Perselisihan Antar Rekan Kerja

Mulai dari adu mulut hingga hantam teman sendiri.

Pekan kualifikasi Piala Dunia 2018 yang terjadi pada bulan Juni ini menyisakan kita beberapa kisah menarik. Mulai dari kemenangan mengejutkan negara kecil Andorra atas Hungaria, kontroversi Arab Saudi yang tak ikut mengheningkan cipta saat melawan Australia, hingga yang tak kalah seru yaitu perseteruan antara Edin Dzeko dan Kostas Manolas, dua pemain yang sama-sama membela AS Roma. Pada kesempatan kali ini, topik terakhir menjadi bahasan utama artikel ini.

Perseteruan ini terjadi pada pertandingan antara tuan rumah Bosnia-Herzegovina melawan Yunani yang berlangsung pada 9 Juni lalu di stadion Bilino Polje, Zenica. Pada pertandingan yang berakhir imbang tanpa gol tersebut, Dezko dan Manolas terlibat perselisihan saat berjalan menuju ruang ganti setelah pertandingan usai, bahkan hingga terjadi kontak fisik.

Aksi ini pun akhirnya memicu perkelahian lebih lanjut antar kedua tim, bahkan Ioannis Gianniotas sampai kehilangan salah satu giginya akibat dihantam Stephen Gilli, asisten manajer Bosnia.

Namun bila ditelusuri, benih-benih kerusuhan sebenarnya sudah ditebar sejak sebelum pertandingan dimulai. Kubu Yunani merasa kesal suporter Bosnia tak mau diam saat prosesi menyanyikan lagu kebangsaan Yunani sedang berlangsung. Sedangkan kubu Bosnia merasa kesal karena kepemimpinan wasit Nicola Rizzoli yang dianggap berulang kali merugikan mereka sepanjang pertandingan.

Apalagi dari sekian banyak keputusan merugikan tersebut, Dzeko juga ikut dilanggar di kotak penalti, dan Manolas adalah salah satu pemain yang lolos dari hukuman ketika diduga melakukan pelanggaran di kotak penalti terhadap Vedad Ibisevic.

Kondisi itu mungkin membuat Dzeko akhirnya kesal dan mengkonfrontasi rekan klubnya tersebut. Meski mereka akhirnya berhasil dipisahkan, perkelahian selanjutnya pun tak bisa dihindari.

Perkelahian Dzeko dan Manolas ini pun mengingatkan kita kembali pada beberapa kasus serupa yang terjadi di level klub maupun timnas. Berikut ini adalah beberapa contoh yang cukup melekat di kepala saya.

  1. Mauro Icardi dan Pablo Osvaldo (6 Januari 2015)

Sifat egois sangat wajar dimiliki seorang striker, terutama dalam urusan mencetak gol. Namun terkadang sifat egois yang kelewatan bisa membawa masalah. Ini terjadi pada Icardi kala Inter bertamu ke kandang Juventus dalam lanjutan pekan 17 Serie A 2014-15.

Dalam sebuah kesempatan di babak kedua, Inter sedang melakukan serangan balik ke gawang Juventus. Dalam kondisi dua lawan dua, sebelum kemudian disusul Lukas Podolski dan Andrea Pirlo, Osvaldo sedang berada dalam posisi bebas, sedangkan Leonardo Bonucci dan Claudio Marchisio terfokus kepada Icardi.

Namun alih-alih mengumpan pada Osvaldo, Icardi malah memilih untuk membawa bola dan menembak dalam kondisi yang tak ideal. Tembakannya pun membentur kaki Bonucci dan melebar disamping kiri gawang Juve.

Podolski hanya diam saja, mungkin tak habis pikir kenapa Icardi malah memutuskan menembak. Lain cerita dengan Osvaldo. Ia tanpa basa-basi langsung berlari menuju Icardi dengan tampang murka.

Jika tak ada Freddy Guarin, mungkin saja kontak fisik antar keduanya terjadi, meski Icardi pun hanya diam saja saat dimarahi Osvaldo. Belakangan Icardi pun mengakui kesalahannya karena tak mengumpan bola tersebut pada Osvaldo.

Dalam partai segenting Derby d’Italia, tentu menang lebih penting ketimbang ukiran prestasi pribadi, namun kelihatannya hal tersebut untuk sesaat dilupakan Icardi.

  1. Benoit Assou-Ekotto dan Benjamin Moukandjo (18 Juni 2014)

Yang satu ngeyel, yang lainnya emosian. Begitulah kira-kira asal muasal terjadinya keributan antar pemain Kamerun yang terjadi di Piala Dunia 2014 ini.

Di menit-menit akhir partai kedua penyisihan grup A antara Kroasia dan Kamerun, yang mungkin sudah dianggap tak menarik karena skornya sudah 4-0 untuk keunggulan Hrvatska, tiba-tiba saja muncul adegan yang menyita perhatian.

Assou-Ekotto dengan sengaja menanduk kepala Moukandjo setelah sebelumnya terlibat sebuah percakapan. Untung saja Pierre Webo datang cepat untuk menengahi keduanya, meskipun tak terlihat Moukandjo akan membalas aksi Assou-Ekotto.

Dalam sebuah pengakuan setelah pertandingan, Assou-Ekotto menjelaskan asal mula peristiwa tersebut.

“Semuanya dimulai dari partai melawan Meksiko. Moukandjo ada di sisi sayapku, mencoba melewati dua pemain lawan dan akhirnya kehilangan bola. Aku bilang padanya jika seharusnya ia mengumpan bola tersebut padaku. Ia setuju dengan hal tersebut.”

“Dan situasi yang sama terjadi lagi saat melawan Kroasia. Semua orang bisa mengulangi kesalahan, namun saat aku memberitahunya lagi, ia malah berkata ‘minggirlah!’”

Reaksi itulah yang membuat Assou-Ekotto naik darah. Meskipun demikian, ia tahu bahwa ia salah dan semuanya terjadi karena frustrasi dengan hasil yang didapat Kamerun.

“Jika skornya masih 0-0, mungkin hal tersebut (pertengkaran dengan Moukandjo) tak akan terjadi.”

Samuel Eto’o sebagai kapten tim pun akhirnya turun tangan untuk membereskan masalah ini dan untungnya tak butuh lama, karena esok pagi setelah kejadian, mereka berdua berbaikan.

  1. Igor Akinfeev dan Sergei Ignashevich (21 Juni 2008)

Peristiwa ini adalah salah satu keributan antar pemain yang saya ingat dengan hanya mengandalkan memori saja karena menonton pertandingan tersebut secara langsung di televisi. Berulang kali saya mencoba mencari bukti videonya, namun akhirnya hanya menemukan sebuah foto yang sedikit menjelaskan kondisinya.

Perseteruan ini terjadi pada perempat final Euro 2008 antara Rusia dan Belanda. Saat itu skornya masih 1-1, dan baru saja terjadi sebuah miskomunikasi dalam menjaga pertahanan antara Akinfeev dan Ignashevich. Setelah akhirnya berhasil menguasai bola, Akinfeev pun menghampiri Ignashevich dan langsung berteriak di depan mukanya.

81669630.jpg
Beda umur mereka hampir 7 tahun. Coba bayangin, apakah ada mahasiswa yang mau terima dimarahin anak sekolah dasar? (Foto : gettyimages)

Ignashevich, yang mungkin tak terima dimarahi ‘bocah’ yang umurnya jauh dibawahnya (Akinfeev saat itu 22 tahun, Ignashevich 28 tahun), langsung membalas argumen Akinfeev. Keributan kedua pemain yang sama-sama membela CSKA Moskwa ini pun langsung disorot jelas oleh televisi.

Untung saja, adu argumen ini langsung diselesaikan sendiri oleh mereka, dengan Ignashevich pergi menjauh. Saya sempat khawatir fokus tim Rusia akan menurun setelah kejadian itu (saya dukung Rusia soalnya waktu itu hehe), namun ternyata keduanya tetap fokus menjalankan tugasnya.

Kita tahu sendiri bagaimana akhirnya Rusia berhasil menang 3-1 dan menutup karir internasional Edwin Van Der Sar dengan mimpi buruk.

  1. Wayne Rooney dan Cristiano Ronaldo (1 Juli 2006)

Yang satu ini kondisinya mirip dengan Dzeko dan Manolas. Dua pemain yang membela klub yang sama, namun bertemu di ajang internasional dengan membela timnas yang berbeda. Saat itu keduanya membela Manchester United.

Kejadian ini terjadi pada partai perempat final Piala Dunia 2006 antara Inggris dan Portugal.

Sekitar menit 61, Rooney yang menerima bola dengan kontrol yang buruk akhirnya harus berjibaku dengan Ricardo Carvalho dan Armando Petit untuk menguasai bola sepenuhnya.

Setelah Petit berhasil ‘disingkirkan’, ia pun tinggal berebut dengan Carvalho, namun Rooney yang kehilangan keseimbangan akhirnya menginjak Carvalho yang sudah jatuh terlebih dahulu.

Meski tampaknya hal ini bukanlah kesengajaan, namun para pemain Portugal bereaksi keras dengan hal ini, termasuk Cristiano. Ia malah merupakan pemain pertama yang berlari menuju wasit Horacio Elizondo ‘hanya’ untuk protes. Rooney yang melihat langsung aksi Cristiano ini pun langsung marah dan mendorongnya sebelum akhirnya ditenangkan Owen Hargreaves.

Provokasi para pemain Portugal ini (termasuk Cristiano), ditambah ekspresi kesakitan Carvalho, dianggap mempengaruhi keputusan Elizondo yang akhirnya mengusir Rooney.

Setelah pertandingan berakhir untuk kemenangan Portugal 3-1 lewat adu penalti, media-media (khususnya Inggris) pun langsung memberitakan hal ini secara masif, serta memunculkan isu keributan antar rekan setim.

Cristiano yang saat itu ‘masih kalah pamor’ dibandingkan Rooney pun langsung digosipkan akan hengkang, apalagi muncul pernyataan dari Cristiano sendiri bahwa pihak United tak memberinya dukungan di saat dirinya banyak diberitakan secara negatif oleh media.

Namun akhirnya isu tersebut berhasil diredam dan Cristiano baru meninggalkan Old Trafford di musm panas 2009, tanpa perselisihan sama sekali.

  1. Lee Bowyer dan Kieron Dyer (2 April 2005)

Last but not least, pertarungan kelas berat antara Bowyer dan Dyer yang saat itu sama-sama memperkuat Newcastle United. Melihat keributan keduanya seperti menonton perkelahian one on one di film Green Street Hooligans. Keras dan tanpa basa basi.

Kebetulan, keduanya orang Inggris pula. Saking terkenalnya keributan ini, jika kamu mengetik kata ‘bowyer’ di youtube, maka saran pertama yang muncul adalah Bowyer vs Dyer!

Peristiwa ini terjadi pada pekan 30 Premier League musim 2004/05, kala Newcastle menjamu Aston Villa. Peristiwa ini terjadi tak lama setelah Villans berhasil unggul 3-0 di menit 80. Saat Newcastle sedang melancarkan sebuah serangan, alih-alih membantu, dua pemain ini malah adu mulut di lokasi yang tak jauh dari pemain Newcastle yang sedang memegang bola, dan berakhir baku hantam antar keduanya.

Baik pemain Villa maupun Newcastle pun langsung turun tangan melerai mereka. Kabarnya, Bowyer marah pada Dyer karena tak pernah memberi bola padanya sepanjang laga.

Ditambah dengan kondisi Newcastle yang tertinggal 3-0 dan bermain dengan 10 orang, nampaknya ia jadi ‘panas’ dan tak bisa mengendalikan emosinya.

Keributan itu pun merugikan Newcastle. Keduanya diganjar kartu merah dan The Magpies harus mengakhiri pertandingan dengan 8 orang pemain setelah sebelumnya Steven Taylor sudah diusir di menit 73.

Mereka pun kabarnya harus dipisahkan oleh dua orang saat duduk di ruang ganti sembari menunggu pertandingan usai. Mereka pun hendak berkelahi lagi di ruang ganti sampai Graeme Souness, manajer Newcastle kala itu, mengancam akan menghajar mereka berdua.

158128
Saat konferensi pers, keduanya pun ‘dipisahkan’ oleh sang manajer. (Foto : gettyimages)

Namun dalam wawancara terpisah pada Oktober 2014, saat ini mereka sudah kembali berteman, meski saat itu rasanya mereka ingin menghabisi satu sama lain.

Aku masih bertemu dengannya (Bowyer), kami berteman. Karakternya dulu memang begitu. Namun aku masih ingin menghajarnya,” ujar Dyer.

“Kieron (Dyer) orang yang baik dan aku masih bertemu dengannya. Aku bertemu dengannya di acara golf Sir Bobby (Robson). Kami minum bir dan tertawa bersama,” ujar Bowyer.

***

Jika ada satu hal positif dari semua perkelahian tersebut, itu adalah rekonsiliasi yang terjadi diantara kedua pihak yang bertikai. Dan itulah yang memang seharusnya dilakukan.

Lepas kontrol adalah sifat yang wajar terjadi dari seorang manusia, apalagi jika kondisi tim sedang tertekan dan hasil yang diraih di lapangan tak sesuai harapan.

Bukan hal yang pantas dicontoh memang, namun sikap mereka untuk berusaha meneyelesaikan masalah dengan cara ksatria itulah yang patut dicontoh.

Semoga Dzeko dan Manolas pun bisa bersikap serupa, karena permusuhan hanya akan memberikan kerugian.

Coba bayangkan bila Rooney dan Cristiano tak berbaikan, apa mungkin United memenangkan Liga Champions di tahun 2008? Cristiano mungkin sudah pindah duluan entah ke klub mana setelah Piala Dunia 2006 usai.

Featured Image : sport.sky.it

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s