6 Alasan Mengapa Kita Jangan Dulu Mengkritik Luis Milla & Timnas U-22

Seperti yang kita ketahui, timnas Indonesia U-22 ditargetkan untuk meraih medali emas di Sea Games 2017 dan menembus semifinal Asian Games 2018. Sebuah target yang besar dan cukup berat untuk diraih, mengingat timnas terakhir kali menjuarai Sea Games di tahun 1991 dan terakhir kali menembus semifinal Asian Games di tahun 1986.

Tingginya target tentu harus dibarengi dengan persiapan yang maksimal. PSSI pun berusaha melakukan tugasnya agar timnas bisa memenuhi dua target tersebut, bahkan sampai pada tahap yang membuat kita, para supoter Garuda Muda, mengernyitkan dahi.

Mulai dari penunjukkan Luis Milla sebagai pelatih timnas, aturan pembatasan usia pemain, hingga penangguhan aturan 3 pemain U-23 di Liga 1 selama sekitar dua bulan hanyalah contoh-contoh yang terlihat saja. Intinya, PSSI berusaha memfasilitasi timnas dengan sebaik mungkin agar bisa berprestasi.

Untuk persiapan Sea Games 2017, anak-anak asuh Luis Milla ini juga menjalani sejumlah pemusatan latihan semenjak Februari hingga Agustus nanti. Selain itu, mereka juga melakukan sejumlah partai uji coba, mulai dari yang berstatus international friendly match hingga partai biasa melawan tim-tim lokal.

timnas ligaolahraga
Luis Milla saat memimpin timnas di partai perdananya melawan Myanmar.

Nah, sebelum berangkat ke Kuala Lumpur, timnas terlebih dulu mengikuti kualifikasi Piala Asia U-23 2018 di Bangkok pada 19-23 Juli lalu. Bisa dibilang, kualifikasi tersebut adalah ujian sebenarnya bagi skuad Garuda Muda sebelum bertarung di Sea Games. Level pertandingan sudah meningkat, karena memperebutkan slot untuk berlaga di Piala Asia U-23, bukan sekedar partai ‘hura-hura’.

Namun ternyata hasil di Bangkok jauh dari harapan. Indonesia gagal lolos ke Tiongkok karena hanya menempati peringkat tiga klasemen, unggul di atas Mongolia, namun dibawah Malaysia dan Thailand. Bahkan kita gagal mengalahkan dua lawan yang disebut terakhir (kalah 3-0 dari Malaysia dan seri 0-0 dengan Thailand), padahal mereka-lah lawan kita di Sea Games nanti.

Hasil ini memang tak mempengaruhi dukungan suporter kepada timnas, namun kritik pun juga muncul kembali, dan tentu mengarah pada Senor Milla. Apalagi sebelumya timnas juga meraih hasil yang tak begitu memuaskan.

3 partai internasional sebelum kualifikasi Piala Asia U-23 dilalui dengan sekali menang (melawan Kamboja), sekali seri (melawan Puerto Rico), dan sekali kalah (melawan Myanmar).Bahkan, bila dilihat lagi, Milla benar-benar memakai susunan pemain yang murni berisi skuad timnas U-22 (tanpa pemain timnas senior) hanya saat kalah dari Myanmar.

timnas tirto
Saat melawan Puerto Rico, 5 pemain senior dipanggil untuk membantu permainan timas U-22, termasuk Irfan Bachdim dan Stefano Lilipaly.

Ini artinya, selama 4 kali timnas U-22 bertanding melawan negara lain (Myanmar dan 3 partai kualifikasi Piala Asia U-23), timnas hanya menang sekali (7-0 melawan Mongolia).

Kritik yang dilancarkan pun beragam, biasanya terkait pemilihan pemain, strategi, dan taktik. Namun hal ini menimbulkan pertanyaan kembali : sudah pantaskah kita mengkritik timnas U-22 saat ini? Apakah waktunya sudah tepat untuk mengevaluasi kinerja Senor Milla?

Pada acara Forum Diskusi Bola bertema ‘Evaluasi Timnas U-22 & Peluang Di Sea Games 2017’ yang diselenggarakan di Jakarta pada 26 Juli lalu (3 hari setelah tersingkirnya timnas U-22), tim Tabloid BOLA selaku penyelenggara mengundang Yeyen Tumena (mantan pemain timnas), Endri Erawan (manajer timnas U-22), Fanny Riawan (wakil ketua departemen timnas), dan tim statistik dari Labbola.

Untitled
Pak Fanny, Mas Uzie (Labbola), Bang Yeyen, dan Pak Endri. Berbicara tentang timnas bersama para pakar memang lebih menyenangkan.

Dalam diskusi tersebut, saya tertarik dengan kesimpulan Yeyen yang mengatakan bahwa Luis Milla selaku pelatih kepala dan juga penampilan timnas U-22 secara keseluruhan belum perlu dievaluasi saat ini. Ia pun mengungkapkan alasan-alasannya. Poin-poin dibawah ini merupakan hasil catatan saya dari hasil pemaparannya.

  1. Piala Asia U-23 Bukanlah Target Utama

Kita semua tahu bahwa Senor Milla hanya diberikan target di Sea Games 2017 dan Asian Games 2018. Meskipun terdengar aneh karena Piala Asia U-23 adalah agenda AFC dan FIFA sedangkan dua lainnya bukan, namun itulah kenyataannya.

Jadi, melihat timnas gagal lolos ke Piala Asia U-23 tak berarti Milla gagal. Kita baru bisa men-judge Milla minimal setelah Sea Games usai. Biarkan dia bekerja dahulu.

timnas juara2
Mereka memang tak ditargetkan lolos, meski tersingkir pun terasa menyakitkan.

 

  1. Milla Masih Perlu Adaptasi

Pindah ke tempat yang baru tentu perlu penyesuaian diri. Hal ini berlaku untuk semua orang, termasuk Milla. Ia harus beradaptasi mulai dari hal-hal yang terkait dirinya, seperti lingkungan baru, orang-orang baru di sekitarnya, sampai mungkin makanan. Kemudian berlanjut pada pekerjaannya sebagai pelatih. Ia harus beradaptasi lagi dengan karakter bermain dan filosofi sepakbola Indonesia yang pastinya berbeda dengan di Eropa sana.

Ia baru menjalankan 6 bulan masa kepelatihannya. Dalam waktu yang singkat, ia dibebankan target tinggi. Jika melihat bagaimana timnas U-22 bermain melawan Mongolia, Thailand (di tengah guyuran hujan), dan Malaysia (babak kedua saja), kita tentu cukup setuju bahwa permainan timnas tidak buruk-buruk amat.

Selain itu, penampilan timnas U-22 di kualifikasi Piala Asia U-23 jauh lebih baik ketimbang saat pertama kali melawan Myanmar dulu. Ini artinya ada perbaikan yang dilakukan Milla. Ia sedang berusaha keras untuk membentuk timnas yang nantinya bisa bertarung di Sea Games.

  1. Program Latihan Yang Terus Berubah

Tahukah kalian bahwa Milla mengubah program latihan timnas U-22 sampai 4 kali? Itulah yang diketahui Yeyen setelah berdiskusi dengan Miguel Gandia, asisten Milla. Menurutnya, mengubah program latihan berarti mengubah semua aspek yang ada dalam tim, dan itulah hambatan yang dihadapi Milla.

timnas boladotnet
Mereka sempat berencana latihan ke Spanyol, namun akhirnya ke Bali.

Hal ini disebabkan persiapan timnas U-22 yang tak berjalan sesuai rencana awal, seperti batalnya melakukan pemusatan latihan di Spanyol dan batalnya timnas U-22 mengkuti Islamic Solidarity Games. Bahkan Milla pun harus menyesuaikan latihan saat bulan Ramadhan tiba, dimana kondisi ini mungkin tak pernah dia alami sewaktu di Spanyol.

Dengan segala hambatan yang ia temui, ia tetap bekerja keras agar timnya bisa menjalankan gaya sepakbola yang ia inginkan.

  1. Uji Coba Yang Tergolong Minim

Jika mengikuti kalender FIFA matchday, jeda internasional yang ada memang tidak banyak untuk memberikan Milla kesempatan menguji gaya bermainnya. Praktis ia hanya punya 3 partai international friendly match dan beberapa kali uji coba dengan tim lokal. Untung saja masih ada kualifikasi Piala Asia U-23 yang levelnya tinggi, sehingga waktu bermain anak-anak asuhnya tidak terlalu sedikit.

Kurangnya uji coba ini berdampak pada sedikitnya waktu yang dipunyai Milla untuk menemukan pemain-pemain yang pas untuk menjalankan strateginya.

Untuk hal yang satu ini, saya merasa para pemain timnas U-22 harusnya diberikan waktu bermain lebih banyak di liga. Jika kita perhatikan selama fase putaran pertama Liga 1, para pemain timnas U-22 lebih sering mengikuti pemusatan latihan ketimbang menguji dirinya di kompetisi, padahal di kompetisi-lah tempat yang tepat untuk menguji kemampuan.

timnas juaradotnet
Dengan 6 bulan waktu persiapan, wajar bila jadwal uji coba internasional yang tersedia minim.

Hanya saja, kita perlu ingat bahwa timnas kelompok umur Indonesia sedari dulu memang terbiasa melakukan pemusatan latihan ketimbang menguji kemampuan para pemainnya di kompetisi.

Maklum saja, kompetisi usia muda di negara kita belum sestabil negara-negara lain dan klub-klub lokal pun masih sedikit memercayakan para pemain muda. Tahun ini saja hal tersebut baru terjadi karena pemaksaan aturan.

  1. Milla Belum Menemukan Formula Terbaik

Sebagaimana kita lihat di kualifikasi Piala Asia U-23, Milla masih sering melakukan rotasi. Ini bisa disebabkan ia memang ingin menjaga kondisi para pemainnya dari kelelahan, atau memang masih mencari-cari siapa yang dianggap terbaik untuk mengisi posisi starting eleven.

Dua teori tersebut  berlaku karena jadwal antar pertandingan Sea Games yang padat (Milla dan timnya mengeluhkan jadwal yang sepadat itu) dan sejauh ini permainan timnas masih belum begitu meyakinkan, sehingga wajar rotasi dilakukan.

timnas kompas
Di Piala Asia U-23, starting line-up pun selalu berubah-ubah.

 

Sebagai pelatih, Milla pun juga terus memperbaiki kesalahan yang ia lakukan dari pertandingan-pertandingan sebelumnya. Hal yang tak berjalan sesuai rencana ia evaluasi lagi.

Yeyen juga menanggapi kritikan suporter timnas yang mempertanyakan keputusan Milla mencadangkan Evan Dimas dan Hansamu Yama saat melawan Malaysia.

‘Itu haknya pelatih. Mungkin saat itu, dia tidak melihat dua pemain ini punya kondisi yang lebih baik. Karena dia yang ada setiap hari di lapangan. Kita hanya liat diluar, oh Hansamu Yama (bagus), dan semacamnya.’ Ya, pada intinya, pelatih lebih tahu ketimbang kita, para suporter timnas.

  1. Aturan Pemakaian 3 Pemain U-23 Yang Belum Efektif

Aturan tersebut dimaksudkan agar pemain-pemain muda punya banyak kesempatan menunjukkan kemampuannya. Namun sebagian besar pemain muda diturunkan oleh klub masing-masing karena difasilitasi regulasi, bukan karena kemampuan mereka. Menurut Yeyen, hal ini menyebabkan terjadinya penurunan level kompetisi.

‘Dengan menurunkan 3 orang (pemain U-23) wajib (dimainkan), kita juga menurunkan level kompetisi (liga 1). Sementara, kompetisi itu tujuannya adalah tim nasional. Maka, kalau level kompetisi kita diturunkan, maka level tim nasional kita juga turun. Secara kita sadari atau tidak, itu akan otomatis (berlaku).’

Berdasarkan penilaian tersebut, mungkin aturan pemakaian pemain U-23 yang cenderung dipaksakan ini akan dievaluasi lagi untuk Liga 1 musim depan. Apalagi bila ternyata timnas gagal meraih medali emas Sea Games 2017.

***

Selain faktor-faktor di atas, Yeyen juga menyarankan bahwa sebaiknya Milla menitipkan asisten-asistennya di timnas kategori umur yang ada di bawah untuk membantu para pelatih utama (Indra Sjafri di U-19 dan Fachry Husaini di U-16). Tujuannya adalah agar filosofi bermain timnas-timnas junior lainnya tidak berbeda jauh dengan para seniornya.

Dengan demikian, para pemain dari kelompok umur yang lebih muda tidak bingung dengan perbedaan filosofi bermain saat dipanggil ke timnas yang lebih senior karena sudah diajarkan terlebih dahulu. Hal ini pun jadi memudahkan para pemain untuk beradaptasi dan memudahkan kerja pelatih juga karena para pemainnya tidak merasa asing dengan pola latihannya.

***

Begitulah hasil diskusinya. Saya pun setuju dengan pemikiran Yeyen. Sebagai orang yang dekat dengan timnas dan pernah melihat dari dalam seperti apa kondisi timnas U-22 saat ini, ucapannya tentu perlu dipertimbangkan dengan baik.

Saat ini kita hanya bisa mendukung timnas dan menunggu hasil kerja Milla dan para stafnya, sejauh apa ia akan membawa timnas U-22 di Sea Games pada Agustus nanti. Masih ada waktu sampai pertandingan pertama melawan Thailand (12 Agustus 2017), biarkan ia meracik strateginya.

Yakinkan saja, Milla adalah orang yang berpengalaman. Ia tahu apa yang sedang ia lakukan. Ia mengerti dimana error yang ia hasilkan dan bagaimana cara memperbaikinya. Mengingat segala kekurangan yang ia hadapi, apa yang ia lakukan sejauh ini sudah bagus.

 

Foto : adhi prasetya, ligaolahraga.net, juara.net, kompas, viva, tirto, bola.net

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s