Membahas Penangguhan Regulasi Penggunaan Pemain U-23 Di Liga 1

Sepakbola nasional rasanya tidak pernah kehabisan berita yang menarik untuk dibahas. Ya, mulai dari yang bagus-bagus seperti munculnya pemain-pemain muda berbakat seperti Hanif Sjahbandi dan Febri Hariyadi hingga yang berbau kontroversial seperti aturan marquee player, pembatasan usia pemain, dan yang paling baru, penangguhan sementara penggunaan pemain U-23 di Liga 1 selama periode Juli-Agustus.

Yang disebut diatas hanyalah yang terjadi di musim ini. Bila dirunut ke beberapa tahun ke belakang, tentu lebih banyak lagi berita serunya. Namun yang ingin saya bahas adalah topik yang paling baru, yaitu penangguhan sementara pengunaan pemain U-23. Meskipun sudah berlangsung sejak pekan lalu, namun rasanya saya ingin menulis tentang ini.

Kejutan Berikutnya Dari PSSI

Bisa dibilang alasan utama PSSI mengeluarkan aturan ini adalah demi terciptanya ‘keadilan sosial bagi seluruh peserta Liga 1 selama Sea Games 2017 dan kualifikasi Piala Asia U-23 berlangsung’.

Eh, ini bukan bercanda. Semua ini terjadi karena pemain-pemain timnas U-23  banyak yang berasal dari klub yang sama. Ini artinya tidak semua klub menyumbang pemainnya ketimnas U-23. Jadi akan ada klub-klub yang lebih banyak kehilangan pemain U-23 dibandingkan klub lainnya.

Sebagai info, dari 24 nama yang dipersiapkan untuk kualifikasi Piala Asia U-23 pada 19-23 Juli, Bali United menyumbang 4 pemain, Persija 3 pemain, 6 klub menyumbang 2 pemain, dan 5 klub menyumbang 1 pemain. Artinya, masih ada 5 klub yang tidak menyumbang pemain ke dalam skuad Luis Milla. Untuk Sea Games kabarnya masih bisa berubah, namun rasanya tidak banyak.

Nah, agar klub-klub yang pemainnya banyak dicomot Milla tidak mengalami kerugian dari segi materi kekuatan tim, (terutama klub-klub yang para pemain mudanya merupakan andalan tim, bukan sekedar pelengkap), maka sebagai gantinya semua klub dibebaskan untuk memakai pemain mereka tanpa diatur pembatasan usia.

Harapannya, semua klub tetap bisa menggunakan kekuatan terbaiknya dan kualitas kompetisi terjaga. Kira-kira inilah pemahaman yang saya dapat dari membaca banyak berita terkait hal ini.

Bagaikan hadiah ulang tahun, keputusan yang satu ini pun bisa dibilang merupakan kejutan. Surpriiiiiiiisee!!! Kamu dapat hadiah bebas memakai pemain tanpa batas usia selama 2 bulan! Kira-kira begitulah isi kejutannya.

Beberapa klub senang mendapat ‘hadiah’ tersebut, seperti Bali United, Persija  Jakarta, Persib Bandung, hingga Arema FC. Namun ada juga yang mengkritik, bahkan hingga kesal. Yah, memang tidak semua orang suka dengan kejutan. Madura United, PSM Makassar, Sriwijaya FC,  hingga Barito Putera termasuk dalam golongan ini.

Bahkan Achsanul Qosasi, presiden Madura United, sampai mengeluarkan opini yang terkesan menuduh bahwa peraturan ini bertujuan menguntungkan klub-klub tertentu.

“Enak sekali ya mengubah peraturan kompetisi. Boleh diubah kapan saja. Lalu untuk apa klub mengontrak 27 pemain? Mubazir. Atau jangan-jangan karena pemain klub mereka sedang dipakai Timnas U-22.”

Pertanyaan yang muncul dalam benak saya adalah siapa yang dimaksud dengan ‘mereka’ dalam kalimat diatas? Ah saya malas bahas tuduhan kaya begini. Masalah klasik, kalian kira-kira sendiri ajalah ya hehehe.

Hanya PSSI Yang Bisa Melakukan Hal Ini

Jika dilihat dari kacamata suporter seperti saya, sebenarnya peraturan ini tidak merugikan pihak manapun, toh setiap klub bisa memainkan para pemain terbaiknya sesuka hati tanpa dibatasi aturan terkait usia. Sesuai dengan kemauan setiap klub diawal musim kan?

Hanya saja, perubahan peraturan saat kompetisi tengah berlangsung seperti ini bukanlah sebuah hal yang normal. Bahkan menurut pelatih PSM, Robert Alberts mengatakan bahwa selama lebih dari 30 tahun ia melatih, kondisi ini tak pernah terjadi. Ini artinya, langkah yang dilakukan PSSI ini mungkin tak pernah dilakukan sebelumnya.

Kondisi ini membuat PSSI, khususnya sang ketua, Edi Rahmayadi, menjadi tidak konsisten dengan keputusan yang dibuat di awal musim. Padahal setiap klub sudah diwanti-wanti agar menyiapkan pemain-pemain U-23 dalam jumlah yang cukup agar peraturan penggunaan pemain U-23 sebanyak 3 orang tetap bisa berlaku sekalipun sedang dalam masa berlangsungnya Sea Games 2017 dan kualifikasi Piala Asia U-23.

Bahkan dulu Edi pernah berujar kalau ia tak peduli sekalipun nantinya ada sebuah klub yang tak bisa bertanding karena semua pemain-pemain mudanya dipanggil timnas. Well, ternyata ngomong lebih gampang daripada melaksanakan.

Kalau sudah begini, ucapan mubazir yang keluar dari mulut Achsanul jadi wajar. Bila nantinya penggunaan pemain muda ditangguhkan selama masa Sea Games, buat apa mengontrak pemain banyak-banyak? Toh ga akan kepake juga, apalagi yang cuma ‘pelengkap’.

Menjadi wajar pula bila Achsanul menuduh perubahan ini untuk menguntungkan klub-klub tertentu bila melihat sebagian besar klub yang senang dengan perubahan ini merupakan klub yang banyak menyumbangkan pemain ke timnas U-23.

Dulu Timnas Yang Kena Imbasnya, Kini Giliran Klub

Masih segar kan di ingatan kita bagaimana Alfred Riedl kesusahan memilih komposisi pemain terbaik untuk dibawa ke Piala AFF 2016? Aturan yang hanya membolehkan setiap klub untuk melepas maksimal dua pemain untuk timnas membuat operator Indonesia Soccer Championship 2016 dikritik habis-habisan. Tak pernah ada sejarahnya klub melarang pemainnya dipanggil timnas untuk mengikuti kejuaraan resmi FIFA, bahkan sampai dibuat peraturan sepeti itu.

Nah, kali ini, ketentuannya berbalik. Seperti yang pernah diucapkan manajer Madura United, Haruna Soemitro, rezim PSSI-nya Edi Rahmayadi adalah rezim timnas. Artinya, kepengurusan saat ini berfokus pada prestasi timnas. Dan itu sesuai pula dengan langkah-langkah PSSI.

Peraturan penggunaan pemain U-23 sebanyak 3 orang di setiap pertandingan Liga 1 serta penangguhannya pun dilakukan untuk mengakomodasi timnas U-23 agar bisa memiliki skuad terbaik, sehingga harapan untuk melihat timnas berprestasi di Sea Games 2017, kualifikasi Piala Asia U-23, dan Asian Games  2018 mendatang bisa tercapai.

Mengapa PSSI Melakukan Ini?

Seperti dilansir dari Panditfootball, Robert Alberts mengatakan bahwa sangat aneh untuk mengubah regulasi demi kepentingan timnas U-23, apalagi turnamen yang mereka ikuti hanyalah Sea Games yang bukan turnamen resmi FIFA.

Selain itu, ia kembali mengingatkan bahwa pemain-pemain muda harusnya memiliki kompetisi sendiri demi perkembangan mereka, bukan dengan memaksakan aturan penggunaan tiga pemain U-23 di setiap partai Liga 1. Intinya, ia mengingatkan tentang pembinaan pemain muda yang berproses.

Ya, ia benar. Sangat benar malah. Namun, mari kita mengira-ngira tujuan PSSI saat melakukan penangguhan aturan ini. Pertama, kita harus sadar bahwa turnamen resmi FIFA yang bisa diikuti Indonesia masih lama, yaitu Piala AFF yang mungkin diselenggarakan di akhir tahun 2018. Sehingga prestasi yang bisa dikejar PSSI sebelum itu adalah kejuaraan di level junior. Ingat, ini PSSI rezim timnas.

Kedua, kita harus sadar bahwa banyak masyarakat Indonesia yang ingin melihat timnas juara, termasuk di level Sea Games sekalipun. Kalo tidak percaya, silakan lihat kembali di youtube, bagaimana kondisi stadion Gelora Bung Karno saat final AFF 2010 dan final sepakbola Sea Games 2011. Sama penuhnya.

Bahkan yang menonton lewat televisi pun sama antusiasnya. Coba ingat-ingat lagi betapa banyak acara nonton bareng yang diadakan, padahal ‘hanya’ final Sea Games 2011. Itu menjadi bukti betapa suporter timnas rindu prestasi. Tak peduli levelnya, mau Sea Games kek, Asian Games kek, AFF kek, pokoknya kita ingin timnas juara.

Pengurus PSSI pun demikian. Sudah lebih dari seperempat abad timnas ini tak ada prestasinya. Selama itu pula PSSI dimaki-maki. Sehingga, medali emas di Sea Games pun tetap dihitung sebagai barang mewah bagi PSSI. Asal bisa juara, mereka yang mengkritik pun akan bungkam dan kepengurusan PSSI yang sekarang akan menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.

Padahal, kalau kita pikir, prestasi itu tidak hanya trofi. Pembinaan pemain yang berjenjang, peningkatan kualitas dan kuantitas pelatih, atau pembangunan infrastruktur yang memadai pun juga prestasi. Namun, sekali lagi, medali lebih gampang terlihat sebagai prestasi, karena lebih mudah dicatat dalam sejarah.

Semua hal di atas memang asumsi saya saja, namun dari situ kita bisa lihat, bahwa PSSI sedang berusaha agar timnas meraih prestasi. Meskipun harus kita akui, caranya ngawur dan seenak jidat, atau bahasa sopannya, tidak lazim.

***

Seperti yang pernah dikatakan Christian Ziege, mantan pemain AC Milan dan timnas Jerman, perdebatan akan sebuah hal akan hilang dengan sendirinya bila nantinya akan muncul kembali topik yang lebih menarik. Ziege mengucapkan hal tersebut sekitar periode Euro 2004. Kalimat diatas bukanlah kalimat sebenarnya yang diucapkan Ziege, namun intinya kira-kira seperti itu.

Saya yakin bahwa kritik sana-sini yang diterima PSSI akan berkurang (bukan menghilang), paling tidak untuk sementara, bila nantinya timnas U-23 meraih medali emas di Sea Games. Pemberitaan media pun tak lagi menuju ke arah pengurus PSSI yang memiliki kebijakan aneh, melainkan kepada punggawa timnas beserta Luis Milla dan jajaran stafnya.

Meskipun PSSI masih punya banyak tugas untuk membenahi sepakbola nasional, setidaknya pengurus PSSI bisa ‘kabur’ untuk sementara dari pemberitaan negatif tentang mereka yang tampaknya tak kunjung habis.

Semoga saja kebijakan aneh ini diiringi dengan prestasi. Kalo timnas U-23 juara Sea Games 2017, ribut-ribut tentang penangguhan aturan ini akan hilang sendiri. Kalo nggak juara? Ya mungkin bakal dibahas lagi seperti kasus pembatasan dua pemain per klub kala Piala AFF 2016 lalu.

 

Featured Image: juara.net

Advertisements

2 thoughts on “Membahas Penangguhan Regulasi Penggunaan Pemain U-23 Di Liga 1

  1. Sebenarnya ada satu solusi lain, bikin kompetisi U-23. Dibikin kayak di Inggris, ada semacam kompetisi untuk tim reserve. Dengan begitu klub-klub liga 1 tetap bebas memainkan pemain terbaiknya sambil tetap bisa memasok pemain-pemain berkualitas ke timnas.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s