Ajax Siap Menguasai Eropa (Lagi)

Sangat Menarik dan Menghibur. Itulah yang pasti terlintas di kepala kalian yang menonton pertandingan semifinal leg pertama Liga Europa antara Ajax Amsterdam melawan Olympique Lyonnais, yang berlangsung pada 3 Mei lalu. Bagaimana tidak, selama total 90+4 menit, permainan agresif dan cepat disajikan oleh kedua tim.

Namun, tuan rumahlah yang berhasil keluar menjadi pemenang. Gol-gol dari Bertrand Traore (25’ dan 71’), Kasper Dolberg (34’) dan Amin Younes (49’) hanya mampu dibalas Lyon sekali lewat gol Mathieu Valbuena (66’).

aja gettyimag
Pertahankan performa positifmu, Ajax! (Foto: getty images)

Hasil ini membuat Ajax selangkah lebih dekat ke partai final yang akan dilangsungkan di Friends Arena, Swedia, 24 Mei mendatang.

Jual-beli serangan yang dimenangi Ajax

Permainan sepakbola yang dimainkan Ajax saat melawan Lyon benar-benar mencerminkan khas sepakbola Belanda, total voetbal. Tempo cepat, gerak agresif, terus menekan lawan, dan tak buang-buang waktu menguasai bola. Namun, jangan dikira Lyon tak melakukan hal yang sama. Itulah yang membuat permainan tersebut menjadi menarik, khususnya untuk penikmat sepakbola yang netral.

Baik Ajax maupun Lyon sama-sama memainkan umpan-umpan panjang maupun pendek dengan tempo cepat. Namun tak ada kesempatan untuk memegang bola lama-lama, karena dipastikan lawan akan langsung datang menekan, bahkan sejak di kotak penalti. Pressure juga dilakukan oleh beberapa pemain sekaligus, khususnya ditengah lapangan dan juga wilayah sepertiga lapangan masing-masing tim.

ajax goalcom
Bertrand Traore (no 9), sudah mencetak 4 gol di Liga Europa musim ini. (Foto: goal.com)

Penguasaan bola yang berhasil direbut dari kaki lawan ataupun umpan yang berhasil dihalau biasanya akan langsung diumpan ke depan untuk melancarkan serangan balik. Pada titik ini, siapa yang tak kreatif dalam melancarkan serangan pasti akan mudah dipatahkan, karena tempo yang cepat membuat pemain tak mempunyai banyak waktu berpikir.

Serangan yang dibangun pun mayoritas dibangun dari serangan balik, meskipun build-up juga dilakukan sesekali, bahkan lebih efektif, karena 3 dari 5 gol dalam pertndingan ini dibuat dari skema build-up (2 Ajax, 1 Lyon). Dua gol Ajax sisanya dilakukan lewat serangan balik yang memotong umpan pemain Lyon.

Permainan terbuka benar-benar ditampilkan oleh kedua tim. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya peluang yang diciptakan kedua tim. Bahkan sampai akhir pertandngan, termasuk saat skor sudah 4-1, tempo cepat terus dilancarkan kedua tim, meski kala sudah unggul 2-0, sesekali Ajax menurunkan tempo, terutama saat melakukan build-up dari belakang.

Namun Ajax bermain lebih baik pada partai tersebut. Mereka lebih bisa memanfaatkan peluang. Serangan yang dibangun pun lebih rapi dan berbahaya. Dari jumlah tembakan ke gawang saja, Ajax mencatat 16 kali dan Lyon 8 kali. Bila hanya 5 gol saja yang tercipta di pertandingan ini, itu karena kemampuan hebat dua kiper yang bermain, Anthony Lopes (Lyon) dan Andre Onana (Ajax).

Secara keseluruhaan, kedua tim mencatatkan statistik yang mengagumkan, mulai dari total jumlah tembakan (24 berbanding 13 untuk Ajax), percobaan tekel (46 berbanding 37 untuk Ajax), dribel sukses (11 berbanding 10 untuk Ajax), intersep (23 berbanding 17 untuk Ajax), clearance (23 berbanding 7 untuk Ajax), unggul duel udara (23 berbanding 12 untuk Ajax), hingga keberhasilan merebut bola (23 berbanding 14 untuk Ajax).

lopes casdotsk
Anthony Lopes, setidaknya mampu menahan 12 tembakan ke gawang Ajax. (Foto: cas.sk)

Seperti subjudul diatas, mereka memang melakukan jual beli serangan. Jika serangan yang satu gagal, yang lain akan langsung menyerang balik, tanpa tedeng aling-aling, tanpa basa basi menguasai bola lama-lama dan mengontrol tempo permainan. Penguasaan bola kedua tim juga tak berbeda jauh, 48-52 untuk Lyon. Meskipun, Ajax-lah yang mengontrol permainan. Ini terlihat dari keunggulan statistik Ajax di semua aspek.

Ya, pertandingan kali ini dimenangkan oleh tim yang memainkan gaya menyerang yang lebih baik, bukan tim yang menang karena bertahan ekstra rapat. Toh tadi malam memang tak ada yang bermain rapat.

Youngster berstamina luar biasa

Gila, pada tenaga kuda semua ya. Kenceng-kenceng banget larinya.

Itulah yang berada di pikiran saya kala melihat gaya bermain Ajax. Terus berlari, berlari, dan berlari. Jika jarak mereka dengan pemain Lyon yang menguasai bola cukup jauh, mereka akan mendekat untuk melakukan pressing dengan cara lari. Bukan lari biasa, karena terlihat sekali ada kecepatan yang tinggi. Jauhnya jarak mereka dengan pemain lawan bukanlah masalah. Siapapun pemain Ajax yang paling dekat dengan pemain Lyon yang menguasai bola harus lari mengejar pemain tersebut.

Gaya main seperti itu hanya bisa diterapkan oleh pemain-pemain yang kuat secara fisik dan juga berstamina tinggi. Biasanya hal ini dimiliki oleh para pemain muda. Ya, rataan usia skuad Ajax musim ini menyentuh angka 22,2 tahun. Jika dikerucutkan lagi menjadi hanya pemain yang bermain melawan Lyon, angkat tersebut turun menjadi 21,3 tahun.

Dua pemain Ajax yang bermain melawan Lyon, Matthijs de Ligt dan Justin Kluivert  bahkan masih berusia 17 tahun (Justin baru berulang tahun ke-18 tanggal 5 Mei, 2 hari setelah pertandingan). Justin bahkan belum lahir saat ayahnya, Patrick, menjadi pahlawan kemenangan Ajax di final Liga Champions tahun 1995.

ajax1nl
Coba pikirkan apa yang sudah kamu lakukan di usia 17 tahun seperti De Ligt? Ia sudah membela timnas Belanda. (Foto: ajax1.nl)

Skuad muda Ajax Amsterdam ini memiliki potensi luar biasa, meskipun banyak juga dari mereka yang tak berasal dari akademi Jong AJax. Namun hal itu justru membuktikan kepiawaian Ajax dalam merekrut dan memoles pemain muda yang berasal dari luar. Tak heran bila kemudian bintang-bintang muda Ajax ini menjadi buruan tim-tim kaya Eropa di setiap transfer musim panas.

Pemain-pemain macam Davy Klaassen, Hakim Ziyech, Tete, dan Jairo Riedewald menjadi tumpuan serangan Ajax kala melawan Lyon, dimana Ajax banyak menyerang lewat sektor sayap. Mereka membangun serangan untuk diselesaikan oleh Dolberg ataupun penyerang sayap mereka, Traore dan Younes.

Klaassen dan Ziyech pun berkoordinasi dengan pemain senior Lasse Schone untuk menjaga lini tengah dan menjadi pelindung bagi duet bek tengah, de Ligt dan Davinson Sanchez. Bahkan, seperti menganut prinsip Johann Cruijff yang mengatakan bahwa penyerang adalah bek pertama, hal itu juga mereka lakukan. Bahkan ketiga penyerang Ajax juga ikut membantu pertahanan, seperti halnya de Ligt juga sesekali maju membantu serangan.

ajax Dean Mouhtaropoulos Getty Images
Lasse Schone, satu dari sangat sedikit pemain Ajax yang berusia 30 tahun atau lebih. (Foto: getty images)

Gaya sepakbola menyerang yang sejak dulu dilakukan Ajax benar-benar terlihat dari skuad racikan Peter Bosz ini, seperti halnya yang dilakukan Frank De Boer dahulu. Nampaknya, siapapun pemainnya, siapapun pelatihnya, sepakbola menyerang ini akan terus dimainkan oleh Ajax.

Masih gampang ditembus

Meskipun penampilan mereka tadi malam benar-benar menarik dilihat, namun masih terlihat adanya kelemahan, yaitu banyaknya ruang kosong yang menganga di pertahanan Ajax.

Permainan terbuka dan menyerang yang dilancarkan Ajax meninggalkan banyak celah kosong di pertahanan, terutama saat mereka diserang balik. Saat banyak pemain Ajax yang berada di sekitar kotak penalti, pertahanan mereka pun banyak menyisakan ruang untuk dieksploitasi pemain Lyon.

8 tembakan ke gawang yang dilakukan Lyon pun menjadi bukti betapa mereka diberi banyak ruang. Bahkan bila diperhatikan, gol Lyon pun terjadi karena Valbuena berhasil mendapat bola di ruang yang tak terjaga. Ia bisa mengeksekusi bola dengan leluasa. Begitu pula dengan semua gol Ajax yang muncul dari kosongnya ruang pertahanan Lyon.

valbuena
Seluas itu ruang yang dimiiki Valbuena sebelum melepaskan tendangan yang berhasil menjadi gol. (Foto: full-match.com)

Kondisi ini mungkin merupakan kebiasaan mereka yang selama ini bermain di Eredivisie, yang memang mayoritas timnya bermain secara terbuka. Kabarnya kondisi inilah yang membuat para top skor Eredivisie mampu mencetak gol dengan jumlah banyak saat bermain di Belanda, namun gagal mengulanginya saat pindah ke liga lain. Hal ini pernah dialami oleh Bas Dost, Afonso Alves, Dirk Kuyt, Wilfried Bony, Alfred Finnbogason, hingga yang terbaru, Memphis Depay dan Vincent Janssen.

Bila kondisi bolong-bolong ini tak ada penawarnya, Ajax bisa kesulitan bila nantinya lolos ke final. Saya tak paham dengan gaya main Celta Vigo, tapi bila yang lolos adalah Manchester United, tentu ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi de Godenzonen.

Seperti yang kita tahu, tim asuhan Jose Mourinho itu mampu menampilkan permainan defensif yang sangat baik. Apalagi sejauh ini mereka adalah tim yang keboboan paling sedikit di Premier League (25 gol, per 5 Mei 2017). Mereka pun bisa mencatat cleansheet saat melawan tim sekelas Chelsea dan Manchester City.

Meski tak akan diperkuat Zlatan Ibrahimovic, namun United masih mampu menghadirkan ancaman bagi Ajax. Terkenal jagonya menang tipis di musim ini, mereka hanya perlu mencetak 1 gol dari kondisi kosongnya ruang pertahanan Ajax dan kemudian bertahan menghadapi serangan masif Ajax.

milan
Milan pernah memperagakan skema bertahan yang rapat dan Ajax tak bisa menembusnya. (Foto: uefa.com)

Ajax pun cukup kesusahan bila menghadapi tim dengan pertahanan yang rapat. Masih ingat AC Milan di Liga Champions musim 2013-14? Mereka lolos ke babak 16 besar setelah menahan imbang Ajax tanpa gol di partai terakhir penyisihan grup. Kala itu, Ajax asuhan De Boer dibuat frustrasi menembus pertahanan rapat Milan, meskipun menguasai permainan. Mereka pun akhirnya tersingkir karena gagal menang.

Ya, bila ingin menjadi juara Liga Europa, mereka tak hanya perlu bertahan dengan rapat, namun juga mampu mengakali pertahanan lawan yang rapat. Mereka bisa memperbaikinya mulai dari leg kedua semifinal Liga Europa ini.

***

Perjalanan Ajax untuk mengharumkan nama mereka kembali di Eropa sudah berada di trek yang tepat, meskipun mereka hanya bertanding di kasta kedua kompetisi Eropa. Namun bila menjadi juara, setidaknya reputasi sepakbola Belanda yang belakangan sedang menurun bisa kembali terangkat.

Kini, mereka tinggal memanfaatkan leg kedua semifinal untuk menjaga keunggulan dari Lyon yang pasti akan menyerang habis-habisan untuk mengejar defisit gol. Bila berhasil, baru mereka boleh bermimpi menjadi juara Liga Europa.

*) meskipun kalah 1-3 di leg kedua semifinal, Ajax berhasil lolos ke final Liga Europa karena unggul agregat 5-4 atas Lyon.

Featured Image : eurosport.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s