Review: Green Street Hooligans (2005)

Bagi mereka, para hooligan, sepakbola lebih dari sebuah permainan dan hiburan akhir pekan. Ia adalah jalan hidup, dan menjadi suporter sebuah tim pun berarti ikut memperjuangkan harga diri klub kebanggaan mereka tersebut. Itulah salah satu hal yang bisa dipahami setelah menonton film Green Street Hooligans.

Dirilis tahun 2005, pada intinya film ini bercerita tentang proses perubahan yang terjadi dalam hidup Matt Buckner (Elijah Wood), seorang mahasiswa dropped out dari Universitas Harvard, setelah bertemu dengan Pete Dunham (Charlie Hunnam), pimpinan firma suporter garis keras West Ham United, Green Street Elite (GSE).

MV5BMjExNTg3NzYwMV5BMl5BanBnXkFtZTcwMzcxMTEzMQ@@._V1_SY1000_CR0,0,677,1000_AL_
Stand your ground, until you literally can’t stand anymore.

Semua bermula ketika Matt, yang dikeluarkan dari Harvard akibat tuduhan kepemilikan kokain, pergi ke London untuk bertemu kakaknya, Shannon, yang bersuamikan seorang ‘hooligan insyaf’ bernama Steve Dunham. Pertemuannya dengan Pete, yang merupakan adik Steve, terjadi di rumah Shannon dan Steve.

Pete, yang belum ‘insyaf’, awalnya enggan mengajak Matt menonton pertandingan sepakbola di stadion, menganggap Matt adalah seorang Amerika yang tak tahu apa-apa soal sepakbola. Namun dalam waktu singkat Matt bisa akrab dengan Pete, bahkan membaur dengan rekan-rekan Pete yang sesama hooligan. Dan kisah Matt menjadi seorang hooligan West Ham pun dimulai saat itu. Berkelahi, berpakaian ala hooligan, hingga bepergian partai away pun dilakoninya.

Dalam film ini, ada 4 konflik utama yang saling bertautan. Pertama adalah ketidaksukaan Bovver, tangan kanan Pete, terhadap Matt, yang dianggapnya sebagai orang asing yang mencurigakan dan bisa bergabung dengan GSE hanya karena hubungan nepotisme dengan Pete. Kedua adalah kebencian para hooligan dengan jurnalis yang dianggap sering menjatuhkan citra hooligan (dan ‘kebetulan’ Matt adalah seorang calon jurnalis). Ketiga, yaitu perseteruan GSE dengan hooligan pendukung Milwall, dan yang terakhir adalah pengkhianatan Bovver kepada Pete, yang menjadi puncak segala kekacauan yang terjadi dalam film ini.

Film ini seperti menggambarkan bagaimana sebenarnya kehidupan para hooligan ini. Mulai dari kehidupan sehari-hari mereka yang normal dan punya pekerjaan tetap (bahkan Pete adalah seorang guru), rutinitas berkumpul di bar setelah jam kerja, menonton pertandingan langsung di stadion, hingga berkelahi antar suporter yang direncanakan. Penggambaran karakter-karakternya pun cukup menarik dan mewakili, sehingga memberikan image bahwa hooligan adalah jalan hidup mereka dan bukan asal berlagak keren.

Meskipun film ini berkisah tentang kekerasan dalam sepakbola, film ini tetap mengajarkan beberapa hal positif, antara lain memegang teguh prinsip, tidak kabur dari masalah, berusaha memperjuangkan hak pribadi, saling tolong menolong, serta yang paling penting, sebuah pembelajaran yang tegas bahwa sepakbola tak lebih penting dari nyawa seseorang dan fanatisme berlebihan tanpa menggunakan akal sehat akan membawa dampak yang buruk. Hanya saja, semua pesan-pesan positif itu didapat dari cara yang salah, yaitu berkelahi.

green-street-hooligans_74161-1600x1200
Bovver, Pete, and Matt. No man’s left behind.

Film ini pun memberi pesan bahwa dari hal-hal buruk pun kita bisa menemukan hal yang positif, seperti halnya pengalaman Matt menjadi hooligan membuatnya kembali berjuang membersihkan nama baiknya agar bisa kembali berkuliah di Harvard (ia jadi berani mengkonfrontasi sang pemilik kokain sebenarnya yang membuatnya dikeluarkan).

Namun seperti film-film lain, pasti ada hal yang menjadi nilai minus dari film tersebut, seperti konflik pengkhianatan Bovver yang terkesan standar (tipe-tipe jealous seperti ini bahkan bisa ditemui di sinetron Indonesia), serta mengapa Shannon secara kebetulan melewati tempat perkelahian besar antara hooligan West Ham dan Milwall dan berusaha menyelamatkan Matt. Tapi yah, namanya film kan selalu ada momen yang membuat kita berkata ‘bisa pas gitu ya’.

Selain itu, ending-nya agak sedikit ketebak. Dengan tema film sekeras ini, sepanjang film mungkin anda akan bertanya-tanya, bakal ada yang mati ga nih. Dan itu terjadi di akhir film (siapa coba?).

Namun, secara keseluruhan, film ini cukup bagus dan membuat kita sedikit (ya, sedikit) mengenal apa itu budaya hooliganisme.

Sedikit pesan saja, meskipun level kekerasannya kalah jauh dari The Raid-nya Iko Uwais, film ini tak dianjurkan untuk mereka yang masih belum teredukasi dengan baik perihal menjadi suporter sepakbola, khususnya anak muda. Sebabnya adalah film ini mengandung sudut pandang para suporter yang bisa disalahartikan bila tak dicerna dengan baik.

Image : mubi.com, imdb.com, wallpapers.brothersoft.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s