Mau Sampai Kapan Ribut Terus?

Sudah bosan kan headline berita Persib-Persija selalu terkait kericuhan?

Pada Jumat 21 Juli lalu, saya membaca sebuah berita di harian Pikiran Rakyat yang menyebut bahwa ada lebih dari 2000 personel keamanan gabungan antara TNI dan POLRI yang disiapkan untuk mengawal jalannya laga klasik antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta pada 22 Juli malam.

Jumlah yang kelewat banyak menurut saya. Terlepas dari sejarah masa lalu terkait pertandingan yang melibatkan dua kubu tersebut, alasan saya merasa jumlah tersebut sangat lebay adalah fakta bahwa The Jakmania, suporter fanatik Persija, sudah dihimbau oleh kepolisian Jawa Barat untuk tidak datang ke Bandung.

Kalo kepolisian yang ngeluarin himbauan, itu sebenarnya sama saja artinya dengan ‘melarang’. Resiko kericuhan sudah menurun drastis kan?

Namun akhirnya saya mewajarkan jumlah tersebut mengingat sebelumnya muncul berita mengenai stadion Gelora Bandung Lautan Api, tempat dilangsungkannya pertandingan, yang masuk dalam daftar sasaran bom teroris. 2000-an orang ngawasin potensi bom, okelah.

Selain itu, rombongan Persija pun tiba ke stadion dengan memakai panser anoa. Well, ini lebay juga, tapi gapapalah, untuk menjaga keamanan mereka. Anggap aja ini wujud pencegahan yang maksimal dari kepolisian.

Saya beranggapan bahwa pertandingan ini akan berjalan lancar, tanpa adanya tensi panas di lapangan. Suporter lawan sudah tak ada, dan sepengamatan saya, pemain-pemain di liga Indonesia terutama di Liga 1 sudah mulai dewasa dan menghormati wasit.

Kekhawatiran yang tersisa adalah masih banyaknya keributan antarpemain yang terjadi, mulai sejak awal musim sampai sekarang, yang bahkan melibatkan pemain-pemain tim nasional macam Ferdinand Sinaga, Abduh Lestaluhu, Manahati Lestusen, hingga Irfan Bachdim.

Namun hal itu saya lupakan saat melihat dua kubu memasuki lapangan dengan tenang dan mereka bersalaman. Bahkan Atep dan Ismed Sofyan saling berpelukan saat waktunya tos koin.

Namun nuansa damai itu hanya sebentar. Baru lima menit pertandingan berjalan, oknum suporter Persib sudah mulai melemparkan botol minuman ke lapangan, tepatnya saat pemain Persija berada di pinggir lapangan untuk mengambil lemparan ke dalam.

Wow, petugas keamanan mengizinkan botol minuman masuk dalam stadion. Padahal selama ini barang tersebutlah yang paling sering dilemparkan ke dalam lapangan. Ini artinya, para petugas keamanan sedikit meremehkan potensi gangguan yang terjadi akibat pelemparan botol minuman ke lapangan.

Sayangnya, potensi keributan yang memuncak justru datang dari para pemain. Di tengah kondisi yang sengit, skor yang imbang 1-1, nampaknya emosi mereka sulit ditahan. Klimaksnya terjadi saat pertengahan babak pertama. Bola yang sudah ditangkap kiper Persija, Andritany Ardhiyasa, disambar oleh Ahmad Jufriyanto.

Saya yakin bahwa Jufriyanto melakukan itu karena ia tak bisa mengerem laju larinya. Namun akibatnya fatal, dan ia pun langsung dikerubungi oleh banyak pemain Persija yang marah. Para pemain Persib pun sontak langsung datang menghampiri.

tribunnews
Ditonton banyak anak kecil lho, jangan sampe jadi contoh yang buruk.

Kedua kubu pun sebenarnya terbagi, ada yang ikut dalam keributan, ada juga yang berusaha melerai. Namun praktis setelah itu, suasana hangat yang muncul di awal laga sudah hilang.

Permainan kedua kubu memang masih terasa menarik, agresif dan berangsung dalam tempo cepat. Namun ketegangan pun juga terasa. Sebagai penonton netral, saya akhirnya jadi lebih menanti kondisi-kondisi aneh yang muncul di pertandingan tersebut. Padahal awalnya saya ingin melihat pertandingan berjalan dengan normal.

Situasi tak kondusif berlanjut hingga pertandingan usai. Atmosfernya sangat panas. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal, seperti para pemain Persija yang harus dilindungi tameng pasukan anti huru-hara hanya untuk sekedar masuk lapangan di babak kedua, keributan antar pemain yang muncul kembali setelah pertandingan selesai, hingga lemparan botol para suporter Persib yang kini tak bisa disebut sebagai oknum lagi mengingat jumlahnya yang banyak.

bolacom
Demi keselamatan jiwa dan bisa tiba di Jakarta dengan selamat.

Bahkan pertandingan pun berjalan dengan cukup keras. Tercatat ada 40 pelanggaran yang terjadi (15 oleh Persib, 25 oleh Persija) sepanjang laga, dengan 5 kartu kuning dan 1 kartu merah untuk gelandang Persija, Sandy Suta.

Untung saja para pemain masih bisa memberikan kita sedikit hiburan, terutama Andritany dengan 3 penyelamatan heroiknya yang membuat Persija bisa pulang dengan 1 poin setelah harus bermain dengan 10 orang (damn, he’s really good).

***

Potret yang disajikan dalam laga tersebut sebenarnya cukup disayangkan. Alasan bahwa laga tersebut adalah derby Indonesia, laga klasik, dan rivalitas kedua tim memang tinggi sehingga wajar bila keributan terjadi pun hanyalah pembenaran saja. Semua hal-hal yang tak kondusif itu sebenarnya bisa diatasi dari awal oleh semua pihak.

Panitia pelaksana pertandingan (Panpel) dan petugas keamanan di stadion GBLA bisa menjaga ketat agar botol minuman, flare, dan benda-benda lain yang berpotensi mengganggu keamanan dan kenyamanan tak bisa masuk stadion. Kondisi para pemain Persija yang masuk lapangan dengan perlindungan tameng pun sebenarnya bisa dihindari bila hal-hal ini dilakukan.

Wasit Aprisman Aranda pun diharapkan bisa lebih tegas lagi agar keributan antar pemain bisa direduksi. Bila ia bisa memberi kartu merah pada Sandy Suta, mengapa ia tak bisa memberi hukuman kartu pada Vladimir Vujovic dan Ismed Sofyan yang saling bersitegang, bahkan kontak fisik (meskipun sepele)?

Ia bahkan masih bisa memberi hukuman kartu saat keributan antar pemain di akhir pertandingan terjadi. Ketegasan sangat diperlukan agar para pemain tak mengulangi lagi hal yang serupa di lapangan.

Para pemain pun juga demikian. Mereka harus bisa menjaga kondisi kepala mereka tetap dingin di tengah-tengah situasi panas. Ismed, sebagai kapten dan pemain senior, harusnya juga bisa menahan emosinya, bukannya memilih ikut serta dalam keributan. Begitu juga dengan Vujovic yang berstatus pemain senior.

070114900_1500769237-_YT_5968__1_
Bobotoh jangan begini lagi ya.

Dan yang terakhir, para suporter Persib yang budiman (karena suporter Persija dihimbau tak datang, maka diasumsikan tak ada). Ingat-ingatlah kenapa kalian datang ke stadion. Ingin mencari onar atau mendukung tim kesayangan?

Seperti yang dikatakan manajer kalian, Persib mungkin akan terkena hukuman. Bila nanti terkena denda, tak merasa sayangkah kalian jika Persib harus mengeluarkan uang yang tak sedikit gara-gara ulah kalian?

Tak bisakah kalian menahan diri, apapun alasan yang membuat kalian marah? Bagaimana bila suatu waktu Persib ‘dihadiahi’ hukuman yang lebih berat, pertandingan kandang tanpa penonton atau partai usiran misalnya?

***

Kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak, terutama untuk kubu Persija yang akan menjadi tuan rumah saat melawan Persib di putaran kedua Liga 1. Khusus untuk The Jak yang baik, sebaiknya kalian mendengarkan ucapan idola kalian, Ramdani Lestaluhu.

“Suporter tak pantas seperti itu, harus dewasa. Harusnya mereka kasih dukungan pemainnya supaya timnya lebih bagus mainnya. Tidak lempar dan buat anarkistis. Menuju ruang ganti kami dikejar, bahkan teman kami dipukul. Untuk The Jakmania jadilah suporter kreatif jangan seperti suporter Persib,” ujarnya seperti dikutip dari Goal.

Ya, jangan sampai kalian melakukan hal yang sama, apalagi dengan alasan membalas kelakuan suporter Persib sewaktu Persija bermain di GBLA. Itu bodoh namanya. Lagipula Pak Gede Widiade selaku direktur Persija sudah menyatakan hal serupa, seperti dilansir di akun instagram Persija.

Memang, semuanya lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Namun bila serius dijalankan, maka ke depannya laga klasik ini bisa menjadi lebih kondusif. Atmosfer panas tentu masih akan tercipta dalam duel sekelas Persib-Persija, tapi cukup selama 90 menit saja, selesai di lapangan, dan tak perlu ditambahi bumbu kericuhan. Kalian ga capek ribut terus?

Di masa depan, masing-masing klub tentu juga ingin menjalankan duel klasik ini dengan rasa nyaman dan aman. Pemain tim tamu tak perlu lagi naik panser anoa untuk datang ke stadion, dan suporter tim tamu bisa bertandang ke kota Bandung atau Jakarta dengan aman tanpa takut dicegat di tengah jalan.

Semoga saja terjadi di masa depan, dalam waktu yang tak lama. Semoga rusuh-rusuh di sepakbola Indonesia juga semakin berkurang dari tahun ke tahun, biar liganya makin bagus.

Foto: bola.com, tribunnews

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s