kandang pula. Berdasarkan hal ini, Atletico masih bisa yakin bahwa mereka akan lolos dari lubang jarum. Apalagi mereka akan bermain di Estadio Vicente Calderon saat leg kedua nanti.

Namun, lihatlah lebih teliti. 6 kali mereka lolos, semuanya dalam kondisi tidak kalah telak, termasuk saat melawan Leverkusen dan Barca, dimana mereka hanya tertinggal 1 gol. Pertanyaannya, bisakah mereka melakukan comeback setelah tertinggal 3 gol?

atletico-leicester-1040x572
Atletico terbiasa menang dengan skor tipis, seperti ketika melawan Leicester ini. (Foto: sportsnet.ca)

Bila melihat statistik di atas, jawabannya sulit sekali, karena mereka belum pernah berhasil melakukannya selama 6 musim terakhir. Begitupun jika melihat hasil-hasil mereka di musim ini.

Terhitung hingga 2 Mei 2017, hanya dua kali Atletico berhasil membalikkan keadaan setelah tertinggal. Pertama saat mengalahkan Granada 7-1 di pekan 8 La Liga, kedua saat mengalahkan Celta Vigo 3-2 di pekan 22 La Liga. Sekedar catatan, saat itu mereka mampu membalikkan keadaan saat sedang tertinggal 1 gol. Dengan kata lain, sama dengan kiprah mereka di cup competition.

Bahkan, jika kalian sangat niat untuk mengecek seluruh skor pertandingan Atletico selama 6 musim ditangani Diego dan juga menit berapa saja gol-gol tersebut terjadi, kalian akan menemukan fakta bahwa tak pernah sekalipun Atletico mampu menang jika mereka sudah tertinggal 2 gol terlebih dahulu.

Memang, gaya bermain Atletico ketika ditangani Diego lebih sering menghasilkan skor kemenangan yang tipis dan mempertahankan cleansheet ketimbang menang telak. Status sebagai tim papan atas juga membuat Atletico lebih sering unggul terlebih dahulu ketimbang mengejar ketertinggalan. Jikalau tertinggal, ya hanya 1 gol. Jadi, ini lebih menyorot masalah mental Atletico yang tak terbiasa dengan kondisi seperti saat ini.

Yah, berat juga ya ternyata.

***

fernando-torres-celeb_3412006
Contohlah Barcelona, Atleti. (Foto: skysports)

Dengan persiapan yang hanya seminggu, mungkin sulit mengubah gaya main Atletico. Terutama jika melihat mental Atletico yang tak pernah menang bila sudah tertinggal jauh. Rasanya, meskipun nantinya harus berjuang berdarah-darah di leg kedua, Madrid-lah yang akan berangkat ke Cardiff.

Namun, ingatlah bahwa selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu. Barangkali, inilah saatnya Atletico-nya Diego menunjukkan mental juara mereka dan mengejar defisit yang ada. Siapa tahu, kemenangan pertama dalam 6 musim setelah tertinggal 3 gol bisa mereka raih minggu depan di Estadio Vicente Calderon.

Apalagi tampaknya para pemain Atletico belum menyerah. Hal itu bisa dilihat dari ucapan Koke seusai laga.

“Bangkit? Ini adalah sepakbola, coba katakan hal itu pada PSG (yang kalah 6-1 di leg kedua). Anda tak pernah tahu di sepakbola. Dengan Cristiano (Ronaldo) datang ke Calderon, kami pernah menang 4-0 (pada musim 2014-15).” – Koke, 2 Mei 2017, seusai pertandingan melawan Madrid, dikutip dari detik.

Ya, barangkali jika mereka tak begitu menganggap skor di leg pertama, mereka bisa berjuang dengan lepas, mencoba mencetak gol satu demi satu, dan membalikkan keadaan.

So, Atletico, can you make it to the final and make this writing a piece of crap?

Featured Image : Reuters / Sergio Perez Livepic

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s