Totti Dan Sore Di Kaiserslautern

Ia adalah pahlawan di sore itu.

Selama menyukai sepakbola Italia, saya tak begitu mengikuti perjalanan para pesepakbola yang tak pernah berseragam Juventus ataupun timnas Italia. Mengapa saya harus mengingat kehebatan pemain rival? Sebagai seorang Juventini, saya tak mengingat persis berapa banyak gol yang dilesakkan oleh Francesco Totti selama 25 tahun berseragam AS Roma.

Sejujurnya, saya pun tak begitu mempedulikan pencapaian yang diraih seorang Javier Zanetti bersama Inter Milan. Ya, ia pemain besar dan legenda. Saya menghormatinya. Namun tak membuat saya penasaran tentangnya. Alasannya karena ia adalah pemain Inter dan berasal dari Argentina. Saya hanya mendukung negeri tango tersebut ketika mereka bertemu Jerman, Spanyol, atau Brazil. Di luar itu, ya biasa saja.

Namun ada perbedaan perlakuan antara Zanetti dan Francesco. Saya mengikuti perkembangan pangeran Roma tersebut karena ia pernah membela Gli Azzurri. Menjadi juara dunia pula. Sehingga, kadar ketertarikan saya padanya tentu lebih besar ketimbang Zanetti.

Mengingat Francesco, berarti mengingat pula perjalanannya selama membela timnas Italia. Selama 8 tahun, ia mengoleksi 58 caps, 9 gol, dan ikut dalam 4 turnamen besar, serta menyumbangkan 1 trofi Piala Dunia.

tottiworldcup
Pangeran Roma, mengangkat trofi Piala Dunia di hadapan rakyatnya di Circus Maximus.

Ia tidak selalu berhasil membawa negaranya berprestasi. Bahkan dalam dua turnamen, ia menjadi kambing hitam dalam tersingkirnya Italia. Okay, rapor merah pada 2002 adalah keteledoran wasit asal Ekuador itu. Lagipula, yang dirugikan oleh ‘dugaan konspirasi’ Korea Selatan kala itu bukan hanya Italia, tapi Spanyol dan Portugal juga.

Tapi ketika ia meludahi Christian Poulsen di Euro 2004, tak banyak yang membelanya. Ya, memang ada imej bengal dalam diri Francesco muda. Bahkan pertama kalinya saya menonton ia di televisi pada musim 1997/98, Francesco mendapat kartu merah. Itu terjadi dalam partai Roma vs Inter yang berkesudahan 3-0 untuk Zanetti dan kolega.

Namun saya merasa pernikahannya dengan Ilary Blasi dan kehadiran Cristian Totti dalam hidupnya mengubah semua itu. Dalam Piala Dunia 2006, turnamen pertamanya sebagai suami dan bapak, semua itu terlihat. Ia bukan lagi Francesco di Euro 2000 yang memukau semua orang ‘hanya’ dengan skill dan kecerdasannya.

Di Jerman, ia terlihat sedikit lebih tenang. Ia memotong pendek rambutnya sebelum turnamen dimulai. Kala itu, ia juga baru saja sembuh dari cedera parah yang hampir saja memupuskan harapannya bermain di Piala Dunia. Di engkelnya pun masih tertanam plat logam bekas pemulihan. Semua perubahan itu membuat saya sedikit ragu padanya.

Namun dengan kaki kacanya itu, ia tetap mampu memukau para pecinta sepakbola selama turnamen berlangsung. Perubahan yang terjadi padanya berbuah positif. Ia bermain di tujuh partai yang dijalani Italia. Ia bahkan terlibat dalam proses terciptanya 6 dari 12 gol yang dilesakkan Italia selama turnamen, satu diantaranya ia ciptakan sendiri kala melawan Australia di babak 16 besar.

Ya, bagi saya, ketimbang panenka chip-nya ke gawang Edwin Van Der Sar pada Euro 2000, golnya ke gawang Australia jauh lebih mengesankan. Lebih menentukan dan heroik. Bayangkan, di bawah langit sore Kaiserslautern, di menit 90+5, menghadapi seorang Mark Schwarzer yang tinggi menjulang, dan disaksikan 46 ribu penonton di stadion Fritz-Walter, ia mampu mengatasi  tekanan yang amat besar itu.

81435210
Sesaat setelah menjebol gawang Australia.

Tak ada main-main kala itu. Jika dalam autobiografinya, Pirlo mengatakan bahwa di Euro 2000 Francesco memang ingin mempermainkan Van Der Sar, maka tidak kala melawan Schwarzer. Resikonya terlalu tinggi. Begitu mendengar peluit yang ditiupkan wasit Luis Medina Cantalejo, tanpa basa-basi ia pun langsung menendang bola ke sisi kanan atas gawang. Keras dan menusuk jala gawang. Schwarzer yang berhasil menebak arah tembakan pun gagal menahannya.

Rasanya sejak saat itu, statusnya dalam timnas Italia berubah. Ia bukan lagi Francesco yang membuat Italia tersingkir, melainkan Francesco yang membawa Italia melaju lebih jauh hingga akhirnya menjadi juara dunia. Hampir semua pemain Gli Azzurri langsung mengerubunginya setelah gol tersebut (hampir semua, karena kabarnya Gennaro Gattuso memilih untuk salto di depan Guus Hiddink untuk mengejeknya, namun tak terekam televisi).

Saya ingat, ia melakukan selebrasi golnya dengan mengisap jempol. Ada yang bilang itu merupakan selebrasi untuk anaknya, Cristian, yang saat itu belum genap setahun. Tapi ada juga yang bilang itu merupakan selebrasi untuk menyindir para punggawa Socceroos, seolah mengatakan ‘kalian masih anak bawang di Piala Dunia, ga usah mimpi ngalahin Italia’. Yang mana yang benar, saya tak peduli. Yang saya peduli, Italia menjadi juara dunia keempat kalinya dan saya bisa membungkam mulut teman-teman saya di sekolah.

***

Mulai musim depan, saya tak akan lagi melihatnya berseragam Roma. Apakah ia masih akan bermain atau tidak, saya tak tahu. Namun jika memang ia akan pensiun, izinkan saya mengucapkan terima kasih.

Terima kasih buat musim liburan sekolah yang indah di tahun 2006. Waktu itu, 26 Juni 2006, ada seorang remaja yang berteriak di depan televisinya sebanyak dua kali. Pertama ketika Fabio Grosso dijatuhkan dan wasit menunjuk penalti. Kedua tentu saja, setelah Francesco Totti mencetak gol kemenangan lewat penalti tersebut.

Grazie, Francesco.

Photo : goal.com, getty images, fourfourtwo

Advertisements

2 thoughts on “Totti Dan Sore Di Kaiserslautern

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s