90 Menit Terakhir Untuk Lahm

Bila kalian semua adalah pecinta Bayern Munchen, khususnya Philipp Lahm, maka sebaiknya jangan lewatkan pekan terakhir Bundesliga 2016/17 antara Bayern melawan Freiburg pada 20 Mei nanti. Karena jika tak ada aral melintang, mantan skipper timnas Jerman berusia 33 tahun tersebut akan menjalani partai terakhirnya di Bundesliga sekaligus partai resmi terakhirnya sebagai pesepakbola.

Ya, mulai musim depan, tak akan ada lagi nama Lahm di daftar skuad Bayern. Meskipun masih memiliki 2 tahun sisa kontrak di Bayern, namun Lahm sudah membulatkan tekadnya sejak Februari lalu.

“Saya akan berkomitmen memberi yang terbaik setiap hari di semua sesi, latihan maupun pertandingan buat Munchen. Saya optimistis bisa melakukan itu sampai akhir musim, tapi tidak bisa di musim depan. Karena itulah menjadi alasan saya untuk berhenti.” – Philipp Lahm, Februari 2017

family.jpg
Lahm, bersama istrinya, Claudia, dan anaknya, Julian. (Foto: source)

Ingin fokus terhadap keluarga diperkirakan menjadi alasan ia pensiun. Meski keputusannya mengejutkan banyak pihak, namun akhirnya semua menghormati keputusannya. Mengingat apa yang telah dipersembahkannya untuk klub dan negaranya, rasanya pantas bila ia dipersilahkan membuat keputusan yang sesuai dengan keinginannya sendiri.

Sebagai tribut untuknya sebelum pensiun, mari mengingat beberapa hal positif tentang Lahm. Ini dia.

Pemain yang serba bisa

Lahir dan besar di Munchen, hatinya pun tertaut kepada Bayern. Bergabung dari jenjang akademi sejak usia 11 tahun dan pernah menjadi ballboy untuk Bayern, ia pun akhirnya menjadi salah satu pemain akademi yang ‘lulus’, dalam artian mampu menembus skuad utama Bayern.

Ia menjalani debutnya bersama Bayern pada usia 19 tahun, tepatnya di Liga Champions musim 2002/03. Setelah itu, ia dipinjamkan ke Stuttgart selama 2 musim, sebelum kembali ke Bayern dan melanjutkan perjalanannya menjadi legenda The Bavarians sampai sekarang.

Perjalanannya di Stuttgart pun menyisakan kisah menarik. Sadar bahwa persaingan di tim utama Bayern sangat ketat, pelatih tim reserve Bayern kala itu, Hermann Gerland, mencari cara agar ia bisa bermain reguler. Gerland pun menyodorkan Lahm pada Felix Magath, pelatih Stuttgart kala itu.

Magath kala itu bertanya pada Gerland, apa posisi bermain Lahm. Apa jawaban Gerland ? “Bek kiri, bek kanan, gelandang kanan, atau gelandang tengah. Terserah!” Magath pun bersedia merekrutnya setelah melihat permainan Lahm. Tambahan pemain versatile (serba bisa) di dalam skuad tentu merupakan sebuah keuntungan, meski selama di Stuttgart, Lahm banyak bermain sebagai bek kiri.

703fd78eb5f9638a3eaf6a1f482c85b9
Jauh sebelum dilatih Pep, ia sudah bisa bermain sebagai gelandang bertahan. (Foto: source)

Ya, kemampuan Lahm beradaptasi di posisi manapun ini sudah berlangsung sejak dilatih Gerland di Bayern junior. Itu sebabnya kala posisi bermainnya diubah oleh Josep Guardiola menjadi gelandang bertahan, ia pun tetap mampu bermain dengan cemerlang. Bahkan, Guardiola mengatakan bahwa Lahm adalah pemain yang bisa bermain di posisi apa saja, kecuali kiper.

Kemampuannya dalam penguasaan bola, melakukan cut-inside, membaca permainan, serta mengumpan dengan baik adalah beberapa contoh kehebatan yang dimilikinya.

Lahm pun juga handal dalam membuat assist, meski tak sebanyak para gelandang kreatif seperti Xavi Hernandez atau Mesut Ozil. Sepanjang karirnya di level klub, ia sudah mampu mencetak 78 assist, 72 diantaranya untuk Bayern. Selain itu, ia juga telah mencetak 19 gol sepanjang karir bermainnya di level klub, dengan rincian 16 untuk Bayern dan 3 untuk Stuttgart.

Mampu menyelesaikan masalah

Sebagai manusia yang sempurna, Lahm pun tak lepas dari kontroversi. Meskipun ia adalah orang yang cukup low-profile di kalangan pesepakbola, namun ucapannya terkadang mampu menyulut api pertengkaran.

Kalian tentu masih ingat kisahnya yang menolak mengembalikan jabatan kapten timnas Jerman kepada Michael Ballack setelah Piala Dunia 2010, sesuatu yang membuat Ballack dan Lahm sedikit berseteru. Apalagi Lahm kala itu hanya berstatus kapten untuk turnamen karena Ballack cedera dan tak bisa bermain.

Singkat cerita, akhirnya Lahm pun tetap memegang jabatan tersebut selama 4 tahun berikutnya. Kondisi fisik Ballack yang tak lagi sama seperti sebelum cedera membuat manajer Jerman, Joachim Loew,  akhirnya menutup pintu timnas untuknya.

ballack
Ia dan Ballack kini baik-baik saja, sama seperti pada tahun 2006 ini. (Foto: youtube)

Lahm pun pernah memicu kontroversi lewat autobiografinya yang terbit di tahun 2011. Dalam bukunya, ia mengkritik beberapa pelatih yang pernah melatihnya, seperti Felix Magath, Jurgen Klinsmann, hingga Louis Van Gaal.

Hal tersebut menjadi aneh mengingat dibawah asuhan pelatih-pelatih tersebut, Lahm tak pernah terpinggirkan. Meskipun laris terjual, buku tersebut pun mengundang kritik, termasuk dari Ottmar Hitzfeld (yang tak ia kritik) dan Rudi Voller (yang ia kritik secara tak langsung).

Selain itu, Lahm juga pernah didenda sebanyak 50 ribu Euro oleh Bayern pada tahun 2009 karena mengkritik kebijakan transfer klub dalam sebuah wawancara dengan surat kabar ternama di kota Munchen, Süddeutsche Zeitung.

Namun setidaknya Lahm sadar bila ia telah memicu sebuah kontroversi, sehingga ia pun mampu menyelesaikan semua masalah tersebut dengan baik. Ia bukanlah pemain yang suka terlibat dalam perseteruan yang berlarut-larut.

Mengenai autobiografinya, ia pun langsung membuat pernyataan maaf karena isi bukunya tersebut dan mengatakan tak bermaksud unuk menyinggung para pelatih yang ada dalam autobiografinya. Hubungannya dengan klub pun tetap baik karena ia mampu menunjukkan kesungguhannya kala membela seragam Bayern.

Begitu juga dengan kisahnya dengan Ballack yang sudah selesai dengan damai. Ini terbukti saat Ballack melangsungkan partai perpisahannya tahun 2013, Lahm pun termasuk dalam daftar pemain yang ikut berpartisipasi. Ya, semua orang pernah salah, namun yang terpenting adalah mengakuinya, meminta maaf dan tak mengulanginya lagi.

Kapten yang menginspirasi

Sejatinya, Lahm adalah pemain yang sudah mengemban ban kapten sejak usia muda. Ia pun sudah merasakan ban kapten sejak bersama tim junior Bayern. Bahkan di Bayern Munchen II (tim reserve Bayern), ia juga pernah menjadi kapten. Meski begitu, ia baru resmi menjabat kapten tim utama Bayern di usia 27 tahun, tepatnya di tahun 2011. Jabatan skipper Jerman pun baru resmi disandangnya pada Juni 2010. Adanya sosok yang lebih senior di Bayern dan timnas Jerman menjadi alasannya.

Tak seperti gaya seorang kapten yang bisanya vokal, gaya kepemimpinan Lahm pun dipengaruhi kepribadiannya yang low-profile. Tenang, namun mampu menjadi contoh yang baik. Joachim Loew pun berujar bahwa Lahm mampu memberikan konsistensi dan standar yang tinggi untuk timnas Jerman.

lahmwc.jpg
Setelah Jerman menjadi juara dunia, Lahm (memegang trofi) memutuskan pensiun dari timnas. (Foto: source)

“Philipp punya aura kepemimpinan yang alami. Dia orang paling bertanggung jawab dan sangat baik dalam hal komunikasi. Dia pemimpin sejati. (Selain itu) Philipp (juga) pemain profesional yang siap memberikan apa saja untuk sukses.” – Joachim Loew, pelatih timnas Jerman

Dibawah kepemimpinannya (dan kehebatan manajemen dan tim pelatih Bayern tentunya), Bayern perlahan menjadi tim yang kembali dihormati di Eropa (sesuatu yang tak mereka alami di pertengahan tahun 2000an). Selama Lahm menjadi kapten, Bayern telah meraih 5 gelar Bundesliga, 3 DFB Pokal, dan 1 Liga Champions, yang diraih tahun 2013.

Saat Lahm menjabat sebagai kapten timnas pun prestasi Die Mannschaft selalu baik. Puncaknya tentu saja saat mereka menjuarai Piala Dunia 2014, turnamen terakhir Lahm, dengan mengalahkan sang musuh bebuyutan, Argentina.

***

Ada 90 menit tersisa bagi Lahm untuk memberikan yang terbaik untuk Bayern. Selama itu pula waktu yang tersisa untuk para suporter Bayern yang ingin melihat aksi permainannya. Di Allianz Arena, kandang kebesaran Bayern, Lahm akan menutup perjalanan karirnya. Sebuah karir yang panjang dan penuh prestasi.

Belum jelas langkah apa yang akan ia tempuh selanjutnya. Namun yang jelas, namanya sudah terpahat resmi sebagai legenda Bayern, timnas Jerman, dan juga dunia sepakbola secara keseluruhan.

Auf Wiedersehen, Philipp.

*) Sebagai penutup, berikut ini adalah sebuah gol dari Lahm yang paling saya ingat sepanjang karirnya. Mungkin paling diingat oleh kalian juga.

lahm.gif
Gol pembuka Piala Dunia 2006.

Featured Image : les-transferts.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s