Jerman, Juara Dunia 2018(?)

Tim cadangannya aja udah hebat, apalagi tim intinya.

Sejujurnya, sebal sekali bila judul di atas menjadi kenyataan tahun depan. Apalagi saya bukanlah seorang penggemar sepakbola Jerman, terutama tim nasional mereka (jika anda mengikuti blog ini, anda tahu poros apa yang saya dukung).

Namun, jika hal tersebut benar terjadi dan saya tak mau menerimanya, itu hanya membuat saya terlihat sebagai orang yang keras kepala. Pasalnya, Der Panzer memang pantas dijagokan untuk mengikuti jejak Italia dan Brazil, yaitu berhasil mempertahankan gelar Piala Dunia.

jerman fifadotcom
(Sebagian dari) mereka sudah siap untuk mengulangi sejarah ini.

Sudah banyak artikel yang membahas tentang kemajuan pembangunan sepakbola Jerman, baik yang berbahasa Indonesia maupun asing. Semuanya sepakat, prestasi mereka di kancah internasional selama ini adalah buah kerja keras, kesabaran, dan ketekunan mereka selama puluhan tahun.

Bila mereka hanya gagal sekali menembus semifinal dalam 10 turnamen mayor terakhir yang diikuti (4 Piala Dunia, 4 Piala Eropa, dan 2 Piala Konfederasi), tentu bodoh bila menyebut semuanya hanya kebetulan. Dan mereka bisa lebih mengerikan lagi di masa mendatang.

Pembangunan sepakbola Jerman tak hanya menghasilkan sistem pengelolaan manajemen klub yang relatif baik dan sehat, namun juga menghasilkan infrastruktur sepakbola yang baik serta talenta-talenta berbakat yang bahkan tak semuanya akan kebagian jatah untuk membela timnas.

Boleh saja mereka ngambek seperti Stefan Kiessling yang merasa talentanya dibuang-buang oleh Joachim Loew, namun itu percuma saja. Yang ada, mereka akan mudah dilupakan karena Loew pun dengan mudah akan menemukan pemain hebat lain yang bisa menutupi Kiessling, bahkan membuat sejarah Kiessling di timnas seolah tak pernah ada.

kiessling getty.jpg
Stefan Kiessling, hanya memperoleh 6 caps dan ‘pensiun’ dari timnas di tahun 2010.

 

Pintu timnas untuk pemain sekelas Michael Ballack pun tak ragu ditutup oleh Loew. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh pelatih yang tahu bahwa ia tak akan kehabisan pemain-pemain hebat, dan Loew salah satunya.

Kehebatan Tim Reserves : 3 Final Dalam 2 Tahun

Kegagalan menjuarai Euro 2016 tentu sangat disesalkan kubu Die Mannschaft, namun mereka pun sudah siap menyongsong target besar berikutnya yang ada di depan mata, yaitu Rusia 2018.

Dengan sekumpulan pemain yang sudah menjadi jaminan mutu seperti Manuel Neuer, Thomas Muller, Julian Draxler, Sami Khedira, Mesut Ozil, Benedikt Howedes, Jerome Boateng, Mats Hummels, hingga Toni Kroos, maka skuad utama Jerman diperkirakan tak akan banyak berubah.

Dan saat ini, yang dibutuhkan Loew ‘hanyalah’ beberapa ‘pelapis’ yang bisa menjadi andalan saat nama-nama besar tersebut nantinya berhalangan tampil. Dimana fit and proper test yang tepat kalau bukan turnamen internasional? Tampil di turnamen besar dan membawa nama negara bisa menguji sejauh mana ‘pelapis-pelapis’ itu bisa diandalkan, dan itulah yang dilakukan Jerman.

Dengan proses pembinaan pemain muda yang baik, bukan sebuah kebetulan jika mereka bisa ikut serta dalam Olimpiade Rio 2016 dan Piala Eropa U-21 2017. Selain itu, berkat prestasi yang diraih di Piala Dunia 2014, satu slot di Piala Konfederasi 2017 pun diperoleh. Kesempatan ini dipakai Loew untuk mencoba tenaga-tenaga baru serta mengistirahatkan pemain-pemain utama timnas Jerman.

Hasilnya pun luar biasa. Jerman junior, Jerman B, atau apapun namanya, berhasil masuk final dalam 3 kejuaraan tersebut. Di Rio 2016, mereka hanya kalah dari Brazil lewat adu penalti. 3 pemain over-aged yang dipilih pelatih Horst Hrubesch pun ‘hanyalah’ Sven dan Lars bender, duo kembar yang tampaknya lebih sering cedera ketimbang dipanggil timnas senior, serta Nils Petersen, yang bahkan belum pernah membela timnas senior. Bandingkan dengan Brazil yang memiih Neymar.

Germany-Rio-Olympics
Timnas Jerman di Olimpiade Rio 2016, medali perak.

Di tahun 2017, ada dua kejuaraan besar yang waktunya bertabrakan. Untuk Piala Konfederasi, Loew memanggil kombinasi pemain-pemain muda berbakat minim caps, seperti Timo Werner, Leon Goretzka, Niklas Sule, hingga Julian Brandt dan juga pemain-pemain berusia matang namun minim caps juga, seperti Lars Stindl, Sandro Wagner, hingga Kevin Trapp. Mereka dipimpin oleh Julian Draxler dan Jonas Hector, duo reguler tim utama Der Panzer.

Sedangkan pemain-pemain muda berbakat sisanya yang tak dipilih Loew menjadi jatah pelatih Stefan Kuntz untuk mengarungi Piala Eropa U-21. Meski begitu, Kuntz masih mendapat nama-nama seperti Max Meyer, Serge Gnabry, Mitchell Weiser, Maximilian Arnold, David Selke, hingga Yannick Gerhardt. Lagipula, mayoritas pemain yang diperoleh Kuntz juga sudah rutin bermain di Bundesliga maupun Bundesliga 2, sehingga tak perlu diragukan lagi.

jerman as
Timnas Jerman di Euro U-21 2017, medali emas.

Hasilnya? Di Piala Eropa U-21, ‘Jerman junior’ berhasil menjadi juara dengan mengalahkan Spanyol dengan skor 1-0. Sedangkan di Piala Konfederasi, ‘Jerman B’ akan menghadapi Cile di final pada tanggal 3 Juli WIB setelah berhasil mengalahkan Meksiko di semifinal dengan skor telak, 4-1. Cara bermain dua timnas Jerman ini pun mirip sekali dengan tim utamanya. Rapi, efektif, efisien dan kolektif, meskipun penilaian ini hanya saya peroleh dengan melihat 1-2 partai saja.

Namun, kredit lebih pantas disematkan pada mereka, khususnya Julian Draxler dan kawan-kawan. Pasalnya, hanya Jerman-lah yang terang-terangan membawa tim cadangan di Piala Konfederasi. Sedangkan para peserta lain masih mengandalkan skuad utama mereka. Begitu juga dengan tim asuhan Kuntz. Mereka mampu mencatatkan 3 cleansheet, terbanyak di turnamen, termasuk saat di final melawan Spanyol.

jerman mirror.jpg
Timnas Jerman di Piala Konfederasi 2017, medali emas atau perak?

Bila para junior saja sudah mampu membungkam para lawan, bagaimana bila mereka disandingkan dengan para senior mereka, sang juara dunia, yang mengalahkan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo itu? Bisa saja, para ‘pelapis’ itu yang malah menjadi kekuatan utama Jerman tahun depan.

***

Tentu saja, tak menjadi jaminan Der Panzer akan dengan mudah menjadi juara. Brazil asuhan Tite tampaknya cukup mengerikan, Italia dibawah Ventura juga siap dengan kombinasi tua-muda yang mengejutkan. Jangan lupakan juga Spanyol, Portugal, Cile, Prancis, dan Argentina.

Ya, Jerman masih punya banyak saingan. Tapi menyingkirkan mereka dari daftar unggulan teratas dan mengharapkan mereka tersingkir cepat di Piala Dunia 2018 adalah hal konyol. Mengharapkan mereka gagal lolos ke Rusia? Lebih konyol lagi.

Dan bila ternyata Jerman benar-benar menjuarai Piala Dunia 2018? Para suporter silakan berjumawa, dan untuk para haters, selamat mengelus dada dan ikhlas mendengar pecinta Der Panzer menyanyikan Deutschland, Deutschland über alles, Über alles in der Welt (Jerman, Jerman diatas siapapun, Di atas siapapun di dunia)’.

*Jerman akhirnya menjuarai Piala Konfederasi 2017. Semakin mengagumkan saja prestasi para pemain muda mereka. 

 

Images : goal, fifa, gettyimages, worldsoccer, as, mirror

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s