Hukuman Untuk Penipu

Federasi sepakbola tertua di dunia, Football Association (FA) berencana menerapkan aturan baru di liga Inggris, yaitu berkaitan dengan aksi diving (berpura-pura jatuh/dilanggar). Mulai musim depan, FA akan memberikan larangan bermain sebanyak 2 pertandingan bagi pemain yang dianggap melakukan ‘aksi penipuan terhadap ofisial pertandingan’.

Aturan ini pun sudah disetujui oleh badan-badan yang terkait dengan sepakbola Inggris, seperti English Football League, The League Managers Association, dan The Premier League and the Professional Footballers’ Association.

Larangan tersebut ditujukan bagi para pemain yang ‘berhasil’ melakukan diving tanpa terkena hukuman wasit dalam sebuah pertandingan. Aturan ini diharapkan dapat mengurangi aksi diving yang mulai sering terjadi di liga Inggris, khususnya kasta tertinggi mereka, Premier League.

Bagaimana cara kerja aturan ini? Well, nantinya akan terdapat panel juri independen yang terdiri dari mantan pemain, mantan wasit, dan mantan pelatih. Mereka-lah yang akan melakukan aksi retrospektif, yaitu menilai dan mencermati sebuah insiden terduga diving lewat rekaman video.

Snodgrass-dive-610x356.jpg
Robert Snodgrass (kanan), kedapatan melakukan aksi diving yang berbuah penalti musim ini. (Foto: Gareth Copley/Getty Images)

Aksi retrospektif ini dilakukan pada 3 situasi khusus, yaitu sebuah aksi yang diduga menyebabkan penalti, sebuah aksi yang diduga menyebabkan sebuah kartu merah langsung untuk pemain lawan, dan sebuah aksi yang diduga menyebabkan pemain lawan diusir dari permainan (di mana aksi dugaan diving menyebabkan pemain lawan menerima salah satu dari dua kartu kuning yang membuatnya menerima kartu merah).

Jika mereka semua sepakat bahwa insiden tersebut memang diving atau tidak, barulah mereka menyarankan FA untuk mengambil tindakan selanjutnya. Pemain yang terbukti bersalah akan mendapatkan hukuman larangan bermain sebanyak dua pertandingan. Selain itu, pemain lawan yang dirugikan karena aksi diving tersebut (menerima kartu kuning/merah), maka hukumannya akan dihapus.

Penerapan aturan ini bisa dibilang merupakan sebuah cara yang dipilih FA agar sepakbola Inggris semakin menarik, bersih, dan mampu mengurangi resiko munculnya ketidakadilan terhadap keputusan wasit.

Kebijakan FA ini sebenarnya sudah diterapkan oleh ‘saudara’ mereka, Scottish Football Association (SFA) sejak 2011. Selama 6 tahun keberjalanannya, aturan ini tak benar-benar melenyapkan aksi diving dari sepakbola Skotlandia. Namun setidaknya para pemain yang terbukti melakukan aksi diving mendapatkan ganjaran hukuman, dan pemain yang dirugikan dihapus hukumannya. Harapannya, hal yang sama juga terjadi di sepakbola Inggris, sehingga sepakbola Inggris menjadi semakin bersih.

Tulisan terkait : Agar Kelak Wasit Tidak Disalahkan Lagi

Sudah lama diterapkan di Italia

Saat mengetahui bahwa FA baru akan menerapkan aturan ini musim depan membuat saya garuk-garuk kepala. Jadi, selama ini pemain-pemain yang diving itu lolos dari hukuman? Jika memang demikian, mereka ketinggalan banget.

Sedangkan di Italia, menjatuhkan hukuman kepada pemain yang tertangkap melakukan aksi diving yang luput dari penglihatan wasit sudah lama diberlakukan. Sejujurnya, saya tak tahu pasti sejak kapan aturan ini diberlakukan di sepakbola Italia, namun saya menonton pertandingan Serie A musim 2006/07 antara Inter Milan dan AS Roma. Pertandingan itu berakhir dengan kemenangan Roma 3-1, namun Inter sempat menyamakan kedudukan 1-1 lewat penalti Marco Materazzi yang didapat dari aksi diving Adriano Leite.

Setelah pertandingan tersebut, Adriano dijatuhi larangan bertanding sebanyak 2 kali oleh komisi disiplin Serie A akibat aksinya tersebut. Meskipun kala itu keputusan tersebut diperdebatkan oleh kubu Inter karena menghukum seorang pemain dengan bukti tayangan ulang televisi belum dianggap normal, namun kasus itu menjadi bukti bahwa penerapan aturan terkait aksi diving sudah dilakukan di Italia, setidaknya sejak sedekade lalu.

Contoh yang lebih segar terjadi dalam partai derby della capitale antara Roma dan Lazio  pada 30 April lalu. Kevin Strootman yang melakukan aksi diving, yang berbuah penalti untuk Roma, akhirnya dijatuhi hukuman 2 kali larangan bertanding oleh komisi disiplin Serie A.

strootman.gif
Pemain asal Belanda aja jadi jago furbizia kalo udah main di Italia.

Jika dipikir-pikir, rasanya memang wajar jika aturan seperti ini sudah diterapkan di Italia sejak lama. Apalagi negeri pizza itu terkenal dengan aksi furbizia yang sudah diajarkan kepada para pemain-pemain lokal sejak usia belia.

Aturan yang dianggap ‘sampah’

Selalu ada pro kontra dalam sebuah keputusan. Meskipun banyak pihak yang setuju dengan penerapan ‘aksi retrospektif’ ini, namun tidak dengan manajer Crystal Palace, Sam Allardyce. Ia menyebut aturan tersebut ‘sampah’. Alasannya, ia merasa ada aturan lain yang lebih pantas dan lebih efektif untuk dilakukan.

“Gunakan teknologi (video replay) dan kita bisa melihatnya pada saat itu juga (tanpa menunggu pertandingan selesai). (Selain itu) gunakan juga aturan sin bin, jadi kita bisa menghukum pemain tersebut ke sin bin selama 10 menit kemudian ia bisa bermain lagi.” – Samuel Allardyce, terkait penerapan aksi restrospektif.

sam-allardyce-west-ham-football_3289190
Maaf nih sebelumnya, tapi kok s**pah gitu ya aturan barunya. (Foto: Skysports)

Jika dipikir-pikir lagi, ucapan Big Sam kali ini ada benarnya. Rasanya memang lebih cepat bila aturan penggunaan teknologi video yang diterapkan. Kecuali, sepakbola Inggris masih menganut prinsip singkirkan teknologi dari sepakbola karena merusak ‘keindahan’ sepakbola, yang rasanya tak mungkin juga karena liga Inggris pun kini memakai goal-line technology.

Hanya saja, kabarnya musim depan Serie A juga akan menggunakan teknologi Video Assistant Referee, agar aksi-aksi furbizia bisa berkurang dan wasit bisa terhindar dari membuat keputusan kontroversial. Bila sudah begini, Inggris bisa semakin ketinggalan.

Featured Image : telegraph.co.uk

Advertisements

2 thoughts on “Hukuman Untuk Penipu

    1. Iya salah satu kekurangan video replay memang seperti itu mas. Kabarnya sih video replay juga cuma dipakai untuk menentukan penalti atau nggak dan untuk memutuskan pemain dapat hukuman kartu atau nggak. Setidaknya buat pecinta bola yang ga suka sama pemain yg hobi diving, hal ini cukup membantu.

      Harapannya sih dengan adanya video replay, para pemain mungkin bisa lebih mawas diri utk ga ngelakuin diving. Kalo udah gitu kan permainan bisa berjalan lancar tanpa harus distop sama wasit. Tapi harus diakui itu situasi yg terlalu ideal sih mas hehe. Salah satu tujuan utama video replay kan supaya wasit ga jadi kambing hitam lagi.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s