Torino, J-Stadium, dan Petaka Injury Time

Derby Della Mole, atau dikenal dengan derby Turin adalah salah satu pertandingan derby terpanas di Serie A. Selain untuk menunjukkan siapa yang menguasai kota industri ini, derby ini juga dikenal sebagai pertandingan antara kaum kelas pekerja, yang direpresentasikan Torino, dan kaum borjuis, yang direpresentasikan Juventus.

Setiap kali derby dilangsungkan, tensi pertandingan selalu tinggi. Hal ini dikarenakan selain masalah gengsi kedua kubu, suporter kedua tim juga seringkali melakukan chants yang terkadang sampai membuat kuping panas. Suporter Granata tak ragu untuk mengungkit tragedi Heysel tahun 1985, sedangkan Juventini pun tak ragu mengungkit tragedi Superga tahun 1949. Kondisi ini bahkan sampai membuat pemain seperti Gianluigi Buffon pun gerah mendengarnya.

Layaknya tim-tim Italia lainnya, kedua tim ini juga dikenal saling berbagi stadion selama lebih dari setengah abad, mulai dari Stadio Olimpico, Delle Alpi, dan kembali lagi ke Olimpico. Namun akhirnya Torino menjadikan Olimpico sebagai kandang pribadi setelah Juventus pindah ke J-Stadium tahun 2011. Sejak saat itu, mereka tak lagi berbagi stadion, dan kelihatannya hal itu tak akan pernah terjadi lagi.

Sejak Bianconeri bermarkas di J-Stadium, mereka seperti memiliki tambahan kekuatan baru. Mereka pun menjadi tim yang sangat sulit dikalahkan di kandang. 6 tahun berjalan menghuni J-Stadium, mereka baru kalah 5 kali di seluruh kompetisi! Padahal sudah lebih dari 130 partai yang dijalani Bianconeri di sana sejak 2011.

Yang paling menyenangkan, tentu saja tak ada lagi ‘bau’ Torino di kandang mereka, seperti yang dulu mereka rasakan kala harus berbagi kandang. Mereka kini telah memiliki kandang sendiri dengan sepenuhnya, sehingga setiap kali derby Turin dilangsungkan, Torino tak lagi merasakan pengalaman bermain away rasa kandang, seperti yang dulu dirasakan saat mereka berbagi stadion dengan Juventus. Suporter Juventus pun bisa dengan mudah ‘menghardik’ para Granata yang datang sebagai tamu ke rumah mereka.

Keperkasaan Juventus di kandang pun tak luput dirasakan oleh Emiliano Moretti dan kawan-kawan. Sejak mereka kembali ke Serie A pada musim 2012/13, mereka telah 5 kali berkunjung ke J-Stadium. Hasilnya? Tak sekalipun mereka menang. Meraih poin saja mereka kesulitan.

GettyImages-458563446.jpg
Emiliano Moretti, tak pernah meraih 3 poin di J-Stadium. (Foto: getty images)

Sebenarnya, selama 5 musim terakhir di Serie A, Torino pun menunjukkan penampilan yang baik kala melawan Juventus di J-Stadium, bahkan lebih baik dibandingkan ketika bermain di Olimpico. Setidaknya hal ini didukung fakta bahwa jumlah kebobolan mereka oleh Juventus di Stadio Olimpico lebih banyak ketimbang saat bermain di J-Stadium (11 berbanding 9 gol).

Namun, selama tiga musim terakhir, mereka seringkali kehilangan fokus di menit-menit akhir pertandingan yang begitu krusial, sehingga Juventus berhasil menghukum mereka. Sejarah pun mencatat bahwa dalam 3 partai derby terakhir di J-Stadium, mereka selalu kehilangan poin di masa injury time!

Bila kalian lupa, mari kita melakukan kilas balik 3 partai derby terakhir di kandang Juventus tersebut. Ini dia:

  1. Musim 2014/15 (J-Stadium, 30 November 2014)

Semua dimulai di sini. Pada pekan ke-13 Serie A, Juve mendapat jatah menjamu Torino terlebih dahulu. Mereka pun juga unggul terlebih dahulu melalui tendangan penalti Arturo Vidal di menit 15.

Namun Torino berhasil membalasnya tujuh menit kemudian. Bermula dari serangan Juve yang gagal, Bruno Peres berhasil menyamakan kedudukan berkat aksi solo run-nya yang menyisir sisi kanan lapangan yang diakhiri sebuah tendangan keras yang menembus jala gawang Marco Storari.

Di babak kedua, duel derby yang sengit menjurus kasar itu akhrinya meminta korban, yaitu Stephan Lichtsteiner. The Swiss Express harus meninggalkan lapangan setelah menerima kartu kuning kedua.

Namun, alih-alih mendapat petaka karena bermain dengan 10 orang, Juventus justru mendapat sebuah berkah. Berawal dari keberhasilan Leonardo Bonucci merebut bola dari Marco Benassi di sisi kiri lapangan, bola yang lepas langsung diambil oleh Patrice Evra, yang tanpa basa basi langsung mengopernya kepada Alvaro Morata.

Morata yang berada di sisi kiri penyerangan, menggiring bola sebentar, namun tak menemukan ruang untuk menembak, sehingga ia memilih mengumpan bola tersebut pada Vidal yang berada di depan kotak penalti.

Sekilas, setelah menerima bola, Vidal terlihat ingin menembak, itu sebabnya 3 pemain belakang Torino langsung menutup gerak Vidal. Namun disitulah kecerdikan Vidal. Melihat para pemain Torino semuanya bergerak ke arahnya, ia langsung mengumpan bola tersebut pada Andrea Pirlo yang berada di belakangnya.

Pirlo, yang tak terjaga, langsung melepaskan tembakan keras di sisa waktu injury time yang hanya 6 detik itu. Tendangannya melesat ke sudut kanan bawah gawang Torino tanpa bisa ditepis Jean-François Gillet. Juve akhirnya menang 2-1.

Pirlo
Satu dari sedikit gol Pirlo di Juve yang tak berasal dari tendangan bebas.
  1. Musim 2015/16 (J-Stadium, 31 Oktober 2015)

Waktu itu, Juve sedang berada di periode buruk mereka setelah hanya menang 3 kali dalam 10 partai liga dan tercecer di papan tengah. Di pekan ke-11 Serie A, sialnya mereka harus bertemu rival sekota, Torino.

Meski demikian, Juve tetap berusaha menjaga nama besar mereka. Paul Pogba berhasil membawa Juve unggul terlebih dahulu di babak pertama lewat tendangan volinya di menit 19 yang melesat masuk di sudut kiri atas gawang Torino yang dijaga oleh Daniele Padelli.

Namun di babak kedua, Il Toro bangkit. Berawal dari sebuah tendangan bebas yang dilepaskan Cesare Bovo, tendangan tersebut mengenai tubuh rekan setimnya, Daniele Baselli. Bola yang memantul itu langsung di tendang kembali oleh Bovo, kali ini menjadi gol.

Setelah itu, Torino mulai mengimbangi permainan Juve. Bahkan, mereka mampu membuat Gianluigi Buffon setidaknya melakukan 3 penyelamatan penting di babak kedua. Sayangnya, Torino kembali mengulangi kesalahan yang sama seperti tahun sebelumnya, yaitu hilang fokus di saat-saat terakhir. Pada menit 90+2, petaka itu muncul lagi.

Berawal dari serangan di sisi kiri yang dilakukan Evra, ia kemudian mengumpan bola pada Pogba. Dijaga dua pemain, ia dengan cermat memberikan bola itu dengan tumitnya kepada Hernanes yang lalu menggiring bola tersebut ke depan. Sebenarnya kala itu Andrea Belotti mampu mencuri bola dari kaki Hernanes dan kemudian Kamil Glik pun membuangnya. Sayang, clearance yang dilakukan Glik sangat lemah sehingga bola itu kembali diambil Pogba.

Pogba pun langsung memberikan bola itu kepada Evra yang sudah melakukan overlap. Tanpa menunggu lama, Evra memberikan umpan silang mendatar ke depan gawang Torino. Bola yang bergulir pun berhasil melewati 5 pemain Torino (termasuk kiper) dan jatuh di kaki Juan Cuadrado yang langsung menyosor bola itu ke dalam gawang Torino yang kosong. Juve pun unggul 2-1 dengan sisa 1 menit injury time, yang sayangnya tak mampu digunakan Torino untuk menyamakan kedudukan.

Sial bagi klub-klub Serie A lainnya, kemenangan atas Torino ini menjadi pemicu Juve untuk bangkit. Setelah itu, mereka pun langsung tak terbendung, dengan mencetak 24 kemenangan dalam 25 partai. Di akhir musim, Juve kembali menjadi juara.

Cuadrado
Jika tak ada gol Cuadrado, mungkin momentum kebangkitan Juve musim lalu tak akan muncul.
  1. Musim 2016/17 (J-Stadium, 6 Mei 2017)

Yang ini baru saja terjadi kemarin, di pekan ke-35 Serie A. Pada derby Turin ke-5 yang diselenggarakan di J-Stadium, Juve yang ingin mengunci gelar scudetto di pekan ini berusaha menyerang Torino sepanjang laga, namun Granata mampu tampil baik dan meladeni Juve. Bahkan mereka unggul terlebih dahulu di babak kedua lewat tendangan bebas Adem Ljajic di menit 52 yang tak bisa dihalau oleh Neto.

Sayang, sebuah musibah bagi Torino muncul di menit 57. Afriyie Acquah mendapat kartu kuning kedua setelah secara kontroversial menekel Mario Mandzukic yang hendak melakukan serangan balik. Kartu merah ini diperdebatkan pihak Torino karena sebenarnya Acquah mampu menendang bola dengan bersih terlebih dahulu sebelum kakinya menekel Mandzukic. Namun wasit berbicara lain.

Berbeda dengan Juve yang berhasil mencetak gol kemenangan di tahun 2014 setelah bermain dengan 10 orang, Torino justru gagal mengamankan keunggulan. Di menit 90+1, petaka itu muncul. Berawal dari kemenangan duel udara Kwadwo Asamoah atas dua pemain Torino, bola liar hasil duel tersebut langsung diumpan Sami Khedira kepada Miralem Pjanic yang dengan sekali kontrol langsung kembali mengumpankannya kepada Gonzalo Higuain.

Dengan sekali kontrol, Higuain kemudian langsung menendang bola tersebut dengan keras ke sisi kanan bawah gawang Torino yang dijaga Joe Hart. Skor pun menjadi 1-1 dan bertahan sampai akhir. Meskipun Torino akhirnya memperoleh poin pertamanya di J-Stadium, namun hasil ini tentu menyakitkan bagi Torino karena mereka gagal memperoleh kemenangan.

Higuain
Gol ke-32 Higuain bersama Juve musim ini.

***

Bagi para Juventini, kilas balik ini menjadi sebuah kesenangan, namun tidak bagi para Granata. Mereka dipastikan ingin melupakan 3 partai ini dan berusaha memutus tren ini musim depan.

Sebagai penutup, berikut ini ada sedikit trivia dari 3 partai Derby Della Mole tersebut.

  • Gol yang semakin tak dramatis

Torino selalu kebobolan di injury time babak kedua, (ini sudah tahulah ya, kan udah dibahas hehe) namun tingkat dramatis gol-gol yang diciptakan Juve semakin menurun. Saat Pirlo mencetak gol, waktu pertandingan tersisa 6 detik, kemudian 1 menit 4 detik pada gol Cuadrado, dan 2 menit 49 detik pada gol Higuain.

  • Selalu lewat kiri

Jika kalian memperhatikan, ketiga gol Juve di injury time tersebut semuanya berasal dari serangan yang dibangun dari sisi kiri penyerangan Juve. Entah memang kebetulan atau tidak.

  • Selalu ganti kiper

Jika kalian memerhatikan tulisan ini dengan seksama, kalian akan menemukan bahwa Juventus dan Torino sama-sama memakai 3 kiper yang berbeda dalam  3 partai derby tersebut. Juventus diwakili Marco Storari, Gianluigi Buffon, dan Neto. Sedangkan Torino diwakili Jean-François Gillet, Daniele Padelli, dan Joe Hart.

  • Tidak pernah absen

Mengapa di paragraf ke-6 tulisan ini disebut ‘Emiliano Moretti dan kawan-kawan’, bukannya Andrea Belotti atau Joe Hart yang lebih populer? Alasannya sederhana, karena ia adalah satu-satunya pemain Torino yang ikut bermain di 3 partai tersebut.

Featured Image: Getty Images/Valerio Pennicino

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s