Mengenal Antonio Conte

Nama Antonio Conte sedang menjadi pusat perhatian di kancah sepakbola Inggris. Di musim pertama kedatangannya ke Inggris, Chelsea yang sebelumnya mengakhiri musim di posisi 10 liga berhasil dibawanya menjadi kampiun Inggris untuk ke-6 kalinya. Tak hanya itu, The Blues pun masih bisa meraih Piala FA jika pada 27 Mei nanti bisa mengalahkan Arsenal di final.

Conte pun kini berkesempatan menyejajarkan diri dengan para pendahulunya, Jose Mourinho dan Carlo Ancelotti, yang berhasil meraih double winners di musim pertama mereka melatih Chelsea.

Pada kesempatan ini, mari kita mengenal secara singkat perjalanan pelatih berusia 47 tahun ini di dunia sepakbola, dunia yang membuatnya terkenal di seluruh dunia.

Karir bermain yang merangkak dari bawah

Perjalanan Conte menjadi pemain hebat tidaklah semulus yang diperkirakan. Di tahun 1986, pada usia 16 tahun, ia menjalani debut profesionalnya bersama klub kota asalnya, Lecce. Di usianya yang masih muda, ia sudah menunjukkan bakatnya meski masih jarang dimainkan di tim utama. Namun, setahun setelah debutnya, ia mengalami cedera patah kaki yang hampir saja mengakhiri karirnya.

Untung saja ia berhasil sembuh dan kembali bermain di musim 1988-89, saat Lecce promosi ke Serie A. Ia berhasil menunjukkan kehebatannya di lapangan tengah di usia yang masih muda. Waktu bermain yang banyak pun ia dapatkan selama 3 musim beruntun bermain di Serie A bersama Lecce.

Antonio_Conte,_Lecce
Saat masih bermain di Lecce.

Penampilannya di Lecce pun berhasil memikat Giovanni Trappatoni, allenatore Juventus kala itu. Ia pun pindah ke Turin pada tahun 1991. Bergabung dengan Juve di usia 21 tahun memberikan perasaan senang yang luar biasa bagi Conte.

“Ada Trappatoni yang hebat. Lalu ada Roberto Baggio. Aku sangat emosional. Aku adalah seorang pemain sekaligus penggemar kala itu,” ujar Conte mengakui.

Bersama Trappatoni, tak butuh waktu lama baginya menyegel posisi gelandang tengah di tim utama Juve. Namun kedatangan Marcello Lippi tahun 1994-lah yang benar-benar mengubah Conte. Pada masa kepelatihan Lippi, ia benar-benar menjadi gelandang box-to-box dengan etos kerja dan stamina yang luar biasa.

58e8b9ec3a29baade200001c
Conte (lingkaran merah) saat menjuarai Liga Champions tahun 1996.

Bahkan di tahun 1996, ia diangkat oleh Lippi menjadi kapten tim Bianconeri selepas kepergian Gianluca Vialli, sebelum digantikan oleh Alessandro Del Piero di tahun 2001, juga atas keputusan Lippi. Selama 13 tahun berkarir di Juve, ia memenangkan 5 gelar Serie A, 1 Coppa italia, 1 Piala UEFA, dan 1 Liga Champions.

Sayangnya, kehebatannya di klub tak menjamin dirinya masuk ke dalam skuad tim nasional Italia. Cedera dan bejubelnya pemain-pemain tengah hebat di Italia kala itu membuat ia seringkali terpinggirkan. Memulai debut di tahun 1994, ia hanya mengoleksi 20 caps dan 2 gol sampai terakhir kali membela timnas di tahun 2000. Ia pun hanya terlibat di dua turnamen, yaitu Piala Dunia 1994 dan Euro 2000, dimana Gli Azzurri menjadi runner-up di kedua turnamen tersebut.

Karir melatihnya pun juga melalui jalan terjal

Pada 2005, setahun setelah ia pensiun, Conte memulai karir kepelatihannya dengan menjadi asisten Luigi De Canio yang kala itu melatih Siena. Di tahun 2006, ia pun menerima tawaran melatih Arezzo yang berlaga di Serie B. Namun karirnya di Arezzo tak berjlan mulus. Ia dipecat pada Oktober 2006 setelah melewati 9 laga tanpa kemenangan.

Namun di bulan Maret 2007 ia kembali di rekrut Arezzo karena penggantinya, Maurizio Sarri, justru membuat kondisi Arezzo makin parah di klasemen. Meskipun Conte sudah kembali, namun Arezzo akhirnya tetap terdegradasi ke Serie C1 dan ia pun meninggalkan jabatannya.

Artikel terkait : Saat Pelatih-Pelatih Italia Menguasai Eropa

Kesempatan untuk Conte datang lagi di tahun yang sama. Ia menerima pekerjaan untuk melatih Bari. Tugasnya kala itu sederhana, yaitu membawa klub berlogo kepala ayam itu bertahan di Serie B 2007/08. Ia pun berhasil melakukannya, bahkan ia membawa Bari juara Serie B dan promosi ke Serie A di musim berikutnya.

Namun ia melakukan debut manajerialnya di Serie A 2009-10 justru bukan bersama Bari, melainkan Atalanta. Ia mengundurkan diri dari Bari pada musim panas 2009 akibat tidak sevisi dengan manajemen. Ia pun direkrut Atalanta pada Sepetember 2009.

conte-bari
Di Bari, Conte meraih gelar manajerial pertamanya.

Sayangnya, karirnya di Atalanta tak berjalan baik. Ia hanya bertahan 14 partai disana dan mengundurkan diri pada awal 2010, dengan Atalanta menempati posisi 19. Ia pun baru melatih lagi di musim panas 2010, tepatnya kembali ke Siena yang berlaga di Serie B. Kali ini, ia melakukan tugasnya dengan baik. Siena menempati posisi kedua klasemen akhir dan meraih promosi ke Serie A.

Hasil ini membuatnya kembali direkrut oleh mantan klubnya, Juventus, yang sedang ingin memperbaiki prestasi klub yang sedang menurun. Juve sudah memakai 4 pelatih sejak kembali ke Serie A tahun 2007, namun belum meraih satu pun trofi. Datangnya Conte diharapkan bisa mengubah nasib itu.

“Ia adalah kepingan puzzle pertama yang dibutuhkan Juve untuk kembali ke jalur kemenangan,” ujar presiden Juventus, Andrea Agnelli, terkait penunjukkan Conte.

“Ia mengumpulkan semua orang di gym lalu memperkenalkan dirinya. Lalu ia berkata ‘Bung, kita finish di posisi ke tujuh dalam dua musim terakhir. Ini gila, benar-benar mengerikan. Aku datang ke sini bukan untuk mengulangi hal yang sama’,” tulis Andrea Pirlo mengenai Conte dalam buku autobiografinya.

conte
Menurut Pirlo, Conte sudah biasa melempar botol minum dalam ruang ganti.

Pirlo juga menceritakan tentang temperamen Conte, yang tetap saja tak tertahankan, bahkan ketika Juventus unggul. “Dia alergi dengan kesalahan,” tulis Pirlo di bab yang sama.

Pendekatannya yang penuh semangat, yang mengerti betul tentang arti membela Juventus, berhasil memberikan efek positif. Di musim 2011/12, musim pertama Conte, Juve berhasil meraih scudetto Serie A tanpa terkalahkan sekalipun. Ia pun kembali meraih gelar Serie A di dua musim berikutnya, plus 2 Piala Super Italia.

Selama menangani Juve, ada saat dimana ia harus menjalani 4 bulan larangan mendampingi Juve saat bertanding di musim 2012/13 akibat ia mengetahui adanya match fixing yang melibatkan Siena saat masih melatih di sana, namun tak melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Meski demikian, Conte masih bisa melatih timnya dan sesekali ‘berhasil’ masuk ke ruang ganti saat pertandingan.

Hanya saja, ada sedikit rapor merah saat ia melatih Juve, yaitu sulit bersaing di kompetisi Eropa. Pada musim panas 2014 pun ia mengundurkan diri, dengan alasan sulit untuk membawa Juve ke level kompetitif di Eropa bila tak dibekali dana yang melimpah untuk membangun tim.

“Kamu tak bisa masuk ke restoran yang makanannya seharga 100 Euro bila kamu hanya punya 10 Euro di kantong, kan?” ujar Conte kala itu.

conte azzurri
Conte di Euro 2016, mampu meredam Belgia, Spanyol, dan Jerman.

Pada musim panas yang sama, akhirnya ia menerima tawaran melatih timnas Italia. Bisa dibilang, melatih timnas tak akan terganggu dengan masalah transfer pemain. Ia pun bisa memilih pemain timnas sesuai dengan kebutuhannya, meski di masanya Gli Azzurri dianggap oleh masyarakat tak lagi sehebat generasi-generasi sebelumnya.

Namun dengan taktik yang tepat, latihan yang keras, ditambah pertahanan hebat Italia yang dipimpin oleh pemain-pemain Juventus yang pernah dilatihnya (Buffon, Barzagli, Bonucci, dan Chiellini), Italia berhasil melaju hingga perempat final Euro 2016, hanya kalah adu penalti dari Jerman.

Setelah Euro 2016, Conte langsung memulai perjalanannya melatih Chelsea. Di konferensi pers pertamanya, ia menyebut kata ‘work’ hingga sebanyak 32 kali, seolah mengingatkan pemain-pemainnya, untuk apa mereka berada di Chelsea.

Meskipun sempat mengalami awal yang tak begitu baik di 6 partai pertama Premier League, perubahan taktik yang ia lakukan setelah menelan kekalahan 0-3 dari Arsenal membuahkan hasil yang luar biasa. Formasi 3-4-3 yang ia pakai ternyata ampuh dan sempat merasakan 13 kemenangan beruntun.

Pada pekan 36 akhirnya Conte resmi membawa Chelsea meraih gelar Premier League musim ini, serta membuat rekor di akhir musim sebagai tim pertama di Premier League yang mampu mencetak 30 kemenangan dalam semusim.

“Aku pikir pencapaian ini (gelar Premier League) adalah prestasi yang hebat untuk para pemain. Aku harus mengucapkan terima kasih untuk komitmen mereka, untuk kerja keras mereka,” ujar Conte.

Selama di Chelsea, kabarnya Conte memiliki tempat tidur di ruang kerjanya. Hal ini seperti menunjukkan seberapa gilanya etos kerja Conte sebagai seorang pelatih. Namun kerja kerasnya itu membuahkan hasil yang luar biasa. Tak heran jika Chelsea mencetak gol, ia begitu bersemangat merayakannya. Pengorbanannya untuk sampai tidur di kantor dan rela tinggal berjauhan dengan istri dan anak terbayar lunas.

Chelsea-manager-Antonio-Conte-celebrates-with-the-trophy-after-winning-the-Premier-League
Di Premier League, ia mengalahkan Pochettino, Mourinho, Wenger, Klopp, hingga Guardiola dalam perburuan gelar juara.

“Aku tahu bahwa ia pelatih yang bagus, namun aku tak menyangka ia sebagus ini,” ujar Pirlo tentang Conte dalam autobiografinya. Sebuah pernyataan yang pasti diamini seluruh pemain dan pendukung Chelsea musim ini.

***

Kini, tantangan baru akan dihadapi Conte. Di musim panas ini ia harus membangun kembali timnya agar kembali bisa bersaing musim depan. Pemain-pemain yang datang harus mampu menggantikan yang pergi, bahkan menjadi lebih baik. Apalagi jadwal Chelsea yang dianggapnya padat musim ini akan semakin padat dengan keikutsertaan mereka di Liga Champions musim depan.

Oleh karena itu, banyak yang menganggap bahwa musim depan akan menjadi pembuktian apakah kerja keras Conte masih bisa membawa Chelsea melaju pesat meninggalkan lawan-lawannya. Kita tunggu saja.

Images : sky sports, wikipedia, espnfc, calcioitaliaweb, 90min.in, punditarena, mirror

Advertisements

2 thoughts on “Mengenal Antonio Conte

    1. Waktu neliti juga saya kaget mas, beneran nih? Hahaha. Tp waktu itu mereka blm naik kelas seperti skrg mas.

      Bukunya Pirlo menurut saya bagus karena dia berbagi pandangan tentang suatu masalah jg, jadi bukan sekedar diary aja. Singkat padat sih mas bukunya hehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s