Titik Terendah Blackburn Rovers

Blackburn sedikit demi sedikit bergerak menuju arah yang salah.

Tidak ada yang pasti dalam sepakbola. Pemain muda bersinar yang bermain baik di satu musim bisa saja rusak karirnya beberapa tahun berselang, seperti yang dialami Sebastian Deisler. Klub yang berhasil menjadi juara liga musim lalu belum tentu akan juara lagi musim depan, seperti Leicester City. Bahkan, klub yang dahulu kaya raya bisa saja menjadi pesakitan dan mengalami kebangkrutan, seperti yang pernah dialami Glasgow Rangers. Ya, arah angin bisa berubah dengan cepat di sepakbola.

Begitu juga yang dialami oleh Blackburn Rovers. Menjadi juara Premier League di musim 1994/95 dan menjadi klub elit di pertengahan 90-an, siapa yang menyangka bahwa dua dekade setelahnya, mereka justru mengalami hal yang berkebalikan.

Pada 7 Mei lalu, mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka harus terdegradasi ke League One, kasta ketiga sepakbola Inggris. Hal ini terjadi setelah mereka menduduki posisi 22 klasemen akhir Football League Championship (setingkat dibawah Premier League) dengan perolehan 51 poin, meskipun di pekan terakhir menang atas Brentford 3-1.

skysports1
Reaksi para pemain saat tahu mereka resmi terdegradasi. (Foto: skysports)

Hal ini dikarenakan dua pesaing mereka dalam usaha survival di Championship, Birmingham City dan Nottingham Forest, juga berhasil memenangkan pertandingan terakhir mereka. Poin dan selisih gol mereka di klasemen akhir pun lebih baik ketimbang Rovers, sehingga klub berlambang bunga mawar itulah yang harus turun kasta.

Hasil ini membuat mantan klub Alan Shearer ini menjadi juara Premier League pertama yang berlaga di League One. Jika diperhatikan lagi, para mantan juara Premier League yang berlaga di Championship setelah menjadi juara pun hanya mereka, sedangkan Manchester United, Arsenal, Chelsea, Manchester City, dan Leicester City saat ini masih menikmati indahnya persaingan ketat Premier League.

Buruk sejak awal musim

Sebenarnya, hasil mengecewakan ini bukanlah sebuah kejutan. Selama 5 musim berlaga di Championship sejak terdegradasi dari Premier League di musim 2011/12, Rovers tak pernah menunjukkan tanda-tanda akan kembali lagi ke Premier League. Justru mereka hanya menjadi tim level medioker di Championship, dengan peringkat yang angin-anginan. Selama 4 musim sebelumnya posisi mereka di klasemen akhir adalah peringkat  17, 8, 9, 15.

Namun musim 2016/17 adalah segala puncak kehancuran yang dialami Rovers. Selama semusim penuh, Danny Graham dan kawan-kawan sangat akrab dengan zona degradasi. Hanya selama 8 pekan mereka berada diluar zona tersebut, itu pun paling tinggi di peringkat 20.

thesun
Tony Mowbray, berhasil memberikan dampak positif, namun tak punya waktu yang cukup. (Foto: the sun)

Sampai pekan 31, mereka sudah kalah sebanyak 16 kali dan hanya menang 7 kali, serta menghuni posisi 23, setingkat dibawah juru kunci. Kondisi ini membuat manajer Owen Coyle mundur dari jabatannya.

Penggantinya, Tony Mowbray, memang mampu meraih hasil yang lebih baik di 15 partai sisa. Ditangannya, Rovers hanya kalah 3 kali, menang 5 kali, dan meraih 8 kali seri. Namun hasil itu tak mampu menolong Rovers untuk bertahan. Bisa dibilang, Mowbray telat datang untuk memberikan dampak positif kepada klub.

Nottingham, tim yang berada di batas bawah zona aman, sebenarnya mengumpulkan poin yang sama dengan Rovers, namun mereka memiliki selisih gol yang lebih baik, yaitu -10 gol, sedangkan Rovers memiliki selisih gol -12.

Selain itu, salah satu faktor buruknya penampilan Rovers adalah karena ketidakmampuan mereka membangun skuad yang mumpuni untuk bersaing di Championship. Hal ini dikarenakan pihak klub benar-benar memangkas anggaran belanja. Skuad mereka pun isinya dipenuhi pemain-pemain muda minim pengalaman, pemain pinjaman, dan pemain berstatus bebas transfer.

Manajemen klub yang (menurut pendukung Rovers) sangat buruk

Kehancuran Rovers disinyalir akibat jatuhnya klub ke tangan yang salah. Semuanya dimulai sejak Venky’s London Limited mengambil klub tersebut di pertengahan musim di bulan November 2010 dengan harga 23 juta Pounds.

New Blackburn Rovers owners Balaji and Venkatesh Rao (R)
Balaji Rao dan Venkatesh Rao, duo pemilik Blackburn Rovers. (Foto: gettyimages)

Pada awal kepemilikan, perusahaan pengolahan daging ayam asal India yang dipimpin keluarga Rao ini menjanjikan banyak hal pada publik Ewood Park, mulai dari mendatangkan bintang Brasil, Ronaldinho, hingga menargetkan Rovers menjadi tim papan atas Premier League dan bermain di Liga Champions lagi. Sayangnya, hal itu hanyalah janji di mulut saja.

Venky’s Group justru membuat langkah-langkah yang kontroversial, bahkan sejak awal menguasai Rovers. Mereka memberhentikan para direksi lama Rovers, orang-orang yang sudah menjalankan klub sejak lama. Bahkan kurang dari sebulan berkuasa, mereka langsung memecat Sam Allardyce, manajer Rovers kala itu, dan menunjuk Steve Kean, salah satu staff Allardyce, sebagai penggantinya. Padahal kala itu Rovers sedang menempati posisi 13 klasemen Premier League dengan raihan 21 poin, hasil yang tak buruk-buruk amat.

Penunjukkan Kean sangat kontroversial, apalagi jika melihat reputasinya. Rovers adalah klub pertamanya sebagai manajer. Selain itu, keputusan tersebut dianggap dipengaruhi oleh Jerome Anderson, agen Kean. Kecurigaan ini berawal dari kabar bahwa Venky’s Group pun membeli Rovers setelah mendapatkan saran dari Anderson. Di bawah asuhan Kean, Rovers terdegradasi ke Championship pada tahun 2012.

Semenjak itu, desakan para suporter untuk meminta Venky’s Group pergi meninggalkan klub, yang awalnya sudah besar, makin menjadi-jadi. Alasannya sederhana. Alih-alih menjadikan Rovers klub yang hebat, mereka malah membawa tim kebanggaan Lancashire itu ke jurang degradasi. Janji-janji pun tak ada yang ditepati. Selain itu, mereka pun dianggap tak tahu cara mengelola klub sepakbola yang benar.

Sebuah film dokumenter tentang kehancuran Rovers dibawah naungan Venky’s Group pun pernah dibuat pada musim panas 2012, tak lama setelah Rovers terdegradasi ke Championship.

Cara Venky’s Group mengelola Rovers-lah yang membuat protes-protes bermunculan, baik di dalam maupun di luar stadion. Ketidaksetujuan terhadap Venky’s Group ini terus dilancarkan suporter Rovers selama 6 tahun terakhir. Bahkan mereka mulai memboikot dengan tidak datang ke stadion.

Di musim ini saja, dari 23 partai kandang di Championship, hanya 4 kali Ewood Park terisi lebih dari 14.000 penonton. Bahkan angka penonton yang hadir sempat berada di bawah angka 10 ribu, yaitu saat melawan Brighton & Hove Albion di pekan 21 (9.976 penonton). Padahal Ewood Park mampu menampung 31.367 penonton. Penonton yang hadir sebenarnya juga tak mendukung kebijakan Venky’s Group, namun mereka merasa para pemain butuh dukungan.

lancashire
Satu dari sekian banyak spanduk yang pernah muncul di Ewood Park selama 6 tahun terakhir. (Foto: lanchasire telegraph)

Seakan memperparah kondisi klub, utang Rovers kini pun mencapai 106 juta Pounds. Selain itu, Venky’s Group pun terbilang jarang muncul di Ewood Park. Menurut Glen Mullan, seorang suporter Rovers, mereka tak pernah muncul di stadion selama 2 tahun terakhir. Hal ini seperti menunjukkan ketidakseriusan pemilik klub untuk membangun Rovers.

Bahkan menurut Mowbray, satu-satunya jajaran direksi yang pernah ia temui sejak menggantikan Coyle di bulan Februari hanyalah Paul Senior, direktur sepakbola dan operasional Rovers yang baru menjabat di bulan Januari. Sehari setelah Rovers terdegradasi pun Senior langsung mengundurkan diri.

Dan ketika Rovers terdegradasi, Venky’s Group dengan tenangnya membuat pernyataan resmi seolah-olah mereka merasakan kepahitan yang sama seperti yang dirasakan para suporter Rovers. Mereka pun menganggap bermain di League One musim depan hanyalah ‘kemunduran sementara’ dan yakin bahwa mereka akan meraih tiket promosi untuk kembali ke Championship.

venkys1
Dibuat di Blackburn, dirusak di India. (Foto: unilad.co.uk)

Kemunduran sementara. Sebuah pernyataan yang tak akan disetujui oleh para penduduk kota Blackburn. Karena bagi mereka, kemunduran sudah terjadi sejak lama dan sampai saat ini mereka belum lagi bergerak maju. 7 musim berada di bawah naungan Venky’s Group, mereka sudah mengalami degradasi sebanyak dua kali.

Semua bersatu menyalahkan Venky’s

Jika ada satu hal positif yang bisa dilihat dari kondisi yang dialami Rovers, itu adalah kekompakan para mantan pemain, suporter, hingga politisi kota Blackburn yang sama-sama menyalahkan pemilik klub. Berikut ini adalah beberapa kutipan dari orang-orang yang terkait dengan Rovers.

“(Aku merasa) sedih untuk klub dan para suporter (atas terdegradasinya Rovers). (Namun) pemilik klub pantas mendapatkannya.”– Alan Shearer, mantan striker Rovers 1992-96.

“Selalu susah untuk membuat skuad ini (mampu) bertahan di Championship. Dan jika mereka tidak terdegradasi musim ini, mungkin mereka akan mengalaminya musim depan. Blackburn bisa saja terjun bebas. (Bila bermain di League One), kesempatan mereka untuk terjun ke League Two (setingkat di bawah League One) lebih besar dibanding promosi ke Championship.” –Chris Sutton, mantan striker Rovers 1994-99.

geety
Shearer dan Sutton tak akan menyangka bahwa dua dekade setelah ini Rovers menjadi klub semenjana. (Foto: gettyimages)

“Mereka (Venky’s Group) tak mengerti sepakbola. Mereka juga tak mengerti masyarakat kota Blackburn.” – Kevin Gallacher, mantan striker Rovers 1993-99.

“Venky’s perlu melibatkan suporter dan menjelaskan rencana mereka di masa depan.” – Kate Hollern, anggota parlemen Blackburn dari Partai Buruh.

“Sangat penting bagi pemilik untuk mengetahui kerusakan yang telah mereka lakukan, tak hanya terhadap klub, namun terhadap daerah ini. Mereka berjanji untuk mendatangkan Ronaldinho dan membuat Rovers menembus 4 besar di Premier League. Pada satu momen, mereka (Venky’s Group) akan beruntung bila berhasil membuat Rovers berada di 4 besar League One.” – Graham Jones, anggota parlemen Hyndburn, Lanchasire dari Partai Buruh.

“Hasil di tempat lain? Ada 46 partai sepanjang musim, (dan Rovers) tak bermain bagus (musim ini).” – cuitan @yesitsemmaa, suporter Rovers, di twitter saat pemilik klub mengeluarkan pernyataan bahwa Rovers terdegradasi karena dipengaruhi hasil yang diperoleh Birmingham dan Nottingham.

***

Hasil pahit ini tentunya membuat perasaan suporter Rovers campur aduk. Sedih dan marah bercampur jadi satu. Ironisnya, mereka tak bisa apa-apa selain menuntut Venky’s Group menjual Rovers ke pihak yang lebih peduli dengan klub, kota Blackburn, dan para penduduknya.

br
Prestasi Rovers di liga selama dikuasai keluarga Rao. Bisakah berada di papan atas League One musim depan? (Foto: skysports)

Musim depan, Rovers akan menjalani musim pertama mereka di kasta ketiga sepakbola Inggris setelah terakhir kali ada di sana pada tahun 1980. Para pemain Rovers pasti akan berusaha keras untuk Rovers kembali lagi ke Championship. Jika dipercaya kembali musim depan, Mowbray pun berharap bahwa ia bisa memperoleh pemain-pemain yang tepat.

Namun, semua itu bisa tercapai bila klub dijalankan dengan tepat pula. Sekarang yang bisa dinanti adalah bagaimana langkah yang dipilih pihak Venky’s Group untuk mengatasi krisis yang dialami Rovers saat ini. Caranya ada dua. Pertama, bisa jadi mereka akan bersedia menjual klub. Atau, mungkin mereka akan melakukan pembenahan besar-besaran dalam manajemen klub, meskipun pilihan yang terakhir rasanya akan diragukan para suporter Rovers.

Sebagai salah satu klub tradisional Inggris, layak dinanti kiprah mereka di League One musim depan, apakah Rovers bisa kembali ke jalan yang benar, atau justru semakin terbenam.

Featured Image : skysports

Advertisements

2 thoughts on “Titik Terendah Blackburn Rovers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s