Awas Terpeleset, Juve!

Impian treble bisa melayang.

Juventus adalah tim urutan terdepan dalam ajang perburuan gelar di seantero Eropa. Mereka adalah satu-satunya tim di Eropa yang sejauh ini masih berpeluang meraih 3 gelar bergengsi (treble), yaitu liga domestik (Serie A), piala domestik (Coppa Italia), dan kompetisi antarklub Eropa (Liga Champions).

Memimpin klasemen liga hampir sepanjang musim, mampu menembus final Coppa Italia, dan berada di final Liga Champions. Hasil tersebut telah menuai banyak pujian dari berbagai pihak.

Hanya saja, pujian-pujian tersebut harus mulai dilupakan Juve. Pasalnya, mereka mulai menunjukkan tanda-tanda kelengahan saat ini. Hal ini terlihat saat mereka dikalahkan oleh AS Roma 3-1 di Stadio Olimpico. Hanya membutuhkan hasil seri untuk mengunci gelar scudetto keenam secara beruntun, Juve malah membuat harapan Roma meraih gelar Serie A kembali hidup.

roma
Daniele De Rossi & Leandro Paredes, masih berpeluang juara. (Foto: source)

Kekalahan ini pun membuat mereka telah melalui 3 pertandingan Serie A terakhir tanpa kemenangan, setelah sebelumnya bermain imbang dengan Atalanta dan Torino. Dengan menyisakan 2 partai, Bianconeri mau tak mau harus mengunci kemenangan saat melawan Crotone hari Minggu, 21 Mei mendatang. Jika tidak, mereka akan semakin tertekan.

Hilang fokus di Serie A?

Sebenarnya, jika melihat perjalanan Juventus selama kurun waktu April-sekarang, mereka sedikit mulai tersendat, terutama di kompetisi domestik. Dalam 12 partai terakhir, mereka mencatat 6 kemenangan, 4 seri, dan 2 kekalahan. Tren Juve yang menurun ini membuat jarak Juve dengan Roma di klasemen menjadi terpangkas, dari 8 poin pada bulan April (pekan 29) menjadi 4 poin saat ini (pekan 36).

Khusus di Serie A, mereka berhasil menang 3 kali, kalah sekali, dan 3 kali seri. Sedangkan di Coppa Italia, mereka mengalami sekali kekalahan, tepatnya di semifinal leg kedua melawan Napoli (3-2). Untung saja kala itu mereka sudah menang 3-1di leg pertama, sehingga mereka tetap melenggang ke final. Hanya di Liga Champions-lah mereka meraih hasil positif, yaitu 3 kali menang dan sekali seri.

3ACC26EE00000578-0-image-a-98_1480259260569
Juan Cuadrado, mulai kesulitan menang di Serie A. (Foto: source)

Bila diperhatikan, hasil-hasil negatif ini mulai muncul di saat jadwal Juve makin ketat. Terhitung selama periode 2 April-21 Mei, Juve harus memainkan 14 partai (12 sudah dimainkan), dengan jarak terjauh adalah 5 hari. Memang, ini tak ada apa-apanya dibandingkan jadwal Manchester United, namun tetap saja intens.

Jangan lupa, tekanan untuk Juve pun makin meningkat. Menjelang akhir kompetisi, dimana Juve masih berpeluang juara di 3 kompetisi, maka mental pemain pun juga semakin dikuras karena setiap partai, terutama di Liga Champions, menjadi sangat penting. Kehilangan satu partai bisa berakibat fatal bagi Juve.

Oleh karena itu, pelatih Juve, Max Allegri, harus pandai merotasi pemain-pemainnya. Dan tampaknya ia memilih untuk melakukan hal tersebut di Serie A, mengingat mereka punya keunggulan angka yang lumayan. Apalagi 3 partai Serie A terakhir yang telah dimainkan Juve juga diselingi oleh dua partai semifinal Liga Champions (melawan Monaco) dan final Coppa Italia (melawan Lazio).

jadwaljuve
Jadwal Juve kala mereka gagal menang di 3 partai terakhir Serie A. Padat.

Saat melawan Roma kemarin pun Allegri mengistirahatkan beberapa pemain intinya seperti Girogio Chiellini dan Alex Sandro. Paulo Dybala dan Dani Alves juga baru diturunkan saat Juve sudah ketinggalan.

Dengan partai final Coppa Italia sudah menunggu di depan mata, rasanya wajar jika Allegri merotasi pemain-pemainnya. Apalagi kalah melawan Roma tak lebih berbahaya ketimbang kalah dari Lazio (taruhannya gelar nih). Masih ada 2 partai sisa untuk mengunci gelar Serie A, yaitu melawan Crotone (21 Mei) dan Bologna (28 Mei).

Namun, Juve tak boleh main-main melawan Crotone. Mereka sedang berjuang lolos dari degradasi dan sedang berada dalam tren yang bagus. Mereka tak terkalahkan dalam 7 partai terakhir Serie A, 5 diantaranya meraih kemenangan. Hasil yang jauh lebih baik dari hasil Juve di Serie A belakangan ini.

Ambisi besar di Liga Champions

Kompetisi ini memang menjadi target utama Juve musim ini. Alasan inilah yang membuat Juve sampai berani membayar Napoli sebanyak 90 juta Euro untuk mendapatkan Gonzalo Higuain, disamping memperkuat sektor lainnya dengan mendatangkan Dani Alves, Medhi Benatia, dan Miralem Pjanic. Ambisi Juve yang besar membuat manajemen rela bersikap royal namun tetap cermat.

Hasilnya, perjalanan Juve di Liga Champions musim ini pun sangat mengagumkan. Dalam 12 partai, mereka hanya mengalami seri 3 kali dan meraih kemenangan di 9 partai lainnya. Bahkan mereka mencatatkan cleansheet dalam 9 partai, termasuk dua partai melawan Barcelona yang hobinya ngebantai lawan itu.

italy-soccer-champions-league_3a4992f8-34f6-11e7-b30b-76e7402dac55
Mereka begitu perkasa di Liga Champions musim ini. (Foto: source)

Ambisi di kompetisi inilah yang mungkin membuat mereka sedikit kehilangan konsentrasi di ajang lainnya, khususnya di Serie A dimana mereka sempat unggul banyak. Namun hal ini tak boleh menjadi alasan.

Dengan memiliki target meraih treble, tentu Juve tak boleh mengorbankan satu pun partai yang tersisa di musim ini. Karena sekali saja mereka mengalami kekalahan lagi (baik di Serie A atau Coppa Italia), itu bisa mempengaruhi mental mereka untuk melawan Real Madrid di final Liga Champions, partai penutup Juve di musim ini.

***

Kekalahan dari Roma ini bisa menjadi semacam wake up call bagi Juve. Saat pertandingan musim ini tersisa semakin sedikit, maka ruang untuk membuat kesalahan pun juga semakin sedikit dan semakin berisiko. Hal ini pun diamini oleh Allegri.

“Saya pikir kami lengah dan berpikir sudah tampil cukup bagus untuk dapat hasil. Faktanya kami imbang dengan Atalanta dan Torino, kemudian kalah di sini (melawan Roma), itu menunjukkan kami kehilangan sesuatu dalam hal konsentrasi.

Paling tidak ini jadi peringatan jelang final Coppa Italia di hari Rabu melawan Lazio. Kami menjalani babak pertama yang bagus (saat melawan Roma), kami hanya harus tetap padu dan tidak membiarkan peluang-peluang (untuk lawan) datang.”Max Allegri, seusai laga melawan Roma, dikutip dari detik.

bayern_munich_champions_league_final_2012.jpg
Bayern Munchen di tahun 2012, kehilangan semua gelar yang ada di depan mata. (Foto: source)

Ya, Juve harus ingat bahwa mereka belum memenangi apapun. Mereka harus fokus kembali agar ambisi meraih treble benar-benar menjadi kenyataan. Mungkin mereka perlu berkaca dari pengalaman Bayer Leverkusen (musim 2001/02) dan Bayern Munchen (musim 2011/12) yang kala itu berpeluang meraih treble, tapi ujung-ujungnya gagal memenangi apapun di akhir musim.

Bila tak mau mengalami nasib serupa, sebaiknya Juve kembali fokus, dimulai dari melawan Lazio pada Rabu nanti. Bisa, Juve?

* Sejauh ini Juventus sudah berhasil meraih gelar Serie A dan Coppa Italia, jadi bisa dibilang mereka tidak terpeleset dan berhasil menjaga konsentrasi dengan baik. 

 

Featured Image : Reuters / Stefano Rellandini

Advertisements

2 thoughts on “Awas Terpeleset, Juve!

  1. Menurut saya Juve kemarin sebenarnya tampil cukup bagus, tapi cuma sampai sebelum gol kedua Roma. Setelah itu hancur.
    Yang paling terlihat mengecewakan adl Cuadrado. Kemarin malam permainannya seperti Okto Maniani. Padahal dia harusnya fresh karena nggak jd starter di SF UCL.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s